Audit Keuangan Internal dan Pemerintah dan Audit Operasional

A.    Audit Keuangan Internal

Perusahaan mempekerjakan auditor internal untuk melakukan audit keuangan maupun operasional. Selama dua dekade terakhir, peranan auditor internal meluas secara dramatis, terutama karena peningkatan ukuran dan kompleksitas perusahaan. Oleh karena auditor internal menghabiskan waktu mereka dalam satu perusahaan, maka mereka tahu lebih banyak mengenai operasional perusahaan dan pengendalian internal dibandingkan auditor eksternal. Pengetahuan ini sangat penting bagi tata kelola perusahaan yang efektif.

Rerangka praktik Lembaga Auditor Internal profesional memberikan definisi audit internal sebagai berikut: audit internal adalah suatu aktivitas assurance dan konsultasi yang independen dan objektif yang didesain untuk menambah nilai dan meningkatkan operasional perusahaan. Audit internal membantu perusahaan mencapai tujuannya dengan pendekatan yang sistematis dan ketat agar dapat melakukan evaluasi dan peningkatan efektivitas terhadap manajemen risiko, pengendalian, dan proses tata kelola.

Definisi ini mencerminkan adanya perubahan peran auditor internal. Mereka diharapkan dapat menambah nilai suatu organisasi melalui peningkatan efektivitas operasional sekaligus menjalankan tanggung jawab yang biasanya dilakukan, misalnya:

  1. Menelaah reliabilitas dan integritas informasi
  2. Memastikan kepatuhan atas kebijakan dan regulasi
  3. Menjaga aset

Tujuan auditor internal yang lebih luas dari auditor eksternal tersebut memberikan fleksibilitas bagi auditor internal untuk memenuhi kebutuhan perusahaan mereka. Pada satu perusahaan, seorang auditor internal dapat berfokus hanya pada pendokumentasian dan pengujian pengendalian untuk persyaratan. Pada perusahaan lain, auditor internal dapat memiliki fungsi utama sebagai konsultan, hanya berfokus pada rekomendasi yang meningkatkan kinerja organisasi. Auditor internal tidak hanya berfokus pada area yang berbeda, tetapi tingkat audit internal pun dapat bervariasi dari satu perusahaan dengan perusahaan yang lain. Laporan audit internal tidak distandardisasi karena kebutuhan pelaporan dapat bervariasi di setiap perusahaan dan laporan tidak bergantung pada pengguna eksternal.

Lembaga Auditor Eksternal

Pedoman profesional bagi auditor internal dibuat oleh Institute of Internal Auditor (IIA), sebuah organisasi yang mirip dengan AICPA yang menetapkan standar etika dan praktik, memberikan pendidikan, dan mendorong profesionalisme bagi sekitar 120.000 anggotanya di seluruh dunia. IIA berperan utama dalam peningkatan pengaruh audit internal. Misalnya, IIA telah menetapkan program sertifikasi untuk menjadi Certified Internal Auditor (CIA) bagi mereka yang memenuhi persyaratan pengujian dan pengalaman tertentu. Rerangka praktik profesional dalam IIA meliputi kode etik dan Standar Internasional untuk Praktik Profesional Audit Internal IIA (dikenal sebagai “Buku Merah”). Semua anggota IIA dan auditor internal bersertifikat setuju untuk mengikuti kode etik lembaga, yang disyaratkan sesuai dengan standar.

Standar Internasional untuk Praktik Profesional Audit Internal dibagi menjadi standar atribut untuk auditor internal dan departemen audit, dan standar kinerja untuk aktivitas penugasan dan pelaporan audit internal. IIA membuat standar tertentu dalam setiap kategori. Misalnya, Standar Atribut 1100 pada Independensi dan Objektivitas, meliputi Standar individual untuk mencapai independensi organisasi (1110), objektivitas individual (1120), dan penurunan nilai atas independensi dan objektivitas (1130)

Selain itu, IIA juga mengembangkan standar implementasi khusus untuk penugasan assurance dan konsultasi. Misalnya, implementasi standar 1110.A1 memberikan panduan untuk menerapkan Standar Atribut 1110 atas independensi organisasi untuk penugasan assurance, yang menyatakan bahwa aktivitas audit internal harus bebas dari campur tangan dalam menentukan ruang lingkup audit internal, menjalankan penugasan, dan mengkomunikasikan hasilnya.

Hubungan Antara Auditor Internal dan Eksternal

Tanggung jawab dan pelaksanaan audit oleh auditor internal dan eksternal sangat berbeda dalam satu hal. Auditor internal bertanggung jawab kepada manajemen dan dewan direksi, sementara auditor eksternal bertanggung jawab kepada pengguna laporan keuangan yang mengandalkan kredibilitas laporan keuangan pada auditor. Namun auditor internal dan eksternal memiliki banyak kesamaan, seperti:

  • Keduanya harus kompeten sebagai auditor dan tetap objektif dalam menjalankan pekerjaan dan melaporkan hasilnya
  • Keduanya menjalankan metodologi yang sama dalam menjalankan audit, termasuk merencanakan dan menjalankan pengujian pengendalian dan pengujian substantif
  • Keduanya mempertimbangkan risiko dan materialitas dalam memutuskan perluasan pengujian dan mengevaluasi hasilnya. Keputusan mereka atas materialitas dan risiko mungkin berbeda karena pengguna eksternal dapat memiliki perbedaan kebutuhan dengan manajemen atau dewan direksi

Auditor eksternal bergantung pada auditor internal saat menggunakan model risiko audit untuk menilai risiko pengendalian. Jika auditor internal bekerja secara efektif, maka auditor eksternal dapat mengurangi risiko pengendalian secara signifikan dan mengurangi pengujian substantif. Akibatnya tagihan atas pembiayaan audit eksternal akan berkurang secara substansial bila klien menjalankan fungsi audit internalnya dengan baik. Auditor eksternal biasanya menganggap auditor internal bekerja efektif bila:

  • Independen dari unit operasi yang dievaluasinya
  • Kompeten dan telah mendapatkan pelatihan memadai
  • Melakukan pengujian audit secara relevan atas pengendalian internal dan laporam keuangan

PSA 33 (SA 332) juga memperbolehkan auditor eksternal memanfaatkan auditor internal untuk membantu langsung pelaksanaan audit. Dengan mengandalkan staf auditor internal dalam melakukan beberapa pengujian audit, auditor eksternal dapat menghemat waktu dan biaya dalam menyelesaikan auditnya. Jika auditor internal memberikan bantuan langsung, maka auditor eksternal harus menilai kompetensi dan objektivitas mereka serta mengawasi dan mengevaluasi pekerjaan mereka

B.     Audit Operasional

Di luar kegiatan audit keuangan, auditor internal, auditor pemerintah, dan akuntan publik juga melakukan audit operasional, yang berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas organisasi. Beberapa auditor lain menggunakan istilah audit manajemen atau audit kinerja, bukan audit operasional, sementara juga ada yang tidak memisahkan antara istilah audit kinerja, audit manajemen, dan audit operasional serta menggunakan istilah tersebut bergantian

Istilah audit operasional digunakan selama tujuan pengujian yang dilakukan adalah untuk menentukan efektivitas dan efisiensi dari unit-unit organisasi. Pengujian efektivitas pengendalian internal oleh auditor internal dapat dianggap sebagai bagian dari audit operasional, jika tujuannya adalah untuk membantu perusahaan mengoperasikan bisnis secara lebih efektif atau efisien. Audit operasional bisa saja bertujuan untuk menentukan apakah suatu perusahaan memiliki personel yang memadai dalam lini perakitan, jika tujuannya untuk menentukan efektivitas dan efisiensi perusahaan dalam memproduksi produknya.

Perbedaan Antara Audit Operasional dan Audit Keuangan

Terdapat tiga perbedaan utama antara audit operasional dan audit keuangan, yaitu:

1.      Tujuan Audit

Audit keuangan menekankan pada ketepatan pencatatan informasi historis, sedangkan audit operasional menekankan pada efektivitas dan efisiensi. Audit keuangan berorientasi pada masa lampau, sementara audit operasional berfokus pada peningkatan kinerja masa depan. Seorang auditor operasional, misalnya, dapat mengevaluasi apakah jenis baru bahan baku dibeli pada harga terendah untuk menghemat uang dalam pembelian bahan baku berikutnya.

2.      Distribusi Laporan

Laporan audit keuangan biasanya didistribusikan kepada pengguna laporan keuangan eksternal, misalnya pemegang saham dan pihak bank, sedangkan laporan audit operasional ditujukan terutama kepada manajemen. Distribusi laporan audit eksternal yang luas memerlukan struktur dan penyusunan kata-kata yang sangat baik. Distribusi terbatas laporan operasional audit dan perbedaan sifat audit untuk efisiensi dan efektivitas menghasilkan laporan audit yang berbeda antara suatu audit dan audit lainnya.

3.      Area Non Keuangan

Audit keuangan terbatas hanya pada hal-hal yang langsung mempengaruhi kewajaran laporan keuangan, sedangkan audit operasional meliputi aspek efektivitas dan efisiensi dalam organisasi. Misalnya, audit operasional dapat ditujukan untuk efektivitas program periklanan atau efisiensi pekerja pabrik

Efektivitas Versus Efisiensi

Sebelum audit operasional dilakukan, auditor harus menentukan kriteria khusus untuk mengukur efektivitas dan efisiensi. Pada umumnya, efektivitas merujuk pada terpenuhinya suatu tujuan, misalnya memproduksi suku cadang tanpa kesalahan. Efisiensi merujuk pada penentuan kecukupan sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, seperti menentukan apakah suku cadang diproduksi pada biaya minimum.

Efektivitas. Dalam audit operasional untuk efektivitas, seorang auditor misalnya, mungkin perlu menilai apakah seorang agen pemerintah memenuhi tujuan penugasannya untuk menguji keamanan tangga berjalan untuk suatu kota. Untuk menentukan efektivitas kinerja agen tersebut, auditor harus menentukan kriteria tertentu untuk keamanan tangga berjalan. Misalnya, apakah tujuan agen untuk menginspeksi seluruh tangga berjalan dalam kota tersebut harus dilakukan setahun sekali? Apakah tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada akibat fatal jika terdapat kerusakan tangga berjalan, atau apakah tidak ada kerusakan sama sekali?

Efisiensi.Misalnya terdapat dua proses produksi dengan kualitas yang sama, maka proses dengan biaya lebih rendah akan lebih efisien. Audit operasional biasanya menemukan beberapa jenis inefisiensi tertentu.

Hubungan Antara Audit Operasional dan Pengendalian Internal

Manajemen melakukan pengendalian internal untuk membantu pencapaian tujuannya. Terdapat tiga hal penting untuk mencapai pengendalian internal yang efektif, yaitu:

  • Keandalan pelaporan keuangan
  • Efektivitas dan efisiensi operasi
  • Kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku

Hal kedua di atas berkaitan langsung dengan audit operasional, tetapi dua hal lainnya berkaitan dengan efisiensi dan operasi. Misalnya, manajemen memerlukan informasi akuntansi biaya yang handal untuk memutuskan jenis dan harga jual produk yang dilanjutkan produksinya. Sama halnya dengan ketidaktaatan pada hukum yang berlaku, yang akan mengakibatkan perusahaan dikenakan denda.

Terdapat dua hal yang membedakan evaluasi pengendalian internal dan pengujian audit keuangan dan operasional, yaitu:

1.      Tujuan

Tujuan audit operasional atas pengendalian internal adalah untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi dan membuat rekomendasi kepada manajemen. Sebaliknya, evaluasi pengendalian internal untuk audit keuangan memiliki dua tujuan utama yaitu untuk menentukan luasnya pengujian audit substantif yang diperlukan dan melaporkan efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan untuk perusahaan publik.

Baik dalam audit keuangan dan operasional, auditor dapat mengevaluasi prosedur pengendalian dengan cara yang sama, tapi dengan tujuan yang berbeda. Auditor operasional dapat menguji efektivitas prosedur verifikasi internal untuk duplikasi faktur penjualan guna memastikan bahwa perusahaan tidak merugikan konsumen dan juga untuk melakukan penagihan atas seluruh piutang. Auditor keuangan juga melakukan pengujian pengendalian internal yang sama, tetapi tujuan utamanya adalah mengurangi konfirmasi atas piutang dagang atau pengujian substantif lainnya (tujuan kedua atas audit keuangan adalah untuk membuat rekomendasi operasional kepada manajemen)

 2.      Ruang Lingkup

Ruang lingkup audit operasional ditujukan pada seluruh pengendalian yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi, sedangkan ruang lingkup evaluasi pengendalian internal untuk audit keuangan dibatasi pada efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan dan dampaknya atas kewajaran penyajian laporan keuangan. Misalnya, audit operasional dapat berfokus pada kebijakan dan prosedur yang dilakukan oleh departemen pemasaran untuk menentukan efektivitas katalog dalam pemasaran produk.

Jenis Audit Operasional

Audit operasional terdiri atas tiga kategori utama, yaitu:

1.      Audit Fungsional

Yang dimaksud denga fungsional adalah kategori aktivitas dalam suatu bisnis, misalnya fungsi penagihan atau fungsi produksi. Fungsi dapat dikategorikan dan dibagi dalam banyak cara. Misalnya, fungsi akuntansi dapat dibagi menjadi fungsi pengeluaran kas, penerimaan kas, dan penggajian. Fungsi penggajian dapat dibagi menjadi menjadi fungsi penetapan karyawan, pencatatan waktu, dan pembayaran gaji. Audit fungsional mengurusi satu atau lebih fungsi dalam suatu organisasi, misalnya mengenai efektivitas dan efisiensi fungsi penggajian untuk suatu divisi atau organisasi secara keseluruhan.

Audit fungsional memiliki keuntungan bagi auditor untuk melakukan spesialisasi. Auditor tertentu berperan sebagai staf audit internal dalam mengembangkan keahlian tertentu pada suatu area, misalnya rekayasa produksi. Rekayasa produksi dapat berjalan lebih efektif dan efisien dengan menghabiskan waktu audit dalam area tersebut. Kerugian dari audit fungsional adalah tidak dilakukannya evaluasi keterkaitan antarfungsi. Misalnya, fungsi rekayasa produksi berinteraksi dengan fungsi pabrikan dan fungsi lainnya dalam organisasi.

2.      Audit Organisasional

Audit operasional dalam organisasi mengurusi seluruh unit organisasi seperti departemen, cabang, atau anak perusahaan. Audit organisasional menekankan pada efektivitas dan efisiensi dalam interaksi fungsi tersebut. Rencana organisasi dan metode untuk koordinasi aktivitas merupakan hal penting dalam audit ini.

3.      Penugasan Khusus

Dalam audit operasional, penugasan khusus muncul atas permintaan dari manajemen dengan bermacam-macam jenis audit, misalnya untuk menentukan penyebab inefisiensi sistem TI, meneliti kemungkinan kecurangan dalam divisi, dan membuat rekomendasi untuk mengurangi biaya produksi.

Pelaksana Audit Operasional

Audit operasional biasanya dilakukan oleh salah satu dari tiga kelompok, yaitu:

1.      Auditor Internal

Auditor internal merupakan posisi unik yang melakukan audit operasional dimana beberapa orang menggunakan istilah audit internal dan audit operasional secara bergantian. Akan tetapi, tidak semua audit operasional dilakukan oleh auditor internal atau hanya auditor internal yang melakukan audit operasional. Banyak departemen audit internal yang melakukan keduanya, yaitu audit operasional dan keuangan secara bersamaan. Oleh karena mereka menghabiskan waktu kerja mereka untuk perusahaan yang mereka audit, maka auditor internal diuntungkan dalam melakukan audit operasional. Mereka dapat mengembangkan pengetahuan yang cukup tentang perusahaan dan bisnis yang penting bagi efektivitas audit operasional.

Untuk memaksimalkan efektivitas dalam menjalankan audit keuangan dan operasional, departemen audit internal harus melapor kepada dewan direksi atau direktur utama. Auditor internal juga harus memiliki akses dan komunikasi berkelanjutan dengan komite audit dari dewan direksi. Pelaporan kepada komite audit membantu auditor internal agar tetap independen. Jika auditor internal memberi laporan kepada kontroler, maka mereka sulit untuk melakukan evaluasi independen dan membuat rekomendasi kepada manajemen senior bila terjadi inefisiensi atas pekerjaan kontroler.

2.      Auditor Pemerintah

Auditor pemerintah regional dan pusat melakukan audit operasional, yang seringkali menjadi bagian dalam pelaksanaan audit keuangan. Kelompok auditor pemerintah yang paling dikenal adalah BPK, namun auditor pemerintah lainnya juga harus melakukan audit keuangan dan operasional.

Buku kuning mendefinisikan dan menetapkan standar untuk audit kinerja, yang pada dasarnya sama dengan audit operasional. Audit kinerja tersebut meliputi:

  • Audit ekonomi dan efisiensi

Tujuan dari audit ekonomi dan efisiensi adalah untuk menentukan:

  1. Apakah entitas sudah memperoleh, melindungi, dan menggunakan sumber daya secara ekonomis dan efisien
  2. Apa penyebab inefisiensi atau ketidakekonomisan tersebut
  3. Apakah entitas telah mematuhi hukum dan peraturan tentang hal-hal ekonomis dan efisiensi dalam program audit
  • Program audit

Tujuan dari program audit ini adalah untuk menentukan:

  1. Sejauh mana hasil yang diinginkan atau manfaat yang ditetapkan oleh badan legislatif atau yang ditetapkan badan otoritas lainnya
  2. Bagaimana efektivitas organisasi, program, kegiatan, atau fungsi tersebut
  3. Apakah entitas telah mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku

Dua tujuan dari masing-masing jenis audit kinerja benar-benar operasional, sedangkan tujuan utamanya adalah menyangkut kepatuhan.

Untuk mengilustrasikan kegiatan operasional tertentu dalam audit pemerintahan negara, berikut adalah contoh dari sebuah artikel dalam publikasi Internal Auditor : sebuah rumah sakit dengan staf administrasi yang terpisah menempati tiga bangunan di atas tanah milik rumah sakit negara lainnya. Audit kami menunjukkan bahwa beban kerja terbatas kegiatan administrasi rumah sakit ini dan kedekatannya dengan kantor rumah sakit utama memungkinkan dilakukannya konsolidasi fungsi administrasi dari dua rumah sakit dan akan menghemat biaya sebesar Rp 145.000.000 setahun.

3.      KAP

Ketika KAP melakukan audit laporan keuangan historis, seringkali tindakan audit ini terdiri atas identifikasi masalah operasional dan rekomendasi yang mungkin bermanfaat bagi klien audit. Rekomendasi dapat dibuat secara lisan, tetapi biasanya termasuk dalam surat manajemen.

Latar belakang pengetahuan tentang bisnis klien, yang didapatkan auditor eksternal saat melakukan audit, seringkali memberikan informasi yang berguna dalam memberikan rekomendasi operasional. Sebagai contoh, misalnya auditor menetapkan bahwa perputaran persediaan klien selama tahun berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Auditor harus menentukan penyebab kelambatan tersebut untuk mengevaluasi kemungkinan adanya keusangan persediaan yang dapat menyebabkan ketidakwajaran dalam penyajian laporan keuangan. Dalam menentukan penyebab berkurangnya perputaran persediaan, auditor dapat mengidentifikasi penyebab operasional, seperti kebijakan pembelian persediaan yang tidak efektif, yang harus diperhatikan oleh manajemen. Auditor yang memiliki latar belakang bisnis yang luas dan berpengalaman dengan bisnis yang sama akan memberikan rekomendasi operasional yang lebih efektif dan relevan dibandingkan dengan auditor lain yang tidak memiliki kualifikasi tersebut.

Klien umumnya melibatkan KAP untuk melakukan audit operasional dalam satu atau lebih bagian-bagian tertentu dari bisnisnya. Sebagai contoh, perusahaan dapat meminta KAP untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi sistem komputernya. Biasanya, manajemen meminta KAP melakukan audit ini bila perusahaan tidak memiliki staf audit internal atau jika staf audit internal tidak memiliki keahlian di area tertentu. Dalam beberapa kasus, manajemen atau dewan direksi menyerahkan seluruh atau sebagian aktivitas audit internalnya kepada sebuah KAP, misalnya audit operasional untuk aktivitas teknologi informasi, yang harus dilakukan bersama oleh KAP dan anggota tertentu dari staf audit internal perusahaan. Biasanya staf konsultan manajemen KAP yang melaksanakan jasa tersebut. Perlu diperhatikan bahwa KAP tidak boleh menyediakan jasa ini kepada klien audit perusahaan publik mereka

Independensi dan Kompetensi Auditor Operasional

Dua kualifikasi yang paling penting bagi auditor operasional adalah independensi dan kompetensi. Auditor harus melapor pada tingkat manajemen  yang sesuai untuk memastikan bahwa investigasi dan rekomendasi yang dibuat tidak bias. Independensi jarang menjadi masalah bagi auditor KAP karena mereka tidak menjadi karyawan perusahaan yang di audit. Independensi auditor internal perlu ditingkatkan dengan adanya laporan departemen audit internal untuk dewan direksi atau direktur utama. Sama halnya dengan adanya keharusan bagi auditor pemerintah untuk melapor kepada atasan departemen operasional. BPK, misalnya, langsung melapor kepada DPR untuk meningkatkan independensi.

Tanggung jawab auditor operasional juga dapat mempengaruhi independensi mereka. Auditor tidak bertanggung jawab atas fungsi operasional dalam perusahaan atau untuk memperbaiki kekurangan bila ditemukan inefisiensi atau ketidakefektifan. Misalnya, independensi auditor akan terpengaruh ketika mereka mengaudit sistem TI atas pembelian jika mereka yang merancang sistem tersebut atau menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk memperbaiki kekurangan yang mereka temukan selama audit.

Meskipun auditor boleh memberikan rekomendasi untuk perubahan dalam operasi, personel operasional harus memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak rekomendasi tersebut. Jika auditor memiliki kewenangan atas pelaksanaan rekomendasi mereka, maka independensi mereka akan berkurang.

Kompetensi tentunya diperlukan untuk menentukan penyebab masalah operasional dan untuk membuat rekomendasi yang tepat. Ketika audit operasional berurusan dengan masalah operasional yang meluas, maka kompetensi dapat menjadi hambatan besar. Sebagai contoh, bayangkan betapa sulitnya mencari auditor internal yang berkualitas, yang dapat mengevaluasi efektivitas program periklanan dan efisiensi proses produksi. Staf audit internal dalam melakukan jenis pemeriksaan operasional ini mungkin harus memasukkan beberapa personel dengan latar belakang bidang pemasaran dan produksi.

Kriteria Evaluasi Efisiensi dan Efektivitas

Tantangan utama dalam audit operasional adalah menentukan kriteria khusus untuk mengevaluasi apakah efisiensi dan efektivitas telah dicapai. Dalam laporan audit keuangan historis, PSAK memberikan kriteria yang luas untuk mengevaluasi penyajian secara wajar, dan tujuan audit dapat memfasilitasi kriteria yang lebih spesifik dalam memutuskan apakah PSAK sudah dilaksanakan. Dalam audit operasional tidak ada kriteria yang ditentukan dengan jelas.

Untuk menetapkan kriteria audit operasional, auditor dapat menentukan apakah beberapa aspek dari entitas dapat dibuat lebih efektif atau efisien dan merekomendasikan perbaikan. Pendekatan tersebut dapat memadai untuk auditor yang berpengalaman dan mendapatkan pelatihan memadai, tetapi tidak demikian bagi auditor pada umumnya.

Kriteria Khusus. Kriteria yang lebih spesifik diperlukan sebelum memulai audit operasional. Misalnya, Anda sedang melalukan audit operasional mengenai tata letak peralatan di pabrik untuk sebuah perusahaan. Berikut ini adalah beberapa kriteria tertentu, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, yang dapat digunakan untuk mengevaluasi tata letak pabrik :

  • Apakah tata letak pabrik seluruhnya disetujui oleh perancang kantor pusat di saat melakukan desain awal?
  • Apakah unit perancang kantor pusat melakukan studi evaluasi kembali atas tata letak pabrik dalam 5 tahun terakhir?
  • Apakah setiap unit peralatan beroperasi pada kapasitas 60% atau lebih untuk sedikitnya 3 bulan pada setiap tahun?
  • Apakah tata letak memfasilitasi pergerakan bahan baku baru di lantai produksi?
  • Apakah tata letak memfasilitasi produksi barang jadi?
  • Apakah tata letak memfasilitasi pergerakan barang jadi ke bagian distribusi?
  • Apakah tata letak pabrik menggunakan peralatan yang ada secara efektif?
  • Apakah keamanan karyawan terancam dengan adanya tata letak pabrik?

Sumber Kriteria. Untuk mengembangkan kriteria evaluasi khusus, auditor operasional dapat menggunakan berbagai sumber, meliputi:

  • Kinerja historis

Kriteria dapat ditetapkan berdasarkan hasil aktual dari periode sebelumnya. Dengan menggunakan kriteria ini, auditor dapat menentukan apakah kondisi menjadi “lebih baik” atau “lebih buruk”. Keuntungan pendekatan tersebut adalah kriteria ini mudah didapatkan, namun tidak dapat digunakan untuk menentukan seberapa baik hasilnya dibandingkan dengan yang seharusnya.

  • Pembandingan

Entitas di dalam atau di luar organisasi klien mungkin akan sama bila hasil operasinya digunakan sebagai kriteria. Auditor harus berhati-hati dalam memilih organisasi sebagai pembanding. Pembandingan hampir tidak mungkin dilakukan dengan organisasi berbeda atau mereka yang tingkat standarnya lebih rendah. Untuk entitas internal yang sebanding, data dapat tersedia untuk digunakan sebagai kriteria. Organisasi luar sering juga menyediakan informasi yang diperlukan. Selain itu, data pembandingan sering disediakan oleh kelompok industri dan badan peraturan pemerintah.

  • Standar rekayasa produksi

Dalam beberapa penugasan, dimungkinkan untuk mengembangkan kriteria berdasarkan standar rekayasa produksi. Sebagai contoh, auditor dapat menggunakan Time and Motion Study untuk menentukan tingkat output produksi yang efisien. Kriteria ini biasanya memakan waktu dan biayanya mahal untuk dikembangkan karena membutuhkan keahlian, tetapi dalam banyak hal patut dipertimbangkan. Suatu standar dapat dikembangkan oleh kelompok industri untuk digunakan oleh semua anggota mereka, sehingga biaya dapat ditekan.

  • Diskusi dan kesepakatan

Kadang-kadang kriteria objektif sulit atau mahal untuk diperoleh, sehingga paling baik dikembangkan melalui diskusi dan kesepakatan. Pihak-pihak yang terlibat harus mencakup manajemen entitas yang akan diaudit, auditor operasional, dan badan atau pihak yang akan diberi laporan tentang penemuan audit.

 Tahapan dalam Menjalankan Audit Operasional

Terdapat tiga fase dalam audit operasional, yaitu:

1.      Perencanaan

Perencanaan untuk audit operasional sama dengan perencanaan untuk audit atas laporan keuangan historis. Seperti auditor laporan keuangan, auditor operasional harus menentukan ruang lingkup penugasan dan mengkomunikasikannya ke unit organisasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

  • Melakukan penugasan dengan benar
  • Mendapatkan informasi latar belakang mengenai unit organisasi
  • Memahami pengendalian internal
  • Memutuskan bukti yang memadai untuk diakumulasi

Perbedaan utama antara perencanaan audit operasional dan audit keuangan adalah keragaman yang diciptakan oleh luasnya audit operasional, yang sering membuatnya sulit untuk mengambil keputusan dalam tujuan khusus. Auditor memilih tujuan berdasarkan kriteria yang dikembangkan dalam penugasan, yang bergantung pada kondisi yang ada. Misalnya, tujuan audit operasional atas efektivitas pengendalian internal untuk kas kecil akan sangat berbeda dengan audit operasional untuk efisiensi penelitian dan pengembangan, namun tujuan yang beragam dalam audit operasional bisa saja merupakan bagian dari audit operasional yang sama.

Luasnya audit operasional sering membuat penentuan staf menjadi lebih rumit daripada dalam audit keuangan. Hal ini terjadi bukan karena bidang yang berbeda, misalnya pengendalian produksi dan periklanan, tetapi tujuan untuk bidang tersebut sering memerlukan keahlian teknis khusus. Misalnya, auditor mungkin membutuhkan latar belakang teknis untuk mengevaluasi kinerja pada sebuah proyek konstruksi besar.

Pada akhirnya, tidak seperti audit keuangan, audit operasional mengharuskan auditor menghabiskan lebih banyak waktu dengan pihak yang berkepentingan untuk mencapai persetujuan atas syarat penugasan dan kriteria evaluasi. Terlepas dari sumber kriteria evaluasi, dalam hal tujuan dan kriteria yang ditetapkan, maka perwakilan entitas yang akan di audit, auditor operasional, dan entitas atau kepada pihak mana temuan akan dilaporkan, harus ditentukan secara jelas dalam perjanjian.

2.      Akumulasi Bukti dan Evaluasi

Pengendalian internal dan prosedur operasi merupakan bagian penting dari audit operasional, maka biasanya dilakukan dokumentasi, penyelidikan atas klien, prosedur analitis, dan observasi secara ekstensif. Konfirmasi, pencapaian kinerja kembali, dan perhitungan kembali tidak digunakan secara luas dalam audit operasional dibandingkan pada audit keuangan karena tujuan keberadaan dan akurasi tidak relevan dengan kebanyakan audit operasional.

Untuk mengilustrasikan akumulasi bukti dalam audit operasional, sebagai contoh suatu lembaga yang mengevaluasi keamanan tangga berjalan di sebuah kota. Asumsikan bahwa semua pihak setuju bahwa tujuannya adalah untuk menentukan apakah seorang pengawas membuat pemeriksaan tahunan secara memadai untuk seluruh tangga berjalan di kota tersebut. Untuk memenuhi tujuan kelengkapan, auditor dapat memeriksa cetak biru bangunan kota dan lokasi tangga berjalan dan menelusurinya ke daftar untuk memastikan bahwa semua tangga berjalan sudah dimasukkan dalam populasi. Pengujian tambahan dilakukan untuk bangunan yang baru dibangun untuk menilai ketepatan waktu atas pembaruan daftar yang berada di pusat.

Dengan asumsi auditor telah menentukan bahwa daftar tersebut lengkap, mereka dapat memilih sampel lokasi tangga berjalan dan mengumpulkan bukti mengenai waktu dan frekuensi inspeksi. Auditor mungkin perlu mempertimbangkan risiko bawaan dengan melakukan pengambilan sampel lebih besar atas tangga berjalan yang usianya lebih tua atau tangga yang sebelumnya cacat keamanannya. Auditor mungkin juga perlu memeriksa bukti kompetensi pengawas tangga berjalan dengan menelaah catatan, program pelatihan, uji kecakapan, dan laporan kinerja. Auditor juga perlu menjalankan kembali prosedur pengambilan sampel tangga berjalan untuk mendapatkan bukti bila terjadi ketidakkonsistenan dengan yang dilaporkan atau pada kondisi sebenarnya.

Sama seperti auditor keuangan, auditor operasional harus mengumpulkan bukti yang memadai untuk dijadikan dasar suatu kesimpulan dalam pengujian. Untuk audit keamanan tangga berjalan, auditor harus mengumpulkan bukti yang cukup tentang inspeksi keamanan tangga berjalan. Setelah bukti dikumpulkan, auditor harus memutuskan apakah inspeksi atas masing-masing tangga berjalan di kota dilakukan oleh petugas yang kompeten.

3.      Pelaporan serta Tindak Lanjut

Dua perbedaan utama antara laporan audit keuangan dan operasional yang mempengaruhi laporan audit operasional adalah:

  1. Dalam audit operasional, laporan biasanya dikirimkan hanya kepada manajemen, dengan tembusan kepada unit yang diaudit. Pengguna pihak ketiga tidak memerlukan susunan kata-kata baku untuk pembuatan laporan audit operasional.
  2. Banyaknya jenis audit operasional memerlukan laporan yang berbeda-beda untuk mencakup ruang lingkup audit, temuan, dan rekomendasi.

Auditor operasional sering menghabiskan waktu untuk mengkomunikasikan temuan dan rekomendasi audit secara jelas. Pada audit kinerja, saat laporan disusun sesuai persyaratan Buku Kuning, maka komponen tertentu harus disertakan, tetapi bentuk laporan harus dibebaskan. Tindak lanjut merupakan hal umum dalam audit operasional ketika auditor membuat rekomendasi kepada manajemen untuk menentukan apakah terdapat perubahan yang direkomendasikan, dan jika tidak, harus dijelaskan mengapa.

Contoh Temuan Audit Operasional

Setiap Internal Auditor tersebut, jurnal yang dipublikasikan dua bulanan oleh IIA, selalu terdapat beberapa temuan audit operasional yang disampaikan oleh auditor internal yang berpraktik. Lebih banyak temuan yang mencakup efisiensi daripada efektivitas. Pembaca lebih tertarik dengan temuan yang berkaitan dengan efisiensi dari efektivitas. Misalnya, suatu audit operasional di AS yang menghasilkan penghematan sebesar $68.000 akan lebih menarik pembaca daripada sebuah laporan mengenai peningkatan akurasi pelaporan keuangan. Contoh dari Internal Auditor berikut menyertakan contoh-contoh yang berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi di AS.

Dengan Menyewa Perusahaan Kebersihan dari Luar, Dapat Menghemat $160.000

Sebuah auditor internal meninjau efisiensi dan efektivitas layanan kebersihan oleh karyawan pemerintah untuk bangunan di kompleks gedung legislatif. Dalam audit terungkap bahwa biaya jasa kebersihan terlalu besar jika dibandingkan dengan jasa serupa yang dilakukan oleh perusahaan kebersihan dari luar. Selain itu, auditor menemukan banyak petugas kebersihan yang tidak dilengkapo dengan peralatan yang dibutuhkan sehingga kualitas kebersihan menjadi buruk. Sebuah studi mengenai jasa kebersihan alternatif menunjukkan bahwa perusahaan kebersihan dari luar memberikan jasa yang sama atau lebih baik dan dapat menghemat biaya sebesar $ 137.000 dalam setahun. Auditor merekomendasikan pemerintah negara bagian mencari tawaran kompetitif dan menjalin kontrak dengan perusahaan jasa kebersihan yang memiliki penawaran biaya terendah, tetapi masih memenuhi spesifikasi. Dalam realisasinya, penghematan mencapai lebih dari $160.000 dan kualitas kebersihan meningkat.

Gunakan Peralatan yang Tepat

Sebuah perusahaan menyewakan 25 truk berbeban berat yang digunakan oleh karyawan jasa di AS yang memasang dan memperbaiki sekitar 20.000 vending machine di daerah metropolitan besar. Semua truk dilengkapi dengan hidrolik pengangkat pintu untuk melakukan bongkar muat vending machine. Auditor internal menemukan hanya beberapa truk yang benar-benar mengantar dan mengambil vending machine tersebut. Sebagian besar truk digunakan untuk jasa panggilan, yang terdiri atas perbaikan kotak koin atau penyesuaian sederhana lainnya yang tidak memerlukan hidrolik. Auditor merekomendasikan agar sebagian besar truk tersebut secara bertahap digantikan oleh kendaraan biasa dan ringan. Menajemen menyetujuinya sehingga penghematan tarif sewa dan beban usaha yang terjadi diperkirakan mencapai $ 25.000 per tahun.

Program Komputer Menghemat Tenaga Kerja Manual

ERISA di AS mensyaratkan adanya audit tahunan untuk rencana pembagian laba. Auditor internal menguji rencana pembagian keuntungan sebagaimana disyaratkan oleh ERISA, tetapi juga melakukan telaah operasional yang menghasilkan beberapa rekomendasi berharga bagi manajemen. Aduitor TI dalam tim audit mengembangkan beberapa program audit – terkomputerisasi untuk menguji pengendalian atas partisipasi dan penghentian rencana perusahaan dalam melakukan bagi hasil. Bantuan komputer tersebut menghemat tenaga kerja manual dan dapat mendeteksi beberapa karyawan yang tidak memenuhi syarat atas rencana tersebut, misalnya karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun dan karyawan yang sudah berhenti bekerja. Program audit tersebut juga dapat mendeteksi data yang berbeda antara berkas penggajian dan berkas utama dalam rencana bagi hasil. Saat melihat hasil audit, manajemen mengoreksi seluruh masalah dan menerapkan pengendalian tambahan untuk mencegah terjadinya masalah yang sama di masa datang. Pengendalian tambahan ini membuat manajemen memita auditor TI untuk tetap menyimpan program mereka di komputer. Manajer pada rencana bagi hasil pun menggunakan program tersebut secara berkala sebagai pengendali untuk mendeteksi kesalahan.

JASA ASSURANCE LAINNYA: JASA REVIEW DAN KOMPILASI

Pembahasan kali ini mengenai jenis-jenis jasa assurance dari akuntan publik yang melibatkan laporan keuangan historis seperti telaah laporan keuangan historis dan penugasan assurance terbatas yang melibatkan laporan keuangan historis untuk memenuhi kebutuhan spesifik pengguna laporan keuangan. Bab ini juga membahas jasa assurance untuk beberapa jenis penugasan atestasi yang tidak melibatkan laporan keuangan historis, seperti penugasan WebTrust dan SysTrust dan laporan atas proyeksi laporan keuangan.

JASA REVIEW DAN KOMPILASI

Banyak perusahaan nonpublik meminta laporan keuangan mereka ditelaah atau dikompilasi oleh akuntan publik, bukan untuk diaudit. Manajemen perusahaan yakin bahwa audit tidak diperlukan karena tidak ada persyaratan dari bank atau pun pengawas dan laporan untuk penggunaan internal juga tidak perlu diaudit. Sebaliknya perusahaan dapat melibatkan akuntan publik untuk membantu menyusun laporan keuangan, baik untuk penggunaan internal, sesuai permintaan kreditur. Bergantung pada jumlah pinjaman, kreditur mungkin memerlukan kompilasi atau telaah laporan keuangan, bukan audit. Telaah laporan keuangan memberikan assurance terbatas pada laporan keuangan, sedangkan kompilasi tidak memberikan assurance atas laporan yang disajikan.

Standar untuk kompilasi dan telaah laporan keuangan disebut Pernyataann Standar Jasa Akuntansi dan Review (PSAR). Karena assurance yang diberikan kompilasi dan telaah jauh dibawah audit, jasa ini tidak terlalu memerlukan bukti-bukti dan biayanya lebih rendah daripada audit. Karena jasa review dan kompilasi tidak memberikan assurance seperti di audit, maka akuntan dan klien harus membangun pemahaman bersama tentang jasa yang akan diberikan, terutama melalui perjanjian tertulis.

Jasa Review

Sebuah penugasan jasa review memungkinkan keterlibatan akuntan dalam memberikan assurance terbatas bahwa laporan keuangan telah sesuai degan SAK, termasuk pengungkapan informatif yang tepat atau basis akuntansi komprehensif yang lain seperti basis kas akuntansi. Akuntan publik harus independen dari klien untuk dapat melakukan jasa review.

Prosedur yang Disarankan dalam Jasa Review

Bukti untuk penugasan jasa review tetrdiri atas tanya jawab atas proseedur analitis dan manajemen, membutuhkan prosedur jauh lebih sedikit dibanding dengan audit. Untuk jasa review, akuntan tidak memperoleh pemahaman tentang pengendalian internal, pengendalian pengujian, atau melakukan pengujian substantif atas transaksi atau saldo, seperti konfirmasi piutang dagang atau pemeriksaan persediaan secara fisik.

PSAR merekomendasikan prosedur berikut untuk suatu jasa review:

  • Memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip akuntansi dan praktik industri klien. Akuntan dapat mempelajari panduan industri atau sumber lain untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Tingkat pngetahuan yang dibutuhkan sedikit dibawah audit.
  • Memperoleh pemahaman mengenai klien. Informasi yang perlu diperoleh antara lain mengenai sifat transaksi bisnis klien, pembukuan dan karyawannya, dan isi dari laporan keuangan. Tingkat pengetahuan yang dibutuhkan lebih sedikit dari audit.
  • Melakukan tanya jawab dengan manajemen. Tanya jawab adalah prosedur telaah yang paling penting. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah laporan keuangan disajikan secara wajar, dengan asumsi bahwa manajemen tidak bermaksud untuk menipu akuntan. Pertanyaan harus dibuat dari personel klien yang tepat dan biasanya melibatkan diskusi. Seperti contoh pertanyaan berikut:
  1. Jelaskan prosedur anda untuk mencatat, mengklasifikasikan, dan meringkas transaksi serta mengungkapkan informasi dalam laporan.
  2. Apa tindakan terpenting yang diambil pada rapat pemegang saham dan dewan direksi tahun ini?
  3. Apakah tiap akun pada laporan keuangan disajikan sesuai dengan GAAP dan diterapkan secara konsisten?
  • Melakukan prosedur analitis. Tindakan ini mengidentifikasi kaitan dan akun individu yang tampak tidak wajar. Prosedur analisis yang tepat tidak berbeda dengan yang elah dipelajari sebelumnya. Selain memperhatikan tren yang tidak wajar tersebut, akuntan juga harus melakukan tanya jawab lebih lanjut dengan personel klien untuk mendapatkan penjelasan dari tiap kaitan yang tak terduga.
  • Mendapatkan surat representasi. Akuntan diwajibkan untuk mendapatkan surat representasi dari pihak manajemen yang memahami keangan.

Berdasarkan prosedur tersebut, skuntan bisa jadi akan memperhatikan bahwa terdapat informasi yang tidak benar, tidak lengkap, atau tidak memuaskan. Jika demikian, maka prosedur tambahan harus dilakukan sebelum akuntan menerbitkan laporan standar jasa review.

Formulir Laporan

Formlir laporan terdiri dari tiga aspek, yaitu:

  1. Paragraf pertama sama dengan laporan audit, kecuali merujuk pada jasa review, bukan jasa audit.
  2. Paragraf kedua menyatakan bahwa telaah terutama yang berisi tanya jawab dan prosedur analitis, ruang lingkupnya kecil dibandingkan dengan audit, dan tidak ada opini yang dikeluarkan.
  3. Paragraf ketiga menunjukkan assurance terbatas, dalam hal assurance negatif, bahwa “kami tidak memperhatikan adanya modifikasi material yang harus dilakukan terhadap laporan keuangan.”

Tanggal pada laporan telaah merupakan tanggal pada saat auditor menyelesaikan tanya jawab dan prosedur analitis.

Kesalahan dalam Mengikuti GAAP

Jika dalam laporan telaah tersebut klien tidak mengikuti GAAP, maka laporan harus dimodifikasi. Laporan ini harus dapat mengungkapkan dampak dari perbedaan seperti yang telah ditentukan oleh manajemen atau prosedur telaah akuntan. Bahkan jika dampak tersebut belum ditentukan, pengungkapan harus muncul pada laporan paragraf terpisah.

“Kami telah menelaah neraca pada PT Arahan Jitu tanggal 31 Desember 2007 serta laporan laba/rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan aliran kas yang berkaitan untuk tahun yang berakhir untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Pernyataan Standar Jasa Akuntansi Publik Indonesia. Semua informasi  yang dimuat dalam laporan keuangan adalah penyajian manajemen (pemilik) PT Arahan Jitu.

Telaah terutama terdiri atas permintaan keterangan kepada pejabat perusahaan dan prosedur analitis yang diterapkan atas data keuangan. Telaah mempunyai ruang lingkup yang jauh lebih sempit dibandingkan dengan lingkup audit yang dilakukan sesuai standar audit yang ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia dengan tujuan untk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan. Oleh karena itu, kami tidak memberikan pendapat semacam itu.

Berdasarkan telaah kami, tidak terdapat penyebab yang menjadikan kami yakin bahwa laporan keuangan yang kami sebutkan di atas tidak disajikan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia”

Seperti yang telah diungkapkan dalam catatan X atas laporan keuangan, prinsip akuntansi yang berlaku umum mngharuskan bahwa tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan. Manajemen telah mengiformasikan kepada kami bahwa perusahaan telah menyatakan tanahnya sebesar nilai taksiran dan bahwa, jika prisnip akuntansi yang berlak umum telah diikuti, maka akun tanah dan ekuitas  seharsnya turun sebesar Rp 500.000.000,00.

Jasa Kompilasi

Sebuah penugasan untuk jasa kompilasi didefinisikan dalam PSAR sebagai salah satu hal yang dipersiapkan akuntan saat membuat dan menyajikan laporan keuangan kepada klien atau pihak ketiga tanpa memberikan assurance dari akuntan publik tentang laporan tersebut. Laporan ini biasanya digunakan oleh manajemen untuk urusan internal, meskipun dapat juga diberikan kepada pengguna eksternal. Akuntan publik tidak perlu menjadi independen dalam melakukan kompilasi dan laporan keuangan tersebut dapat ditebitkan tanpa adanya penjelasan tambahan.

“Kami telah melakukan kompilasi neraca PT Wasito Prima tanggal 31 Desember 2007 serta laporan laba/rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan aliran kas yang berkaitan utuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review yang ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia.

Suatu kompilasi terbatas pada penyajian informasi dalam bentuk laporan keungan yang merupakan representasi manajemen (pemilik). Kami tidak melakukan audit atau telaah terhadap laporan keuangan terlampir tersebut dan, oleh karena itu, kami tidak menyatakan pendapat atau bentuk keyakinan lain atas laporan keuangan tersebut.”

Ketika akuntan menyampaikan laporan keuangan yang dimaksudkan untuk digunakan oleh puhak ketiga, mereka diwajibkan mengeluarkan laporan kompilasi yang menyertai laporan. Akuntan tidak diizinkan menyiapkan dan menyajikan laporan keuangan untuk klien yang menyerahkan laporan tersebut kepada penguna eksternal tanpa memenuhi persyaratan penugasan kompilasi, termasuk penerbitan laporan kompilasi. Ketika akuntan tidak menginginkan laporan tersebut digunakan oleh pihak ketiga, mereka tidak wajib mengeluarkan laporan kompilasi asalkan mereka mendokumentasikan, dalam surat penugasan, pemahaman mengenai jasa yang akan dilakukan dan pembatasan bahwa laporan keuangan ditujukan hanya bagi manajemen.

Kompilasi yang Menghapus Seluruh Pengungkapan (contoh soal kasus) Auditor telah melakukan kompilasi PT Wasito Prima tanggal 31 Desember 2007 serta laporan laba/rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan aliran kas yang berkaitan untuk tahun yang berakhir tanggal tersebut sesuai dengan Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review yang ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia.

Suatu kompilasi terbatas pada penyajian informasi dalam bentuk laporan keuangan yang merupakan representasi manajemen (pemilik). Auditor tidak melakukan audit atau telaah terhadap laporan keuangan terlampir tersebut dan tidak menyatakan pendapat atau bentuk keyakinan lain atas laporan keuangan tersebut.

Manajemen memutuskan untuk tidak memasukkan hampir semua pengungkapan material, yang diharuskan oleh prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Jika pengungkapan yang tidak dimasukkan tersebut disajikan dalam laporan keuangan, mungkin hal tersebut akan mempengaruhi kesimpulan para pemakai laporan keuangan tentang posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas perusahaan. Oleh karena itu, laporan keuangan ini tidak dirancang untuk mereka yang tidak mengetahui tentang masalah seperti itu.

Persyaratan Kompilasi, kompilasi tidak membebaskan akuntan dari pertanggungjawaban karena mereka perlu bertanggung jawab dalam menjalankan seluruh jenis penugasan. Dalam penugasan kompilasi, akuntan harus menjalankan prosedur sebagai berikut.

  • Memperoleh pemahaman bersama klien mengenai jenis dan keterbatasan jasa yang diberikan dan penjelasan atas laporan, jika laporan akan diterbitkan.
  • Memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip akuntansi dan praktik industri klien.
  • Memahami klien, termasuk sifat transaksi bisnisnya, pencatatan akuntansi, dan misi laporan keuangan.
  • Melakukan Tanya jawab untuk menentukan apakah informasi klien memenuhi persyaratan.
  • Membaca kompilasi laporan keuangan dan berhati-hati dengan hal-hal yang tidak dimasukkan atau kesalahan dalam perhitungan dan GGAP.

Akuntan tidak harus melakukan tanya jawab lainnya atau melakukan prosedur lain dalam verifikasi informasi yang diberikan oleh klien. Akan tetapi jika mereka menyadari bahwa laporan tidak disajikan secara wajar, maka mereka harus memperoleh informasi tambahan. Jika klien menolak untuk memberikan informasi, maka akuntan harus menarik diri dari penugasan kompilasi.

Bentuk Laporan PSAR menyebutkan tiga jenis laporan kompilasi. Penggunaan masing-masing laporan bergantung pada keputusan manajemen untuk memasukkan semua pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangan.

  1. 1.      Kompilasi dengan pengungkapan penuh. Kompilasi jenis ini membutuhkan pengungkapan sesuai dengan GAAP.
  2. 2.      Kompilasi yang menghilangkan seluruh pengungkapan. Hal ini menunjukkan kata-kata yang tepat ketika akuntan mengompilasi laporan tanpa pengungkapan. Contohnya, manajemen juga memilih untuk tidak menyajikan laporan aliran kas. Jenis kompilasi akan diterima jika laporan menunjukkan kurangnya pengungkapan dan tidak adanya pengungkapan tersebut, menurut akuntan publik, tidak dilakukan dengan maksud menyesatkan pengguna. Laporan ini digunakan untuk manajemen.
  3. 3.      Kompilasi Tanpa Independensi. Seperti KAP dapat mengeluarkan laporan kompilasi meskipun laporan tersebut tidak independen dari klien, seperti yang didefinisikan oleh Kode Etik. Apabila akuntan tidak memiliki independensi, maka pada laporan harus menyatakan bahwa“ Kami tidak independen terhadap PT Wasito Prima.”

Jadi unsur-unsur jenis laporan kompilasi yang dibutuhkan, seperti:

  • Tanggal pada laporan akuntan adalah tanggal penyelesaian kompilasi.
  • Setiap halaman laporan keuangan yang dikompilasi oleh akuntan harus menyatakan “Lihat kompilasi laporan akuntan.”
  • Apabila klien tidak menggunakan GAAP, maka auditor harus memasukkan modifikasi yang sama dalam laporan kompilasi yang digunakan dalam laporan telaah.

TELAAH ATAS INFORMASI KEUANGAN INTERIM UNTUK PERUSAHAAN PUBLIK

Lima syarat auditor dalam penugasan jasa peninjauan, sebagai berikut:

  1. Memperoleh pemahaman atas prinsip akuntansi dalam industri klien.
  2. Memperoleh pemahaman atas klien.
  3. Melakukan tanya jawab tentang manajemen.
  4. Melakukan prosedur analitis.
  5. Mendapatkan surat representasi.

Pada perusahaan public tidak dapat dijadikan dasar assurance tingkat tinggi untuk menyatakan pendapat. Biasanya, auditor tidak melakukan pengujian pada pencatatan akuntansi, konfirmasi independen atau pemeriksaan fisik. Terdapat perbedaan antara dua jenis telaah dibeberapa area seperti:

  • Karena audit tahunan juga dilakukan untuk perusahaan publik, maka auditor harus memperoleh informasi yang memadai tentang pengendalian internal klien, baik untuk informasi keuangan tahunan maupun internim.
  • Demikian pula, karena klien diaudit setiap tahun, maka pengetahuan auditor terhadap hasil audit juga digunakan dalam mempertimbangkan ruang lingkup dan hasil dari Tanya jawab dan prosedur analitis untuk telaah.
  • Menurut PSAR, auditor melakukan Tanya jawab mengenai pertemuan antara pimpinan perusahaan pemegang saham bagi perusahaan publik, auditor harus membaca notulensi pertemuan mereka.
  • Auditor juga harus memperoleh bukti bahwa informasi keuangan interim telah sesuai dengan pencatatan akuntansi dalam telaah interim perusahaan publik. Contohnya, auditor dapat membandingkan informasi keuangan interim ke buku besar. 

PENUGASAN  ATESTASI

Bab 1 menjelaskan tentang jasa assurance sebagai jasa profesional independen untuk meningkatkan kualitas informasi bagi pengambil keputusan. Para pembuatkeputusan bisnis menggunakan jasa assurance untuk membantu meningkatkan keadndalan dan relevansi informasi ynag menjadi dasar keputusan mereka. Salah satu kategori jasa  assurance yang diberikan oleh akuntan publik adalah jasa atestasi.

Akuntan publik banyak diminta untuk melakukan berbagai hal yang mirip dengan audit, atau memberikan jasa untuk tujuan yang berbeda. Dalam penugasan atestasi, akuntan melaporkan keandalan informasi atau asersi yang dibuat oleh pihak lain. Contohnya adalah ketika sebuah bank meminta akuntan publik untuk melaporkan secara tertulis apakah klien sudah memenuhi semua persyaratan perjanjian pinjaman.

Standar Atestasi

IAPI telah menerbitkan 11 standar atestasi yang sesuai dengan 10 standar audit berlaku umum, seperti ditunjukkan pada tabel 24-1. Standar atestasi dinyatakan dalam istilah yang cukup umum untuk memungkinkan akuntan publik menerapkannya untuk setiap penugasan atestasi, termasuk jenis penugasan baru.

Perbedaan paling menonjol dalam standar atestasi dan GAAS adalah dalam standar atestasi umum 2 dan 3. Standar 2 mensyaratkan bahwa akuntan publik memiliki pengetahuan yang memadai tentang subyek atestasinya. Misalnya, agar akuntan dapat membuktikan kepatuhan perusahaan kepada undang-undang perlindungan lingkungan hidup, mereka membutuhkan pemahaman menyeluruh tentang undang-undang dan metode yang digunakan perusahaan untuk menjamin kepatuhan tersebut. Standar 3 mensyaratkan bahwa akuntan publik dapat mengavaluasi materi agar lebih menggunakan contoh undang-undang perlindungan lingkungan hidup, kesulitan dalam pengukuran atau kekurangan kriteria spesifik akn membuat akuntan publik kesulitan untuk menyimpulkan apakah ada kepatuhan.

Untuk memberikan petunjuk tambahan dalam melakukan penugasan atestasi, dari IAPI menerbitkan Persyaratan Standar Atestasi-PSAT. DSPAP ingin membedakan antara hal-hal yang harus ditangani dalam standar audit dan hal-hal yang harus ditangani oleh standar atestasi, meskipun kedua hal tersebut adalah mengenai atestasi. Standar umum, standar audir berlaku pada atestasi yang bgerkenaan dengan pemberian kepastian atas laporan keuangan historis, termasuk satu atau lebih bagian dari laporan keuangan tersebut. Hal ini termasuk audit laporan keuangan yang disusun sesuai dengan GAAP atau basisi akuntansi komprehensif lainnya, audit neraca, dan audit akun individual.

Semua bentuk lain dari atestasi dibahas dalam standar. Standar atestasi ditetapkan oleh DSPAP mengikuti proses yang sama seperti yang digunakan untuk standar audit. (Standar atestasi label sebagi SAT, bukan SA.)

Jenis Penugasan Atestasi

DSPAP tidak menentukan batas-batas dalam penugasan atestasi, kecuali dalam hal konseptual karena adanya jenis-jenis jasa baru yang mungkin timbul. Sebagai contoh, PricewaterhouseCoopers telah melakukan atestasi pada pemilihan suara kontes Miss America selama beberapa dekade, tetapi atestasi dalam pembuktian kepatuhan terhadap undang-undang perlindungan lingkungan hidup baru dimulai dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, IAPI telah mengembangkan standar atestasi yang spesifik dalam bidang berikut :

  • Laporan keuangan prospektif
  • Informasi keuangan pro forma
  • Laporan pengendalian internal atas pelaporan keuangan untuk perusahaan tertutup
  • Kepatuhan kepada hukum dan regulasi
  • Kesesuaian dengan prosedur penugasan
  • Diskusi dan analisis manajemen.

Standar diperlukan untuk penugasan tersebut karena akuntan public sudah banyak melakukan jasa ini sehingga memerlukan panduan lebih specific selain standar atestasi yang ada. Meskipun demikian tidak ada standar khusus untuk suatu jenis jasa bukan berarti jasa tersebut tidak layak diberikan.

Tingkat pemberian jasa :

Standar atestasi mendefinisikan tiga tingkat penugasan dan format kesimpulan terkait :

  1. Ujian
  2. Peninjauan
  3. Prosedur yang disepakati

Sebagai tambahan, Penugasan kompilasi didefinisikan untuk laporan keuangan prospektif.

Pemeriksaan akan menghasilkan kesimpulan yang positif, untuk jenis lapran ini, akuntan public membuat pernyataan langsung mengenai apakah penyajian asersi secara keseluruhan sesuai dengan criteria yang berlaku. Laporan dilakukan dalam penugasan untuk menentukan bahwa tingkat pengembalian atas perkiraan portofolio, berdasarkan rekomendasi perusahaan pialang sudah benar seperti disampaikan dalam materi promosi perusahaan. Distribusi pemeriksaan oleh klien setelah diterbitkan tidak dibatasi, artinya klien dapat menyebarkan informasi secara luas termasuk pada calon investor untuk tujuan penjualan dan pemasaran.

Contoh Laporan Prakiraan

Kami telah memeriksa neraca prakiraan PT Argo Raung tanggal 31 Desember 2008 dan laporan laba/ rugi, laporan perubahan ekuitas, serta laporan aliran kas terlampir untuk than yang berakhir pada tanggal tersebut. Pemeriksaan kami lakukan berdasarkan standar yang ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia dan oleh karena itu, meliputi prosedur yang kami pandang perlu untuk menerima baik asumsi yang digunakan oleh manajemen, dan penyusunan maupun penyajian prakiraan tersebut.

Menurut pendapat kami, prakiraan terlampir disajikan sesuai dengan panduan penyajian prakiraan yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dan asumsi yang mendasarinya memberikan dasar rasional bagi manajemen untuk melakukan prakiraan. Meskipun demikian biasanya akan terdapat perbedaan antara taksiran dan hasil sebenarnya, karena peristiwa dan keadaan sering tidak terjadi sebagaimana yang diharapkan, dan perbedaan tersebut mungkin material. Kami tidak bertanggung jawab untuk memutakhirkan laporan ini dengan adanya peristiwa dan keadaan yang terjadi sesudah tanggal laporan ini.

Dalam suatu telaah, akuntan public memberikan kesimpulan berisi assurance negative. Laporan assurance negative dikeluarkan jika terdapat informasi yang menarik perhatian akuntan public yang menunjukkan pernyataan tidak disajikan sesuai dengan criteria yang berlaku. Penugasan untuk jasa review tidak boleh diberikan untuk sebagian besar jasa yang memiliki standar atestasi misalnya seperti laporan keuangan prospektif karena sulit menetapkan standar untuk assurance terbatas yan g diberikan melalui telaah.

Dalam penugasan atau prosedur yang disepakati bersama semua prosedur yang dilakukan akuntan public harus disepakati oleh akuntan public, penanggung jawab asersi, dan para pengguna laporan akuntan public. Tingkat assurance dalam laporan tersebut bervariasi dengan prosedur khusus yang diseakati dan dijalankan. Maka distribusi laporan hanya terbatas untuk pihak yang terlibat yang mengetahui prosedur yang dijalankan akuntan public dan tingkat assurance yang dihasilkan.

Laporan tersebut harus memuat pernyatan tentang prosedur manajemen, hal yang disepakati akuntan public dan penemuan kauntan public selama melaksanakan  prosedur tersebut.

Dibelahan dunia lain, AICPA dan Canada Institute of Chartered Accountants (CICA) telah dikembangkan bersama dengan jasa assurance yang terkait dengan e-commerce dan teknologi informasi. Kelompok-kelompok pemberi jasa dikenal sebagai WebTrust dan SysTrust, melakukan penugasan sesuai standar atestasi.

STANDAR LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan prospektif mengacu pada prediksi atau ekspektasi laporan keuangan dalam beberapa masa yang akan datang (laporan laba/rugi) atau suatu tanggal di masa depan (neraca). Contohnya adalah prediksi manajemen atas laporan laba/rugi dan neraca satu tahun dari sekarang.

Kebanyakan akuntan publik yakin ada peluang yang signifikan dan resiko potensial bagi auditor atas kemampuan mereka menyediakan informasi keuangan prospektif. jika auditor  dapat meningkatkan keandalan informasi ,maka resiko informasi dapat dikurangi dengan cara yang sama seperti pada audit laporan keuangan historis . resiko dapat timbul karena hasil actual yang diperoleh dimasa depan mungkin berbeda secara signifikan dari hasil prediksi dalam laporan keuangan prospektif.

Prakiraan dan Proyeksi

Standar atestasi IAPI mendefinisikan dua jenis umum laporan keuangan prospektif:

Prakiraan

Adalah laporan keuangan prospektif yang menyajikan ekspektasi dari posisi keuangan entitas ,hasil usaha, dan aliran kas yang terbaik menurut pemahaman dan keyakinan pihak yang bertanggung jawab. Bank biasanya memerlukan informasi ini sebagai bagian dari aplikasi pinjaman.

Proyeksi

Adalah laporan keuangan prospektif yang menyajikan posisi keuangan  suatu entitas, hasil usaha, dan aliran kas, yang terbaik menurut pemahaman dan keyakinan pihak yang bertanggung jawab ,dengan satu atau lebih asumsi hipotesis.

Pengunaan laporan keuangan prospektif

Laporan keuangan prospektif dibuat  untuk salah satu dari dua pihak berikut:

  1. Laporan yang digunakan secara umum oleh semua pihak ke tiga yang terkait, seperi dimasukannya posisi keuangan dalam prospektus  penjualan obligasi rumah sakit.
  2. Laporan yang digunakan secara terbatas oleh pihak ketiga yang berkaitan langsung, seperti dimasukannya proyeksi keuangan dalam dokumen permohonan pinjaman bank.

Jenis penugasan

            untuk menghindari kebingungan dikalangan  auditor, IAPI menciptakan standar atestasi  yang lebih spesifik, yang menetapkan jenis penugasan berikut ini dalam laporan keuangan prospektif :

  • Suatu penugasan pemeriksaan dimana akuntan publik meyakini  kelengkapan dan kewajaran seluruh asumsi yang  digunakan.
  • Suatu penugasan kompilasi dimana akuntan publik terutama terlibat dengan akurasi perhitungan laporan ,bukan kewajaran asumsinya.
  • Suatu penugasan atas prosedur  yang disepakati bersama dimana akuntan publik  dan seluruh pengguna laporan menyetujui prosedur atestasi yang spesifik dan terbatas

 Pemeriksaan laporan keuangan prospektif

Standart atestasi  IAPI jelas menyatakan bahwa akuntan publik tidak melakukan atestasi terhadap akurasi laporan keuangan prospektif. Sebaliknya,mereka menguji asumsi yang mendasari dan memeriksa penyusunan dan penyajian prakiraan atau proyeksi. Untuk pemeriksaan prakiraan dan proyeksi, terdapat empat elemen yang perlu dipahami, yaitu:

  1. Mengevaluasi penyusunan laporan keuangan prospektif.
  2. Mengevaluasi hal–hal yang mendukung asumsi
  3. Mengevaluasi penyajian laporan keuangan prospektif atas kesesuaiannya dengan panduan dari IAPI
  4. Menerbitkan laporan pemeriksaan

Elemen tersebut didasarkan pada pengumpulan  bukti tentang kelengkapan dan kewajaran asumsi yang mendasari, seperti yang diungkapkan dalam laporan keuangan prospektif. Untuk membuat evaluasi, CPA harus memahami bisnis dan industry klien ,mengidentifikasi hal-hal signifikan yang dapat diandalkan atas hasil operasi bisnis klien dimasa depan (faktor kunci), dan menentukan ketepatan asumsi yang digunakan sehubungan dengan faktor kunci tersebut.

Elemen, Akun, atau Bagian Tertentu

Auditor sering diminta untuk mengaudit dan menerbitkan aspek tertentu dari laporan keuangan. Seperti laporan audit penjualan, laporan royalty, keikutsertaan laba dan provisi pajak penghasilan. Audit untuk elemen, akun, atau bagian tertentu diatur dalam PSA 41 (SA 623) untuk Laporan Khusus. Terdapat dua perbedaan utama antara audit elemen, akun, atau bagian tertentu dan audit keuangan laporan yang lengkap, yaitu:

  1. Materialitas ditentukan dalam bentuk elemen, akun, atau bagian yang diaudit, bukan laporan secara keseluruhan. Akibatnya, biasanya dibutuhkan bukti lebih banyak dibandingkan jika audit bagian tersebut merupakan bagian dari laporan keseluruhan. Misalnya, jika akun penjualan dilaporkan secara terpisah, maka salah saji yang lebih kecil akan dianggap material dibandingkan bila penjualan adalah salah satu dari banyak akun dalam audit laporan keuangan lengkap.
  2. Standar pelaporan GAAS yang pertama tidak dapat diterapkan karena penyajian elemen, akun, atau bagian bukan merupakan laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan GAAP.

Auditor harus memperluas upaya audit mereka untuk memasukkan elemen, akun, atau bagian lain yang terkait dengan bagian lain yang sedang diaudit. Misalnya, dalam menyatakan pendapat atas penjualan, auditor juga harus mempertimbangkan pengaruh piutang penjualan.

Surat Kepatuhan Utang dan Laporan Sejenis

Jika klien terlibat dalam perjanjian pinjaman yang mengharuskan mereka memberikan laporan dari akuntan public kepada pemberi pinjaman tentang ada atau tidak adanya kondisi tertentu, auditor dapat menerbitkan laporan mengenai kepatuhan utang dan penugasan sejenis dalam laporan terpisah atau dengan menambahkan paragraf setelah paragraf opini sebagai bagian dari laporan pernyataan pendapat atas laporan keuangan. Hal-hal yang perlu diperhatikan auditor;

  • Auditor berhak mengevaluasi apakah klien telah memenuhi provisi penugasan. Dalam audit atas perjanjian kepatuhan utang, auditor biasanya mengevaluasi apakah pembayaran pokok dan bunga dilakukan saat jatuh tempo, apakah terdapat pembatasan deviden, modal kerja, dan rasio utang, dan apakah pencatatan akuntansi sudah memadai dalam pelaksanaan audit biasa. Meskipun demikian, auditor tidak berhak untuk menentukan apakah klien telah membatasi kegiatan usahanya sesuai dengan persyaratan perjanjian atau dengan haknya atas property yang dijaminkan. Kode etik melarang auditor berpraktik sebagai pengacara dalam keadaan demikian.
  • Auditor harus menyediakan surat kepatuhan utang hanya bagi klien yang laporan keuangannya secara keseluruhan telah diaudit. Surat kepatuhan utang seperti adanya rasio lancer sebesar 2,5 % atau lebih baik akan sulit diselesaikan tanpa audit laporan keuangan secara lengkap.
  • Opini auditor adalah assurance negative, yang menyatakan bahwa auditor tidak melihat adanya hal yang mengindikasikan ketidakpatuhan.

MENYELESAIKAN AUDIT

A.    Penerapan Pengujian Tambahan atas Penyajian dan Pengungkapan

Pendekatan auditor dalam memperoleh bukti sehubungan dengan  tujuan penyajian dan pengungkapan konsisten dengan pendekatan dalam memperoleh bukti yang berkaitan dengan transaksi dan saldo, diantaranya yaitu :

  • Melakukan prosedur untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian untuk tujuan penyajian dan pengungkapan sebagai bagian dari prosedur penilaian resiko.
  • Melakukan pengujian pengendalian yang berhubungan dengan pengungkapan saat penilaian awal resiko pengendalian berada di bawah maksimum.
  • Melakukan prosedur subtantif

Prosedur untuk tujuan penyajian dan pengungkapan diintegrasikan dengan pengujian auditor atas tujuan audit – terkait transaksi dan tujuan audit – terkait saldo. Banyak informasi yang disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan diaudit sebagai bagian dari pengujian auditor pada tahap awal audit. Ditahap ini auditor mengevaluasi bukti yang diperoleh dari 3 tahap pertama untuk menilai apakah diperlukan bukti tambahan untuk tujuan penyajian dan pengungkapan. Auditor juga mengevaluasi apakah keseluruhan penyajian dalam laporan keuangan dan penjelasan tambahan terkait telah mematuhi prinsip akuntansi berlaku umum. Hal ini meliputi evaluasi apakah setiap laporan keuangan mencerminkan klasifikasi yang tepat dan deskripsi setiap akun yang konsisten dengan persyaratan dan bahwa informasi disajikan dalam bentuk yang benar dan dengan terminology yang tepat seperti disyaratkan dalam standar akuntansi.

Salah satu perhatian utama auditor berhubungan dengan tujuan penyajian dan pengungkapan adalah menentukan apakah manajemen sudah mengungkapkan seluruh informasi yang diperlukan. Untuk menilai resiko yang tidak dapat memenuhi tujuan penyajian dan pengungkapan, auditor harus mempertimbangkan informasi yang diperoleh selama tiga tahap pertama dalam pengujian audit untuk menentukan apakah sudah cukup menjelaskan fakta dan keadaan yang harus diungkapkan.

Sehubungan dengan uniknya pengungkapan atas kewajiban kotijensi dan kejadian setelah tanggal neraca, auditor sering kali memberikan penilaian resiko tinggi karena tidak seluruh informasi yang dibutuhkan diungkapkan dalam penjelasan tambahan. Pengujian audit yang dilakukan pada tahap awal audit sering kali tidak menyediakan bukti yang memadai mengenai kewajiban kotijensi dan kejadian setelah tanggal neraca. Oleh karena itu, auditor mendesain dan melakukan prosedur pada setiap audit untuk menelaah kewajiban kotijensi dan kejadian setelah tanggal neraca sebagai bagian dari pengujian tahap keempat.

 Telaah atas Kewajiban Kontijensi dan Komitmen

Kewajiban Kontinjensi adalah potensi utang di masa depan kepada pihak luar atas jumlah yang belum dapat ditentukan yang dihasilkan dari aktivitas yang telah dilakukan. Terdapat tiga kondisi yang diperlukan atas munculnya kewajiban kontijensi, yaitu :

  1. Terdapat potensi pembayaran di masa mendatang kepada pihak luar atau penurunan nilai asset yang dihasilkan dari kondisi sekarang.
  2. Terdapat ketidakpastian jumlah pembayaran atau penurunan nilai di masa mendatang.
  3. Hasilnya akan diperoleh dari kejadian di masa mendatang.

Ketidakpastian atas pembayaran di masa mendatang dapat bervariasi dari sangat mungkin terjadi sampai kemungkinan besar tidak terjadi. Adapun menurut PSAK 57 dijelaskan tiga tingkatan kemungkinan keterjadian dan perlakuan atas laporan keuangan yang dapat digunakan sebagai standard evaluasi dalam mempertimbangkan dan melakukan penilaian secara profesional bagi auditor terhadap kondisi pelaporan klien.

Standar audit mensyaratkan bahwa manajemen, bukan auditor, bertanggung jawab atas identifikasi dan penetuan perlakuan akuntansi yang tepat untuk kewajiban kontinjensi dan pada dasarnya dalam pengungkapan atas kontijensi dapat dilakukan atas kerjasama pihak manajemen dengan auditor. Tujuan utama auditor dalam melakukan verifikasi kewajiban kontijensi adalah :

Mengevaluasi perlakuan akuntansi atas kewajiban kontinjensi yang diketahui untuk menentukan apakah manajemen telah mengklasifikasikan kontijensi dengan benar (tujuan penyajian dan pengungkapan untuk klasifikasi).

Mengidentifikasi praktek kontinjensi yang belum diidentifikasi manajemen (tujuan penyajian dan pengungkapan untuk kelengkapan).

Komitmen sangat berkaitan erat dengan kewajiban kontinjensi. Komitmen meliputi hal-hal seperti perjanjian untuk membeli bahan baku atau melakukan sewa guna usaha suatu fasilitas pada harga tertentu dan penjualan barang dagangan pada harga yang sudah ditentukan. Karakteristik dalam komitmen yaitu perusahaan setuju berada dalam kondisi tertentu di masa mendatang, tanpa memperhatikan apa yang terjadi dengan laba perusahaan atau perekonomian keseluruhan. Perusahaan biasanya menjelaskan seluruh komitmen, baik dalam penjelasan tambahan terpisah maupun digabungkan, dengan sebuah catatan mengenai kontinjensi.

1.      Prosedur Audit Untuk Menemukan Kontijensi

Langkah pertama dalam melakukan audit kontijensi adalah menentukan apakah terdapat kontijensi (tujuan penyajian dan pengungkapan atas keterjadian). Seperti pada kenyataannya lebih sulit menemukan transaski yang tidak tercatat daripada melakukan verifikasi atas informasi yang tercatat. Saat auditor mengetahui terjadi kontijensi mereka akan melakukan evaluasi Materialitas dan Pengungkapan Penjelasan Tambahan. Berikut adalah prosedur audit yang biasa digunakan oleh para auditor dalam mengaudit kewajiban kontijensi :

Melakukan Tanya-Jawab dengan pihak manajemen (langsung / tertulis) tentang tercatatnya kontijensi.

Menelaah laporan agen penerimaan internal pada tahun berjalan dan tahun sebelumnya atas penentuan PPh.

Menelaah notulensi pertemuan direktur dan pemegang saham bila ada indikasi tuntutan hukum atau kontijensi lainnya.

Menelaah kondisi hukum untuk periode audit dan menelaah tagihan dan pernyataan dari penasihat hukum atas terjadinya kewajiban kontijensi.

Memperoleh surat dari penasihat hukum atas status kewajiban kontijensi

Menelaah dokumentasi audit bila terdapat informasi yang mengindikasikan terjadinya kontijensi.

Memeriksa perjanjian kredit tanggal neraca dan meminta konfirmasi saldo yang terpakai atau tidak.

2.      Evaluasi Kewajiban Kontijensi Yang Telah Diketahui

Jika auditor menyimpulkan bahwa terdapat kewajiban kontijensi, maka harus mengevaluasi signifikansi potensi utang dan sifat pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangan untuk memperoleh bukti atas keterjadian atas hak dan kewajiban dalam tujuan penyajian dan pengungkapan. Untuk kontijensi yang membutuhkan pengungkapan , auditor juga menelaah konsep penjelasan tambahan untuk memastikan bahwa informasi yang diuangkapkan dapat dipahami dan dinyatakan dengan wajar sesuai kondisi kontijensi.

3.      Prosedur Audit Untuk Menemukan Komitmen

Penelitian untuk mencari komitmen yang belum diketahui biasanya dilakukan sebagai bagian dari audit atas masing-masing area audit. Misalkan, dalam melakukan verifikasi penjualan, auditor seharusnya waspada atas adanya komitmen penjualan.

4.      Tanya Jawab Dengan Pengacara Klien

Prosedur utama yang diandalkan auditor untuk mengungkapkan tuntutan hukum yang diketahui atau klaim lain terhadap klien dan mengidentifikasi klaim tambahan yaitu Tanya jawab dengan pengacara klien. Auditor mengandalkan keahlian dan pengetahuan pengacara mengenai masalah hukum guna memberikan pendapat professional atas hasil tuntutan hukum yang diharapkan dan kemungkinan jumlah kewajiban kewajiban termasuk biaya sidang.

 

A.    Telaah Kejadian Setelah Tanggal Neraca

Telaah kejadian setelah tanggal neraca harus dilakukan auditor untuk menelaah transaksi dan kejadian yang muncul setelah tanggal neraca untuk menentukan apakah terdapat transaksi atau kejadian yang mempengaruhi penyajian dan pengungkapan pada laporan periode berjalan. Prosedur audit ini disyaratkan di PSA 46 (SA 560). Tanggung jawab auditor atas telaah kejadian setelah tanggal neraca biasanya terbatas pada periode awal, yaitu pada tanggal neraca dan berakhir pada tanggal laporan auditor. Oleh karena tanggal laporan auditor merupakan saat penyelesaian prosedur audit yang penting di kantor klien, maka telaah kejadian setelah tanggal neraca harus diselesaikan mendekati akhir audit.

a.      Jenis-Jenis Kejadian Setelah Tanggal Neraca

Ada dua kejadian yang harus dipertimbangkan oleh manajemen dan dievaluasi oleh auditor yaitu:

  1. Kejadian yang berdampak langsung pada Laporan Keuangan dan membutuhkan penyesuaian.

Beberapa kejadian setelah tanggal neraca memberikan informasi tambahan kepada manajemen agar dapat menentukan penyajian dan pengungkapan yang wajar atas saldo akun pada tanggal neraca. Informasi ini membantu auditor dalam melakukan verifikasi saldo. Kejadian setelah tanggal neraca seperti berikut ini, memerlukan penyesuaian atas saldo akun pada laporan keuangan tahun berjalan jika jumlahnya material;

  • Pernyataan kebangkrutan oleh pelanggan atas saldo piutang dagang yang beredar karena kondisi keuangan pelanggan memburuk.
  • Penetapan proses litigasi pada nilai yang berbeda dengan nilai yang ditetapkan pada pembukuan.
  • Penghentian asset tetap yang tidak digunakan dalam operasi pada nilai di bawah nilai buku.
  • Penjualan investasi pada harga di bawah harga perolehan.

Saat kejadian setelah tanggal neraca digunakan untuk mengevaluasi jumlah yang dimasukkan dalam laporan keuangan akhir tahun, auditor harus memisahkan antara kondisi pada tanggal neraca dan kondisi setelah akhir tahun. Informasi setelah tanggal neraca tidak boleh dimasukkan dalam laporan jika keadaan yang menyebabkan perubahan nilai terjadi setelah akhir tahun.

2. Kejadian yang tidak berdampak langsung pada Laporan Keuangan, tetapi memerlukan pengungkapan.

Kejadian ini memberikan kondisi yang tidak terjadi pada tanggal neraca yang dilaporkan, tetapi tidak signifikan namun tetap memerlukan pengungkapan meskipun tidak memerlukan penyesuaian akun. Akun ini biasanya diungkapkan dengan penjelasan tambahan, tetapi terkadang bisa cukup signifikan sehingga memerlukan pengungkapan pada laporan keuangan tambahan (supplemental financial statements) yang memasukkan dampak kejadian seolah-olah kejadian tersebut muncul pada tanggal neraca.

Kejadian atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca yang memerlukan pengungkapan, bukan hanya penyesuaian dalam laporan keuangan, meliputi:

  • Penurunan nilai pasar atas sekuritas milik perusahaan untuk investasi sementara atau akan dijual kembali
  • Penerbitan obligasi atau sekuritas ekuitas
  • Penurunan nilai pasar atas persediaan sebagai dampak dari tindakan pemerintah yang membatasi penjualan produk
  • Kerugian persediaan yang tidak diasuransikan akibat kebakaran
  • Penggabungan usaha atau akuisisi.

Auditor perusahaan publik dapat juga mengidentifikasi kejadian yang berhubungan dengan pengendalian internal atas laporan keuangan yang muncul setelah tanggal neraca. Jika auditor menentukan bahwa kejadian setelah tanggal neraca ini berdampak material pada pengendalian internal atas laporan keuangan perusahaan, maka laporan auditor harus memasukkan paragraph penjelasan, baik yang menjelaskan kejadian dan dampaknya atau pun yang langsung mengarahkan pembaca kepada pengungkapan laporan manajemen dalam pengendalian internal berikut dampaknya.

b.      Pengujian Audit

Prosedur audit untuk menelaah kejadian setelah tanggal neraca terbagi dalam dua kategori yaitu:

  1. Prosedur yang biasanya terintegrasi sebagai bagian dari verifikasi saldo akun akhir tahun.

Prosedur ini meliputi pengujian pisah batas dan penilaian yang dilakukan sebagai bagian dari pengujian perincian saldo. Misal auditor memeriksa transaksi penjualan dan pembelian setelah tanggal neraca untuk menentukan apakah pisah batasnya akurat.

2. Prosedur  yang dilakukan khususnya untuk menemukan kejadian atau transaksi yang harus diakuai sebagai kejadian setelah tanggal neraca.

Kategori pengujian kedua adalah pengujian yang khusus menyediakan informasi untuk menguji saldo akun tahun berjalan atau penjelasan tambahan sebagai pengujian kelengkapan untuk tujuan penyajian dan pengungkapan. Pengujian tersebut meliputi:

–          Tanya jawab dengan Manajemen

Tanya jawab dengan pihak manajemen mengenai kejadian setelah tanggal neraca harus dilakukan dengan pihak klien yang tepat untuk mendapatkan jawaban yang memadai.

–          Koresondensi dengan Pengacara

Auditor berkorespondensi dengan pengacara sebagai bagian dari pencarian kewajiban kontijensi. Auditor biasanya meminta pengacara untuk memberikan tanggal dan mengirimkan surat pada tanggal penyelesaian pekerjaan lapangan untuk memenuhi kewajiban auditor atas kejadian setelah tanggal neraca.

–          Telaah atas Laporan Internal yang dibuat setelah tanggal neraca

Dalam menelaah laporan internal, auditor harus menekankan perubahan pada bisnis perusahaan yang dibandingkan dengan hasilnya untuk periode audit dan perubahan setelah akhir tahun. Mereka harus berhati-hati atas perubahan besar yang terjadi dalam bisnis atau lingkunganr dimana klien beroperasi. Auditor harus membahas laporan intern dengan manajemen untuk menentukan apakah laporan itu dibuat dengan dasar yang sama dengan laporan periode berjalan dan melakukan Tanya jawab mengenai perubahan signifikan atas hasil operasinya.

–          Telaah atas pencatatan yang dibuat setelah tanggal neraca

Auditor harus menelaah jurnal dan buku besar untuk menentukan keberadaan dan sifat dari transaksi signifikan yang berhubungan dengan tahun berjalan. Jika jurnal tidak selalu terbarui, maka auditor harus menelaah dokumen yang akan digunakan untuk menyusun jurnal tersebut.

–          Pemeriksaan notulensi pertemuan dewan direksi setelah tanggal neraca

Auditor harus memeriksa notulensi pertemuan pemegang saham dan pertemuan direksi atas kejadian-kejadian setelah tanggal neraca yang memengaruhi pelaporan periode berjalan.

–          Permintaan surat representasi

Surat represintasi dibuat oleh manajemen klien kepada auditor yang menyatakan adanya perbedaan hal-hal selama masa audit, termasuk pembahasan mengenai kejadian setelah tanggal neraca. Surat ini harus dibuat dan mencakup hal-hal lain yang penting.

c.       Penetapan Tanggal Ganda

            Biasanya auditor menentukan bahwa kejadian setelah tanggal neraca yang memengaruhi laporan keuangan periode berjalan terjadi setelah pekerjaan lapangan selesai, tetapi sebelum laporan audit diterbitkan. Misal jika klien audit membeli perusahaan lain setelah hari terakhir pekerjaan lapangan. Dengan mengasumsikan bahwa pembelian terjadi pada 23 Maret, sedangkan hari terakhir pekerjaan lapangan adalah 11 Maret. Dalam situasi ini, PSA 43 (SA 530) mensyarakatkan auditor untuk memperluas pengujian audit pada kejadian setelah tanggal neraca yang baru ditemukan untuk memastikan hal itu sudah diungkapkan. Auditor memiliki dua pilihan atas perluasan pengujian kejadian setelah tanggal neraca, yaitu:

  1. Memperluas seluruh kejadian setelah tanggal neraca ke batas tanggal yang baru.
  2. Membatasi telaah kejadian setelah tanggal neraca sehubungan dengan kejadian baru setelah tanggal neraca.

B.     Akumulasi Bukti Akhir

Terdiri dari beberapa tahap yaitu :

1.      Melakukan Prosedur Analitis Akhir

Saat melakukan prosedur analitis selama tahap telah akhir, yang disyaratkan dlam standar audit, rekanan biasanya membaca laporan keuangan, termasuk penjelasan tambahan, dan mempertimbangkan hal berikut :

  1. Kecukupan bukti yang dikumpulkan atas saldo akun yang tidak lazim atau tidak diharapkan atau hubungan yang teridentifikasi selama perencanaan atau selama pelaksanaan audit.
  2. Saldo akun yang tidak lazim atau tidak diharapkan atau hubungan yang tidak teridentifikasi sebelumnya.

Hasil dari prosedur analitis akhir bisa jadi mengindikasikan bahwa bukti audit tambahan dibutuhkan.

2.      Mengevaluasi Asumsi Kelangsungan Usaha

Auditor membuat penilaian pada awalnya sebagai bagian dari perencanaan, tetapi bisa saja mengubah hasil penilaian bila ada informasi baru. Misalnya, penilaian awal atas kelangsungan usaha akan direvisi bila ada temuan auditor selama masa audit bahwa perusahaan tidak dapat membayar utang, kehilangan konsumen utama, atau memutuskan untuk menjual aset penting untuk membayar utang. Auditor menggunakan prosedur analitis, mendiskusikan dengan manajemen mengenai kemungkinan adanya kesulitan keuangan, dan mengumpulkan informasi mengenai bisnis klien selama masa audit agar dapat memberikan penilaian terhadap kemungkinan kesulitan keuangan pada tahun depan.

Penilaian akhir atas kelangsungan usaha entitasdipertimbangkan setelah seluruh bukti dikumpulkan dan rencana penyesuaian audit diajukan kedalam laporan keuangan. Saat auditor menetapkan asumsi kelangsungan usaha, mereka harus mengevaluasi rencana manajemen dalam menghindari kebangkrutandan mengevaluasi kelayakan dalam realisasi rencana tersebut.

3.      Memperoleh Surat Representasi Manajemen

Tiga tujuan suat representasi klien tersebut adalah :

  1. Menekankan kepada manajemen bahwa mereka bertanggung jawab atas penilaian laporan keungan. Manajemen mudah melupakan tanggung jawab mereka atas penyajian laporan keuangan yang wajar, terutama untuk perusahaan kecil yang personelnya kurang memahami akuntansi.
  2. Mengingatkan manajemen atas potensi salah saji atau hal yang tidak dimasukkan dalam laporan keuangan. Misalnya, jika surat representasi memasukkan referensi aset yang dijaminkan atau kewajiban kontijensi, maka manajemen yang jujur akan diingatkan atas kesalahan tak disengaja terhadap pengungkapan laporan keuangan secara memadai, yang akan membantu memenuhi kelengkapan tujuan penyajian dan pengungkapan. Untuk memenuhi tujuan ini, surat representasi harus memuat perincian secara memadai untuk mengingatkan manajemen.
  3. Mendokumentasikan jawaban dari manajemen atas tanya jawab mengenai berbaagai spek dalam audit. Dokumen ini dinuat tertulis dan memuat perihal ketidaksetujuan atu tuntutan hukum antara auditor dengan klien. Oleh karena hal ini lebih formal dibandingkan dengan kamunikasi langsung, maka surat representasi juga membantu mengurangi kesalahpahaman antara manajemen dan auditor.

SA 333 menyebutkan empat kategori penting yang perlu dimasukkan. Keempat kategori tersebut beserta contohnya, adalah sebagai berikut :

  1. Laporan keuangan
  • Pernyataan manajemen berisi pertanggungjawaban atas penyajian laporan keuangan yang wajar.
  • Keyakinan manajemen bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

       2. Kelengkapan informasi

  • Ketersediaan seluruh pencatatan akuntansi dan data terkait.
  • Kelengkapan dan ketersediaan seluruh notulensi pertemuan pemegang saham, direktur, dan dewan direksi.

       3. Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan

  • Keyakinan manajemen bahwa dampak dari salah saji laporan keuangan yang tidak dikoreksi adalah tidak material bagi laporan keuangan keseluruhan.
  • Informasi mengenai kecurangan meliputi (a) manajemen, (b) karyawan yang berperan penting dalam pengendalian internal, atau (c) lain-lain dimana kecurangan dapat berdampak material dalam laporan keuangan.
  • Informasi mengenai transaksi pihak terkait dan jumlah piutang dan terutang dari dan kepada pihak terkait.
  • Klaim yang belum diajukan atau penilaian dari pengacara klien memiliki asersi penting dan harus  diungkapkan sesuai PSAK No.57, Estimasi Utang, Kewajiban Kontijensi, dan Aset Bersyarat.

       4. Kejadian setelah tanggal neraca

  • Kebangkrutan konsumen utama dengan piutang dagang berjumlah besar pada tanggal neraca.
  • Penggabungan usaha atau akuisisi setelah tanggal neraca.

Surat representasi klien adalah pernyataan tertulis dari sumber yang tidak independen, karena itu tidak dapat dianggap sebagai bukti yang bisa diandalkan. Meskipun demikian, surat tersebut merupakan dokumen dimana manajemen ditanyai dengan pertanyaan tertentu untuk memastikan bahwa manajemen memahami tanggung jawabnya dan untuk melindungi auditor jika manajemen akan menuntut auditor.

4.      Mempertimbangkan Informasi yang Menyertai Laporan Keuangan Dasar

Auditor harus jelas memisahkan audit dan tanggung jawab pelaporan atas laporan keuangan utama dan untuk informasi tambahan. Biasanya, auditor tidak melakukan audit terperinci yang memadai untuk menyesuaikan opini atas informasi tambahan, tetapi dalam kondisi tertentu auditor dapat saja mengandalkan bahwa informasi tersebut disajikan dengan wajar. Standar pelaporan profesi mensyaratkan auditor untuk membuat pernyataan yang jelas mengenai tingkat tanggung jawab yang diambil atas informasi tambahan ini. Dua jenis opini yang diperbolehkan : opini positif yang mengindikasikan tingkat kepastian tinggi atau tidak memberikan pendapat yang mengindikasikan tidak ada kepastian.

Klien kadang-kadang memasukkan informasi tambahan di luar laporan keuangan dasar yang dibuat untuk manajemen atau pengguna laporan dari luar. PSA 36 (SA 351) merujuk pada informasi tambahan tersebut sebagai informasi yang menyertai laporan keuangan dasar dalam dokumen yang diserahkan oleh auditor.

Saat auditor menerbitkan opini atas informasi tambahan yang menyertai laporan keuangan, materialitasnya sama dengan yang digunakan dalam membuat opini terhadap laporan keuangan dasar. Akibatnya, prosedur tambahan yang diperlukan tidak seluas saat auditor menerbitkan opini atas informasi yang diambilnya sendiri, seperti atas laporan akun atau bagian tertentu. Auditor memberikan tambahan kata-kata pada laporan standar auditor  saat menyatakan opini untuk tambahan informasi, seperti contoh berikut :

Audit kami dilakukan dengan membentuk opini atas laporan keuangan dasar secara keseluruhan. Informasi yang menyertai pada halaman x sampai y disajaikan sebagai analisis tambahan dan bukan bagian penting dalam laporan keuangan dasar. Informasi ini ditujukan untuk memenuhi prosedur audit yang diterapkan pada audit laporan keuangan dasar dan, dalam opini kami, disajikan dengan wajar dalam segala hal yang sifatnya material sehubungan dengan laporan keuangan dasar secara keseluruhan.

1.      Membaca Informasi Lain Dalam laporan Tahunan

PSA 44 (SA 550) mensyaratkan auditor untuk membaca informasi lain yang dimasukkan dalam laporan tahunan mengenai laporan keuangan. Misalnya, asumsikan bahwa surat direktur dalam laporan tahunan menyebutkan kenaikan laba per lembar saham dari Rp.2.600 menjadi Rp.2.930. auditor diminta untuk membandingkan informasi tersebut dengan laporan keuangan atas kesesuaiannya.

SA 550 hanya menyebutkan informasi yang bukan bagian dari laporan keuangan, tetapi dipublikasikan bersama dengan laporan ini. Misalnya, surat direktur dan penjelasan atas aktivitas perusahaan yang dimasukkan dalam laporan tahunan untuk hampir sekuruh perusahaan publik. Auditor biasanya hanya menghabiskan waktu beberapa menit untuk memastikan bahwa informasi non-laporan keuangan konsisten dengan laporannya. Jika auditor menyimpulkan bahwa ada ketidakkonsistenan yang material, maka ia harus meminta klien untuk mengubah informasi tersebut. Jika klien menolak, dan hal ini tidak biasa, maka auditor akan memasukkan paragraf penjelasan dalam laporan audit atau mengundurkan diri.

A.    Evaluasi Hasil

Setelah melaksanakan seluruh prosedur audit dalam setiap area audit, termasuk telaah untuk kontinjensi dan kejadian setelah tanggal neraca serta akumulasi bukti akhir, auditor harus mengintergrasikan hasil tersebut kedalam satu kesimpulan keseluruhan mengenai laporan keuangan. Pada akhirnya, auditor harus memutuskan apakah bukti audit sudah memadai dan tepat untuk diakumulasikan untuk menjamin kesimpoulan bahwa laporan keuanga disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum, dan diaplikasikan secara konsisten dengan tahun sebelumnya.

Evaluasi akhir atas kecukupan bahan bukti adalah berupa penelaahan oleh auditor atas seluruh audit untuk menentukan apakah seluruh aspek penting telah cukup diuji setelah mempertimbangkan situasi penugasan. Langkah utama dalam proses ini adalah penelaahan program audit untuk meyakinkan bahwa seluruh bagian telah secara akurat diselesaikan dan didokumentasikan dan bahwa seluruh tujuan audit dipenuhi. 

a.      Bukti yang tepat dan memadahi

Untuk membuat evaluasi akhir apakah bukti sudah diakumulasikan dengan tepat dan memadai, auditor menelaah dokumentasi atas audit keseluruhan untuk menentukan apakah seluruh hal material dari transaksi, akun dan pengungkapan sudah diuji secara memadai, dengan mempertimbangkan seluruh kondisi audit. Bagian penting dalam telaah adalah memastikan bahwa seluruh bagian dari program audit dilengkapi dengan akurat dan didokumentasikandan seluruh tujuan audit terpenuhi.

Untuk membantu dalam memutuskan apakah audit sudah memadai, auditor sering menggunakan daftar pembanding (checklist) penyelesaian audit, sebagi pengingat biloa ada yang terlewatkan. Jika auditor memutuskan bahwa bukti yang memadai tidak terpenuhi dalam rangka memutuskan apakah laporan keuangan disajikan secara wajar, maka mereka memiliki dua pilihan: (1) mengakumulasikan bukti tambahan atau (2) menerbitkan opini dengan pengecualian atau tidak memberikan opini.

b.      Bukti pendukung opini auditor

Bagian penting dari evaluasi apakah laporan keuangan disajikan secara wajar adalah mengikhtisarkan salah saji yang ditemukan dalam audit. Manakala auditor menemukan salah saji yang material, neraca saldo harus disesuaikan untuk menkoreksi laporan keuangan. Jika auditor percaya bahwa terdapat kecukupan bahan bukti tetapi tidak menjamin kesimpulan mengenai penyajian laporan keuangan yang awajar, auditor sekali lagi mempunyai dua pilihan: laporan harus direvisi hingga auditor puas atau memberikan pendapat wajar tanpa syarat atau menolak untuk memberikan pendapat harus diterbtikan. Perhatikan bahwa pilihan disini berbeda dengan yang dibahas dalam kasus ketidakcukupan bahan bukti yang diperoleh.

c.       Pengungkapan laporan keuangan

Sebelum menyelesesaikan audit, auditor harus membeuat evaluasi akhir apakah pengungkapan laporan keuangan sudah memenuhi seluruh tujuan penyajian dan pengungkapan.

Sebagai bagian dari telaah akhir dalam pengungkapan laporan keuangan, banyak KAP mensyaratkan adanya penyelesaian daftar pembanding laporan keuangan untuk setiap audit. Kuesioner ini didesain untuk mengingatkan auditor tentang masalah yang biasanya muncul dalam laporan keuangan dan memfasilitasi telaah akhir untuk keseluruhan audit oleh seorang rekanan independen.

d.      Telaah dokumentasi audit

Ada tiga alasan mengapa staf firma audit yang berpengalaman harus menelaah dokumentasi audit pada saat penyelesaian audit:

1)      Untuk mengevalusi kinerja karyawan yang belum berpengalaman.

Bagian yang perlu dipertimbangkan dari kebanyakan audit dilaksanakan oleh staf audit dengan pengalaman kurang dari empat atau lima tahun.

2)      Memastikan bahwa proses audit memenuhi standar kinerja

Dalam setiap organisasi kualitas kinerja individu sangat bervariasi, tetapi penelaahan yang seksama oleh staf tingkat atas dalam perusahaan membantu mempertahankan kualitas audit yang seragam.

3)      Menghilangkan kerancuan yang sering muncul dalam penilaian auditor

Auditor dapat berusaha agar senantiasa objektif dalam seluruh audit, tetapi mudah untuk kehilangan perspektif yang memadai dalam audit yang panjang jika terdapat masalah kompleks yang ingin dipecahkan.

e.       Telaah independen

Pada saat penyelesaian audit yang lebih besar, biasanya terdapat telaah untuk laporan keuangan dan keseluruhan berkas audit oleh penelaah independen yang ridak terlibat dalam audit, tetapi merupakan staf kantor akuntan yang juga melakukan audit. Telaah independen diisyaratkan oleh SEC termasuk telaah atas informasi keuangan interim dan audit pengendalian internal.

f.       Ringkasan evaluasi bukti

Auditor mengevaluasi kecukupan dan kelayakan bukti pada saat mengevauasi risiko audit, berdasarkan akun dan siklus, dan kemudian membuat evaluasi yang sama untuk laporan keuangan keseluruhan. Auditor juga mengevaluasi bukti pendukung atas opini audit dengan mengestimasi salah saji dalam setiap akun dan kemudian untuk laporan keuangan keseluruhan. Evaluasi risiko audit dan estimasi salah saji dibuat pada waktu bersamaan dan berdasarkan evaluasi tersebut, laporan audit diterbitkan untuk laporan keuangan.

A.    Penerbitan Laporan Audit

Auditor harus menunggu untuk menentukan laporan audit untuk di audit hingga seluruh bukti diakumulasi dan dievaluasi. Hal tersebut dilakukan karena laporan audit merupakan satu-satunya yang dilihat oleh sebagian besar pengguna dari keseluruhan proses audit dan konsekuensi dari penerbitan laporan audit yang tidak benar sangat besar.

Sebagian besar auditor dalam mengaudit menerbitkan laporan standar tanpa pengecualian dengan kata-kata baku. KAP biasanya memiliki bentuk baku laporan audit dan hanya di ganti nama klien, judul laporan keuangan, dan tanggalnya. Apabila KAP memutuskan bahwa laporan standar tanpa pengecualian tidak memadai, maka pembahasan lebih lanjut dilakukan antara rekanan dalam KAP dan juga klien. KAP memiliki manual laporan audit komprehensif yang membantu mereka dalam memilih kata-kata yang tepat dalam laporan jika diperlukan oleh auditor.

B.     Berkomunikasi dengan Komite Audit dan Manajemen

  • Pembahasan Tentang Kecurangan dan Tindakan Ilegal

PSA 32 (SA 316) dan PSA 31 (SA 317) mensyaratkan auditor untuk menyampaikan seluruh kecurangan dan tindakan illegal kepada komite audit dan kelompok lain yang sejenis, meskipun tidak material. Tujuannya adalah untuk membantu komite audit dalam melakukan tugas pengawasan atas laporan keuangan.

  • Pembahasan Tentang Kurangnya Pengendalian Internal

Auditor harus menyampaikan perihal kurangnya pengendalian internal dan kelemahan material dalam desain atas pengoperasian pengendalian internal secara tertulis kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Untuk perusahaan yang lebih besar, hal tersebut disampaikan kepada komite audit dan dalam perusahaan yang lebih kecl, dapat dilakukan kepada pemilik perusahaan atau manajemen senior.

  • Pembahasan Hal Lainnya Kepada Komite Audit

PSA 48 (SA 380) mensyaratkan auditor untuk menyampaikan informasi tambahan yang diperoleh selama audit kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, biasanya adalah komite audit. Tujuan dari penyampaian ini adalah agar komite audit dan pihak lain yang bertanggung jawab atas tata kelola mengetahui tentang informasi penting dan relevan mengenai proses laporan keuangan dan memberikan kesempatan kepada komite audit untuk membahas hal-hal penting dengan auditor.

  • Surat Manajemen (Management Letter)

Surat manajemen ditujukan untuk menginformasikan kepada klien mengenai rekomendasi KAP guna meningkatkan bisnis klien. Rekomendasi biasanya berfokus pada efisiensi pengoperasian perusahaan. Kombinasi antara pengalaman auditor dalam berbagai area bisnis dan melalui pemahaman yang diperoleh dalam melakukan audit membuat auditor dapat memberikan pengarahan kepada managemen.

Surat manajemen berbeda dengan surat yang melaporkan kurangnya pengendalian internal. Surat manajemen diperlukan karena adanya kekurangan signifikan atau kelemahan penting atas pengendalian internal dan harus mengikuti format yang diberikan dan dikirimkan sesuai dengan persyaratan standar audit. Surat manajemen merupakan suatu opsi dan ditujukan untuk membantu klien dalam mengoperasikan bisnisnya lebih efektif.

 C.    Penemuan Fakta Setelah Tanggal Neraca

Audit dikatakan selesai ketika auditor menerbitkan laporan audit dan menyelesaikannya seluruh pembahasan dengan manajemen dan komite audit. Terkadang auditor menemukan bahwa setelah audit laporan keuangan diterbitkan terjadi salah saji material dalam laporan keuangan. Pada saat terdapat penemuan fakta setelah penerbitan laporan audit terjadi, auditor berkewajiban untuk memastikan bahwa pengguna laporan keuangan mendapatkan informasi atas salah saji tersebut. Jika auditor mengetahui salah saji sebelum pelaporan audit diterbitkan, maka auditor akan memaksa manajemen untuk melakukan koreksi salah saji atau menerbitkan laporan audit yang berbeda.

Jika auditor menemukan bahwa terdapat kekeliruan dalam laporan keuangan setelah diterbitkan, maka tindakan yang paling tepat adalah meminta klien untuk menerbitkan revisi laporan keuangan yang memasukkan penjelasan atas alasannya. Jika periode setelah tanggal neraca atas laporan keuangan sudah selesai sebelum revisi diterbitkan, maka diperbolehkan mengungkapkan salah saji tersebut dalam laporan periode setelah tanggal neraca. Jika hal tersebut penting, maka klien harus melaporkan kepada Bapepam-LK dan regulator lainnya atas salah saji laporan keuangan tersebut.

Jika klien menolak mengungkapkan salah saji ke dalam laporan, maka auditor harus menginformasikan kepada dewan dierksi dan harus mengingatkan kepada regulator agar membatasi klien karena laporan keuangan tidak lagi disajikan wajar dan jika memungkinkan, menyampaikan kepada semua pihak pengguna laporan keuangan. Jika saham perusahaan dijual kepada publik, maka auditor dapat meminta Bapepam-LK dan pihak pasar modal untuk mengingatkan para pemegang saham mengenai hal tersebut.

Tanggung jawab auditor atas telaah kejadian setelah tanggal neraca berakhir pada tanggal penyelesaian pekerjaan lapangan. Auditor tidak bertanggung jawab untuk mencari fakta-fakta, tetapi jika mereka menemukan bahwa laporan keuangan tidak dinyatakan dengan wajar, maka mereka harus melakukan tindakan koreksi.

AUDIT SALDO KAS

1. KAS DI BANK DAN SIKLUS TRANSAKSI

Dalam audit atas kas, auditor harus membedakan antara verifikasi rekonsiliasi saldo laporan bank oleh klien dengan saldo buku besar, dan verifikasi bahwa pencatatan kas dalam buku besar merefleksikan dengan benar seluruh transaksi kas yang terjadi sepanjang tahun. Verifikasi rekonsiliasi klien ke  akun saldo bank dan buku besar lebih mudah, tetapi bagian terpenting dalam total audit dalam perusahaan adalah adanya verifikasi bahwa pencatatan  transaksi kas dilakukan dengan benar. Misalnya, setiap salah saji berikut ini menghasilkan kesalahan dalam pembayaran atau menyebabkan kesalahan dalam penerimaan kas, tetapi tak satupun dapat ditemukan dalam audit atas rekonsiliasi bank :

  • Kesalahan dalam menagih konsumen
  • Pencurian kas dengan menghambat pembayaran kas dari konsumen sebelumnya dicatat, dengan akun dianggap sebagai piutang tak tertagih
  • Duplikasi pembayaran faktur vendor
  • Pembayaran tidak benar atas biaya pribadi pejabat perusahaan
  • Pembayaran atas bahan baku yang tidak pernah diterima
  • Pembayaran atas karyawan  lebih besar daripada jam kerja aktualnya
  • Pembayaran atas bunga pada pihak luar jumlahnya lebih besar dibandingkan tingkat bunga sebenarnya

Seluruh jenis salah saji biasanya ditemukan sebagai bagian dari pengujian atas rekonsiliasi bank. Hal ini meliputi :

  • Kesalahan dalam memasukkan cek yang tidak dicairkan didalam daftar cek beredar, meskipun telah dicatat dalam jurnal pengeluaran kas
  • Kas yang diterima dari klien masih dalam perjalanan pada tanggal neraca, tetapi sudah dicatat dalam penerimaan kas pada tahun berjalan
  • Setoran dicatat sebagai penerimaan kas mendekati akhir tahun, disetorkan pada bank dibulan yang sama, dan dimasukan dalam rekonsiliasi bank sebagai setoran dalam perjalanan
  • Pembayaran atas weswl bayar didebet langsung dari saldo bank oleh bank, tetapi tidak dimasukkan dalam catatan klien.

2. JENIS-JENIS AKUN KAS UMUM

Sebelum membahas mengenai pengujian klien atas rekonsiliasi bank klien, akan dibahas terlebih dahulu tentang jenis akun kas yang digunakan oleh banyak perusahaan karena pendekatan yang digunakan akan berbeda pada setiap akunnya. Berikut adalah jenis-jenis dari akun kas :

Akun Kas Umum

Akun kas umum adalah titik fokus bagi banyak perusahaan karena semestinya seluruh penerimaan kas dan pengeluaran kas mengalir melalui akun ini. Misalnya, pengeluaran dalam siklus akusisi dan pembayaran biasanya dibayar melalui akun kas umum, dan penerimaan kas dalam siklus penjualan dan penagihan juga disetorkan ke dalam akun tersebut.

Akun Impres

Pada umumnya banyak perusahaan yang mengunakan akun impres. Misalnya, membuat akun penggajian impres terpisah untuk meningkatkan pengendalian internal pembayaran gaji. Saldo tetap, misalkan Rp. 5.000.000,- dibuat dalam akun bank penggajian. Segera sebelum setiap periode pembayaran, suatu cek atas transfer elektronik ditarik pada akun kas umum untuk menyetorkan total jumlah penggajian bersih ke akun penggajian. Setelah cek untuk gaji dilakukan pada akun penggajian impres, akun bank seharusnya memiliki saldo Rp. 5.000.000,-. Satu-satunya setoran ke dalam akun adalah untuk penggajian mingguan dan semi bulanan dan satu-satunya pengeluaran adalah pembayaran cek kepada karyawan.

Terdapat jenis akun impres lain yang terdiri atas satu akun bank untuk penerimaan dan pengeluaran. Perusahaan bisa saja memilikin akun ini untuk setiap divisi berbeda. Seluruh penerimaan disetorkan ke dalam akun impres dan totalnya dipindahkan ke akun umum secara periodik. Akun pengeluaran dibentuk berbasis impres, tetapi dengan cara yang berbeda dengan akun pengajian impres.

Akun Bank Cabang

Akun bank cabang berguna untuk membangun relasi dengan bank dalam komunitas lokal dan memungkinkan sentralisasi operasional pada tingkat cabang. Dalam beberapa perusahaan, penyetoran dan pengeluaran untuk setiap cabang dibuat dalam akun yang berbeda, dan kelebihan kas secara periodik dikirimkan ke akun bank umum pada kantor pusat. Akun cabang dalam ini seperti akun umum, tetapi pada tingkat cabang.

Dana Kas Kecil Impres

Dana kas kecil impres bukan merupakan akun bank, tetapi hampir sama dengan kas pada bank. Kun kas kecil biasanya merupakan akun kas yang simpel untuk keperluan biaya yang mendadak. Akun ini digunakan untuk pengeluaran kas berjumlah kecil yang lebih mudah dibayarkan jika menggunakan uang tunai dibandingkan dengan cek atau untuk memudahkan karyawan dalam mencairkan cek gaji atau pribadi.

Setara Kas

Perusahaan ini biasanya menginvestasikan kelebihan akumulasi kas dalam bagian tertentu dalam suatu siklus, dimana kas tersebut akan diperlukan dalam waktu dekat dan bisa disebut setara kas yang sangat likuid. Setara kas meliputi deposito berjangka, sertifikat deposito, dan dana pasar uang. Setara kas bisa sangat material dan dimasukan dalam laporan keuangan sebagai keuangan dari akun kas jika merupakan investasi jangka pendek yang siap dikonversikan menjadi kas dalam jumlah yang pasti, dan tidak dapat dirisiko signifikan atas perubahan nilai dari perubahan tingkat bunga. Sekuritas yang dapat diperdagangkan dan investasi berbunga dengan jangka waktu yang lebih panjang bukan merupakan setara kas.

3. AUDIT ATAS KAS UMUM

Pada pengujian saldo akhir tahun dalam akun kas umum, auditor harus mengakumulasikan bukti yang cukup memadai untuk mengevaluasi apakah kas, sebagaimana dinyatakan dalam neraca, dinyatakan dan diungkapkan dengan wajar sesuai lima dari keenam tujuan audit-terkait saldo untuk seluruh pengujian perincian saldo (keberadaan, kelengkapan, akurasi , pisah batas, dan kecocokan perincian). Hak atas kas umum, klasifikasinya dalam neraca, dan nilai realisasi kas tidak dapat diaplikasikan. Metodologi untuk kas pada akhir tahun sama dengan saldo akun neraca lainya.

Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien Yang mempengaruhi Kas (Tahap I)

Banyak perusahaan yang tidak memiliki risiko bisnis yang cukup signifikan dalam memengaruhi saldo kas. Risiko bisnis klien dapat muncul dari kebijakan menajemen kas yang tidak memadai atau penanganan dana yang dilakukan pihak luar.

Risiko bisnis klien lebih banyak muncul dari setara kas dan jenis investasi lainya. Beberapa perusahaan yang menyediakan jasa keuangan mengalami kerugian besar akibat aktivitas perdagangan oleh perorangan yang disembunyikan dengan salah menyajikan saldo investasi dan kas. Auditor harus memahami risiko dari kebijakan dan strategi investasi klien, sama halnya dengan pengendalian manajemen yang dapat memperburuk risiko tersebut.

 

Menetapkan Salah Saji yang Dapat Diterima dan Menilai Risiko Bawaan (Tahap I)

Saldo kas tidak material dalam kebanyakan audit, tetapi transaksi kas yang memengaruhi saldo ini sifatnya hampir selalu sangat material. Oleh karena itu, sering muncul potensi salah saji material dalam kas.

Oleh karena kas lebih mudah dicuri dibandingkan aset lainya, terdapat risiko bawaan cukup tinggi untuk tujuan keberadaan, kelengkapan dan akurasi. Tujuan ini biasanya akan berfokus pada audit saldo kas. Risiko bawaan relatif kecil untuk tujuan lainya.

 

Menilai Risiko Pengendalian (Tahap I)

Pengendalian internal atas saldo kas akhir tahun dalam akun umum dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu:

  1. Pengendalian atau siklus transaksi yang memengaruhi pencatatan penerimaan kas dan pengeluaran kas.
  2. Rekonsiliasi bank independen

Pada bab ini, kita membahas pengendalian yang memengaruhi pencatatan transaksi kas, yang penting dalam penelitian dan pengendalian untuk kas. Misalnya dalam siklus akuisisi, pengendalian utama meliputi pengendalian pembagian tugas yang memadai antara penandatangan cek dan fungsi utang dagang,penandatanganan cek hanya dilakukan oleh personel yang berwenang, menggunakan cek yang bernomor urut yang dicetak pada kertas khusus, adanya telaah yang saksama atas dokumen pendukung sebelum cek ditandatangani oleh personel yang berwenang, dan verifikasi internal yang memadai. Jika penegendalian yang memengaruhi kas terkait transaksi beroperasi efektif, maka risiko pengendalian berkurang sebagaimana pengujian audit untuk rekonsiliasi bank akhir tahun.

Pengendalian yang penting atas saldo akhir kas adalah rekonsiliasi bank secara bulanan dari akun bank umum berbasis waktu oleh personel yang independen dari pihak yang menangani atau mencatat transaksi kas. Jika suatu perusahaan melakukan rekonsiliasi bank dengan memakan waktu lama, maka nilai pengendalian akan turun dan memengaruhi penilaian auditor atau risiko pengendalian kas. Rekonsiliasi membantu mencatat akuntansi agar mencerminkan saldo kas yang lama antar saldo kas aktual di bank setelah mempertimbangkan transaksi-transaksi yang memerlukan rekonsiliasi. Lebih penting lagi, verifikasi atas transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dapat dilakukan dalam rekonsiliasi yang independen. Jika laporan bank diterima dalam keadaan tertutup oleh pihak yang merekonsiliasi dan pengendalian fisik dilakukan atas laporan bank tersebut sampai rekonsiliasi diselesaikan, maka cek dibatalkan, duplikat slip setoran, dokumen lain yang termasuk dalam laporan bank dapat diperiksa tanpa perlu khawatir akan diganti, dihapus atau ditambahkan. Rekonsiliasi bank dilakukan dengan hati-hati oleh pihak klien dengan melakukan tindakan berikut ini:

    • Membandingkan cek yang dibatalkan dengan catatan pengeluaran kas atas tanggal, dibayarkan kepada siapa, dan berapa jumlahnya.
    • Memeriksa tanda tangan, personel otorisasi, dan pembatalan atas cek dibatalkan.
    • Membandingkan setoran ke bank dengan tanggal, pembeli, dan jumlah pada pencatatan setoran kas.
    • Memeriksa urutan nomer pada cek dan memeriksa jika ada yang hilang.
    • Merekonsiliasi seluruh bagian yang menyebabkan perbedaan antara saldo buku dengan saldo bank dan memeriksa kewajaranya dalam bisnis klien.
    • Merekonsiliasi total debet pada laporan bank dengan total catatan pengeluaran kas.
    • Merekonsiliasi total kredit pada laporan bank dengan total catatan penerimaan kas.
    • Menindaklanjuti cek beredar dan peringatan penghentian pembayaran.

Banyak paket peranti lunak akuntansi yang menyediakan rekonsiliasi bank sebagai bagian dari prosedur bulanan. Meskipun peranti lunak mengurangi tindakan klerikal dalam melakukan rekonsiliasi bank, pihak yang menyiapkan harus tetap melakukan banyak prosedur pada daftar di atas. Pengendalian atas rekonsiliasi bank dilakukan pada saat personel yang kompoten menelaah rekonsiliasi bank sesegera mungkin setelah selesai.

Mendesain dan Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substansif Atas Transaksi (Tahap II)

Oleh karena saldo kas dipengaruhi oleh seluruh siklus, kecuali persediaan dan pergudangan, maka sejumlah besar transaksi akun memengaruhi kas. Dalam bab-bab sebelumnya, telah membahas secara terperinci mengenai pengujian pengendalian dan pegujian substansif yang memadai untuk audit setiap siklus. Misalnya, pengendalian atas penerimaan kas. Transaksi kas diaudit melalui pengujian siklus transaksi tersebut.

Mendesain dan Melakukan Prosedur Analitis (Tahap III)

Dalam audit, rekonsiliasi bank pada akhir tahun di audit secara luas. Dengan menggunakan prosedur analitis, pengujian atas kewajaran saldo kas tidak terlalu penting dibandingkan area audit lainya.

Auditor biasanya membandingkan saldo akhir pada rekonsiliasi bank, setoran dalam perjalanan, cek beredar, dan jenis rekonsiliasi lainya dengan rekonsiliasi yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Auditor juga membandingkan saldo akhir kas dengan saldo bulan-bulan sebelumnya. Prosedur analtis ini dapat ditemukan salah saji pada kas.

Mendesaian Pengujian Perincian Saldo Kas (Tahap III)

Titik awal verifikasi saldo dalam akun bank umum adalah dengan mendapatkan rekonsiliasi bank dari klien dengan memasukkan dokumentasi auditor. Untuk mengaudit kas dibank, auditor melakukan verifikasi apakah rekonsiliasi bank yang diterima klien sudah benar. Tujuan audit-terkait saldo dan pengujian perincian saldo dalam audit kas yang paling penting adalah keberadaan, kelengkapan, dan akurasi, oleh karena itu harus diperhatikan. Auditor juga melakukan pengujian yang berhubungan dengan keempat tujuan penyajian dan pengungkapan, seperti menelaah hasil pertemuan dewan direksi dan penyajian utang untuk menentukan apakah ada restriksi atas kas yang harus diugkapkan. Dalam area audit lainya, prosedur audit aktual bergantung pada materialitas dan risiko dalam kas yang sudah diidentifikasi auditor pada audit di bagian lainya.

Ketiga prosedur ini harus ditambahkan dalam pembahasan permintaan konfirmasi bank sangat penting dan kompleks: laporan bank atas pisah batas dan pengujian rekonsiliasi bank.

Permintaan atas Konfirmasi Bank

Meskipun tidak disyaratkan oleh standar audit, auditor biasanya meminta konfirmasi dari setiap bank atau institusi keuangan lainnya yang berbisnis dengan klien, kecuali jika terdapat sejumlah besar akun yang tidak aktif. Jika bank tidak menjawab permintaan konfrimasi, maka auditor perlu mengirimkan permintaan kedua atau meminta klien berkomunikasi dengan bank untuk meminta mereka melengkapi dan mengembalikan konfirmasi kepada auditor, agar memudahkan auditor maupun pihak bank yang diminta mengisi konfirmasi, di Amerika Serikat, AICPA menyetujui penggunaan formulir bank standar.

Pentingnya konfirmasi bank dalam audit lebih dari sekedar verifikasi saldo kas aktual. Bank mengonfirmasi informasi pinjaman dan saldo bank dalm formulir yang sama. Infromasi pada wesel bayar pada bank, hipotek, dan utang lainnya biasanya memasukkan jumlah dan tanggal pinjaman, tanggal jatuh tempo pinjaman, tingkat bunga, dan adanya jaminan.

Bank tidak bertanggung jawab untuk mencari untuk mencari pencatatan atas saldo bank atau pinjaman selain yang dimasukkan dalam formulir dari klien KAP. Laporan di bagian bawah formulir meminta bank menginformasikan kepada KAP semua pinjaman yang tidak dimasukkan dalam konfirmasi dari bank yang memiliki informasi tersebut. Dampak dari tanggung jawab yang terbatas ini dalah untuk mensyaratkan auditor agar memenuhi tujuan kelngkapan atas saldo dan utang bank yang tidak tercatat dengan cara lain. Sama halnya, bank tidak perlu menginformasikan kepada auditor mengenai persyaratan kredit, persyaratan saldo kompensasi, atau kewajiban kontinjen ketika kewajiban dijaminkan. Jika auditor menginginkan konfirmasi tas jenis informasi ini, maka mereka harus mendapatkan konfirmasi yang terpisah dari institusi keuangan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Setelah auditor menerima konfirmasi bank secara lengkap, saldo dalam akun bank yang dikonfirmasi oleh bank garus ditelusuri ke saldo yang disebutkan dalam konfirmasi bank. Sama halnya dengan informasi lain, dalam konfirmasi, juga garus ditelusuri ke skedul audit lainnya. Jika konfirmasi bank tidak sesuai dengan skedul audit, maka auditor harus memeriksa selisihnya.

Permintaan atas Laporan Bank Pisah Batas

Laporan bank atas pisah batas adalah laporan bank pada periode tertentu dan pembatalan cek terkait, duplikan slip setoran, dan dokumen lain yang termasuk dalam laporan bank, dikirimkan oleh bank ke kantor KAP. Tujuan dari laporan bank atas pisah batas adalah untuk memberikan verifikasi bagian yang direkonsiliasi pada rekonsiliasi bank klien di akhir tahun dengan bukti yang tidak dapat diakses ke klien. Untuk memenuhi tujuan ini, auditor meminta klien agar bank mengirimkan laporan langsung kepada auditor dalam waktu 7 samoai 10 hari setelah tanggal neraca.

Banyak auditor melakukan verifikasi periode laporan bank jika laporan pisah batas tidak diterima langsung dari pihak bank. Tujuan adalah untuk menguji apakah karyawan klien tidak memasukkan, menambahkan, atau menggantikan dokumen sesuai dengan laporan. Pengujian ini jelas dilakukan untuk salah saji yang disengaja. Auditor melakukan verifikasi berikut ini dalam bulan setelah tanggal neraca:

  • Memeriksa saldo seluruh cek yang dibatalkan, memo debet, setoran, dan memo kredit.
  • Melakukan verifikasi saldo laporan bank saat penjumlahan dilakukan.
  • Menelaah bagian dari penjumlahan untuk memastikan sudah dibatalkan oleh bank pada periode yang tepat dan tidak ada penghapusan atau penggantian.

Pengujian Rekonsiliasi Bank

Rekonsiliasi bank yang dilakukan dengan benar oleh pihak independen merupakan pengendalian internal penting atas kas. Auditor menguji rekonsiliasi bank untuk menentukan apakah pihak klien sudah menyiapkan rekonsiliasi denga gati-hati dan melakukan verifikasi apakah saldo bank yang dicatat klien sama jumlahnya dengan kas di bank, kecuali bila ada setoran dalam perjalanan, cek beredar, dan jenis rekonsiliasi lainnya.

Dalam verifikasi rekonsiliasi, auditor menggunakan informasi dalam laporan bank atas pisah batas untuk melakukan verifikasi kewajaran rekonsiliasi. Verifikasi auditor dalam rekonsiliasi meliputi beberapa prosedur:

  • Melakukan verifikasi bahwa rekonsiliasi bank klien akurat secara matematis.
  • Menelusuri saldo konfirmasi bank dan atau saldo awal pada laporan pisah batas ke saldo per bank pada rekonsiliasi bank utnuk memastikan jumlahnya sama.
  • Menelusuri cek yang ditulis dan dicatat sebelum akhir tahun dan dimasukkan ke laporan bank atas pisah batas ke daftar cek beredar pada rekonsiliasi bank dan juga jurnal pengeluaran kas dalam periode neraca atau periode sebelumnya. Seluruh cek yang dikliring bank setelah tanggal neraca dan dimasukkan dalam jurnal pengeluaran kas harus dimasukkan dalam daftar cek beredar. Jika cek dimasukkan dalam jurnal pengeluaran kas, maka seharusanya dianggap cek beredar karena tidak dikliring di bank sebelum tanggal neraca, maka tidak boleh dimasukkan dalam rekonsiliasi bank.
  • Memeriksa seluruh cek yang jumlahnya besar dan termasuk dalam daftar cek beredar  yang belum dikliring oleh bank pada laporan pisah batas. Langkah pertama dalam pemeriksaan ini harus dilakukan dengan menelusuri jumlah yang belum dikliring dalam jurnal pengeluaran kas. Alasan mengapa cek belum diuangkan, harus dibahas dengan klien, dan jika auditor khawatir telah terjadi kecurangan, maka vendor yang termasuk dalam saldo utang dagang harus dikonfirmasi untuk menentukan apakah vendor tersebut sudah mengakui penerimaan kas dalam pecatatannya. Ditambah lagi, cek yang dibatalkan perlu diperiksa sebelum tanggal terakhir audit jika memang ada.
  • Menerima kas yang tidak disetorkan ke bank di akhir tahun harus ditelusuri ke laporan pisah batas untuk memastikan bahwa kas tersebut disetorkan segera di awal tahun berikutnya.
  • Memperhatikan jenis rekonsiliasi lain ke laporan bank dan rekonsiliasi bank. Hal ini meliputi biaya jasa bank, kesalahan dan pembetulan bank, dan transaksi tak tercatat yang didebet atau dikredit langsung ke akun bank oleh pihak bank. Jenis rekonsiliasi ini perlu di investigasi untuk memastikan sudah diperlukan dengan benar oleh klien.

4. PROSEDUR BERORIENTASI – KECURANGAN

Kecurangan atas saldo kas umum ini terjadi karena tidak memadainya pemisahan tugas antara pemegang kas dan pencatatn transaksi kas dalam pencatatan akuntansi dan kurangnya rekonsiliasi bank bulanan yang independen. Prosedur yang harus dilakukan auditor untuk menemukan kecurangan atas penerimaan kas meliputi, mempertimbangkan sifat dari kurangnya pengendalian internal, jenis kecurangan yang dapat terjadi dari kekurangan tersebut, potensi materialitas kecurangan, konfirmasi piutang dagang, pengujian yang dilakukan untuk menemukan pencurian uang, penelaahan aktivitas akun kas atas transaksi yang tidak lazim, pemeriksaan persetujuan dan dokumen pendukung untuk piutang tidak tertagih dan retur dan cadangan penjualan, serta prosedur audit yang palin efektif untuk menemukan kecurangan. Prosedur untuk menemukan kecurangan berikut langsung terkait dengan saldo kas akhir tahun;

Perluasan Pengujian atas Rekonsiliasi Bank

Jika rekonsiliasi bank dapat dengan sengaja salah saji, maka perlu dilakukan perluasan pengujian atas rekonsiliasi bank akhir tahun. Prosedur yang dilakukan auditor :

1. Memulai rekonsiliasi bank untuk bulan/tahun tertanggal, dan membandingkan seluruh bagian rekonsiliasi dengan cek yang dibatalkan dan dokumen lainnya dalam laporan bank tertanggal.

2. Membandingkan sisa cek yang dibatalkan dan slip setoran dalam laporan bank tertanggal dengan jurnal pengeluaran dan penerimaan kas bulan/tahun tertanggal.

3. Menelusuri seluruh bagian yang tidak jelas dalam rekonsiliasi bank dan jurnal penerimaan dan pengeluaran kas ke rekonsiliasi bank klien untuk memastikan semua sudah dimasukkan.

4. Melakukan verifikasi seluruh bagian rekonsiliasi dalam rekonsiliasi bank dari jurnal untuk rekonsiliasi bank tertanggal yang belum dikliring ke bank.

Pembuktian Kas

Auditor menggunakan pembuktian kas untuk menentkan apakah,

  • Seluruh penerimaan kas yang tercatat telah disetorkan.
  • Seluruh setoran ke bank dicatat dalam pencatatan akuntansi
  • Seluruh pengeluaran kas dibayarkan oleh bank
  • Seluruh jumlah yang dibayarkan oleh bank sudah dicatat.

Pembuktian kas meliputi empat rekonsiliasi berikut ini :

1. Rekonsiliasi saldo pada laporan bank dengan saldo buku besar pada awal periodepembuktian kas.

2. Rekonsiliasi penerimaan kas yang disetorkan ke bank dengan penerimaan yang tercatat dalam jurnal penerimaan kas pada periode tertentu.

3. Rekonsiliasi cek yang dibatalkan  di kliring bank dengan yang dicatatdalam jurnal pengeluaran kas untuk periode tertentu.

4. Rekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besar pada akhir periode pembuktian kas.

Saat melakukan pembuktian kas, auditor menggabungkanpengujian susbtantif atas transaksi dan pengujian perincian saldo. Pembuktian kas merupakan metode yang sangat baik dalam membandingkan pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas dengan akun bank dan rekonsiliasi bank.

Pengujian Transfer Antarbank

Ada beberapa hal yang perlu diaudit atas jadwal transfer antarbank, yaitu sebagai berikut :

  • Keakuratan informasi pada jadwal transfer antarbank harus diverifikasi. Auditor harus mempertimbangkan informasi pengeluaran dan penerimaan pada skedul ke pencatatan pengeluaran dan penerimaan kas untuk memastikan akurasinya.
  • Transfer antarbank harus dicatat, baik di bank penerima maupun bank pengirim. Asumsikan terdapat Rp 10.000.000 dipindahkan dari bank A ke bank B, tetapi hanya pengeluarannya yang dicatat, maka ini adalah bukti pencurian uang yang ditutupi.
  • Tanggal pencatatan pengeluaran dan penerimaan untuk setiap transfer harus dilakukan di tahun fiskal yang sama. Jika penerimaan kas dicatat pada tahun fiskal berjalan dan pengeluaran kas dicatat setelah tanggal neraca, maka hal tersebut bisa saja dilakukan untuk menutupi berkurangnya kas.
  • Pengeluaran pada skedul transfer antarbank harus dimasukkan atau dikeluarkandengan benar dari rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai cek beredar. Dalam akun kas umum harus dimasukkan sebagai cek beredar pada transfer rekonsiliasi bank. Kurang saji cek beredar pada rekonsiliasi bank mengindikasikan adanya kemungkinan kiting.
  • Skedul tranfer antarbank harus dimasukkan atau dikeluarkan dengan benar dari rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai setoran dalam perjalanan. Untuk akun tabungan dan penggajian harus mengindikasikan setoran dalam perjalanan untuk transfer rekonsiliasi bank. Lebih saji atas setoran dalam perjalanan pada rekonsiliasi bank mengindikasikan adanya kemungkinan kiting.

Meskipun pengujian audit atas transfer antarbank biasanya dimaksudkan untuk menemukan kecurangan, tindakan ini juga bisa dilakukan banyak transfer antarbank tanpa memerhatikan pengendalian internal. Bila ada kemungkinan kiting, maka dapat mengakibatkan salah perhitungan antara kas dan utang dagang.

5. AUDIT ATAS AKUN BANK PENGGAJIAN IMPRES

Pengujian atas rekonsiliasi bank untuk penggajian tidak akan memakan waktu jika terdapat akun impres untuk penggajian dan rekonsiliasi independen atas akun bank, seperti yang dijelaskan pada akun umum. Biasanya, bagian yang direkonsiliasi adalah cek beredar. Cek beredar tersebut akan langsung jelas ketika cek diterbitkan. Dalam pengujian saldo akun bank untuk penggajian, auditor harus mendapatkan rekonsiliasi bank, konfirmasi bank, dan laporan bank atas pisah batas. Prosedur rekonsiliasi sama dengan kas umum, kecuali pengujian pada cek beredar yang biasanya terbatas untuk pengujian kewajarannya. Biasanya, diperlukan perluasan prosedur bila pengendalian tidak memadai atau jika akun bank tidak direkonsiliasi dengan saldo kas impres pada buku besar.

6. AUDIT ATAS KAS KECIL IMPRES

Kas kecil adalah akun yang unik. Meskipun jumlahnya tidak material, banyak auditor melakukan verifikasi kas kecil karena terdapat potensi kecurangan dan klien mengharapkan auditor memeriksa akun tersebut meski jumlahnya tidak material.

Pengendalian Internal atas Kas Kecil

Pengendalian internal yang paling penting dalam kas kecil adalah penggunaan dan impres yang merupakan tanggung jawab perorangan. Dana untuk kas kecil tidak dapat digabungkan dengan penerimaan lainnya, dan dana harus disimpan terpisah dari aktivitas lainnya. Pembatasan juga harus dilakukan atas pengeluaran dari kas kecil, sama halnya dengan jumlah total dana. Jenis pengeluaran yang dilakukan dari transaksi kas kecil harus jelas didefinisikan sesuai kebijakan perusahaan.

Saat pengeluaran kas dilakukan dari kas kecil, pengendalian internal yang memadai mensyaratkan adanya tanda tangan personel yang berwenang pada formulir kas kecil yang bernomor urut. Total dari kas aktual dan cek dananya, ditambah total formulir kas kecil yang disebut dalam buku besar. Perhitungan mendadak secara periodik dan rekonsiliasi dana kas kecil harus dilakukan oleh auditor internal atau personel lain  yang berwenang.

Saat saldo kas kecil tinggal sedikit, cek dari akun kas umum harus dibuat untuk mengisi kas kecil. Cek harus ditulis dengan jumlah yang sama dengan voucher bernomor urut yang dijadikan bukti pengeluaran aktual sebelumnya. Voucher ini harus diverifikasi oleh petugas utang dagang dan dibatalkan agar tidak digunakan kembali.

Pengujian Audit atas Kas Kecil

Penekanan dilakukan pada verifikasi kas kecil atas pengujian transaksi kas kecil dibandingkan saldi akhir tahun. Bahkan jika dana kas kecil jumlahnya kecil, terdapat potensi kecurangan transaksi jika dana sering dikeluarkan atau digunakan.

Dalam pengujian kas kecil, auditor pertama kali harus menentukan prosedur klien dalam menangani dana. Hal ini dilakukan dengan mendiskusikan pengendalian internal bersama pemegang kas kecil dan memeriksa dokumen atas beberapa transaksi. Saat hasil penilaian risiko pengendalian adalah rendah dan hanya sedikit pengeluaran dilakukan selama tahun berjalan, biasanya auditor tidak melakukan pengujian lebih lanjut karena tidak material. Ketika auditor menguji kas kecil, dua prosedur utamanya adalah menghitung saldo kas kecil dan melanjutkan dengan pengujian terperinci atas satu atau dua transaksi pengeluaran. Prosedur utama harus meliputi:

  •  Menjumlahkan voucher pendukung kas kecil yang menunjukkan jumlah pengeluaran
  • Memperhatikan urutan voucher kas kecil
  • Memeriksa otorisasi dan pembatalan voucher kas kecil
  • Memeriksa kewajaran dokumen pendukung, biasanya terdiri atas gulungan register kas, faktur, dan bukti penerimaan.

Pengujian kas kecil dapat dilakukan sewaktu-waktu selama tahun berjalan, tetapi agar memudahkan, biasanya dilakukan pada tanggal interim. Jika saldo dana kas kecil diperkirakan material, hal ini jarang terjadi, maka saldo tersebut harus diperhitungkan pada akhir tahun. Pengeluaran yang belum diganti harus diperiksa sebagai bagian dari penentuan apakah biaya yang belum tercatat jumlahnya material.

AUDIT SIKLUS AKUISISI MODAL DAN PEMBAYARAN KEMBALI MODAL

Siklus akuisisi modal dan pembayaran kembali, berfokus pada akuisisi sumber daya modal melalui utang berbunga dan ekuitas pemilik dan pembayaran kembali modal tersebut. Siklus ini juga mencakup pembayaran utang dan dividen.

Empat karakteristik siklus perolehan dan pelunasan kembali modal mempengaruhi secara siginifikan audit akun-akun berikut :

1.  Relatif sedikit transaksi yang mempengaruhi saldo akun, tetapi setiap transaksi seringkali jumlahnya sangat material. Misalnya, obligasi jarang diterbitkan oleh kebanyakan perusahaan, tetapi jumlah suatu penerbitan obligasi biasanya besar.

2.  Jika tidak dimasukkan satu transaksi tertentu, mungkin jumlahnya akan material. Misalnya, penghilangan atau salah dibukukan satu transaksi kewajiban tertentu mempunyai dampak yang material pada laporan keuangan.

3.  Terdapat hubungan hukum antara entitas usaha klien dan pemegang saham, obligasi atau dokumen-dokumen kepemilikan serupa.

4.  Terdapat hubungan langsung antara akun bunga dan dividen dengan kewajiban dan ekuitas. Dalam audit hutang berbunga, diharapkan sekaligus memverifikasi beban bunga terkait dan hutang bunga.

Adapun empat karakteristik atas siklus akuisisi modal dan pembayaran kembali akan memengaruhi audit pada akun-akun berikut:

  1. Jumlah transaksi yang memengaruhi saldo akun hanya sedikit, tetapi setiap transaksi biasanya sangat material

Misalnya, obligasi tidak sering diterbitkan perusahaan, tetapi penerbitan obligasi biasanya bernilai besar. Nilai yang besar itu membuat auditor sebagai bagian dari verifikasi akun neraca akan melakukan verifikasi pada setiap transaksi yang memengaruhi siklus dalam periode berjalan. Jadwal audit dalam kebanyakan akun siklus ini memasukkan saldo awal pada setiap akun dan setiap transaksi yang terjadi sepanjang tahun dan saldo akhir.

  2. Tidak dimasukkannya atau salah saji suatu transaksi bisa sangat material

Hal ini akan mengakibatkan auditor memprioritaskan penekanan pada akun tersebut terutama pada tujuan audit yang terkait dengan kelengkapan dan akurasi.

  3. Muncul hubungan legal antara entitas klien dengan pemegang saham, obligasi, atau pemilikan dokumen yang sejenis

Dalam audit transaksi dan jumlah dalam siklus ini, auditor harus hati-hati untuk memastikan apakah persyaratan legal yang memengaruhi laporan keuangan sudah dipenuhi dan disajikan dengan wajar serta diungkapkan dalam laporan atau belum.

4. Terdapat hubungan langsung antara akun bunga dan deviden dengan utang dan ekuitas

Dalam audit atas bunga berbunga, auditor harus secara berkesinambungan melakukan verifikasi beban bunga dan utang bunga terkait. Hal ini juga berlaku atas akun ekuitas pemilik, deviden yang diumumkan, dan utang deviden.

Akun di dalam Siklus Akuisisi Modal dan Pembayaran Kembali Modal

Akun-akun dalam siklus perolehan dan pelunasan kembali modal pada perusahaan tertentu tergantung pada jenis aktivitas bisnis perusahaan itu dan bagaimana pendanaannya. Seluruh perusahaan memiliki modal saham dan saldo laba, tetapi ada juga yang memiliki saham preferen, tambahan modal, dan saham tresuri. Berikut ini adalah siklus-siklus yang seringkali ditemukan :

  1. Wesel bayar
  2. Kontrak yang masih harus dibayar
  3. Hutang hipotik
  4. Hutang obligasi
  5. Beban bunga
  6. Bunga yang masih harus dibayar
  7. Kas Bank
  8. Modal saham- Saham biasa
  9. Modal saham- Saham preferen
  10. Kelebihan modal disetor atas nilai pari (par value)
  11. Modal yang disumbangkan
  12. Laba ditahan
  13. Pencadangan laba ditahan
  14. Saham tresuri
  15. Dividen yang diumumkan
  16. Deviden yang terhutang
  17. Akun modal- perusahaan perseorangan
  18. Akun modal- perusahaan persekutuan

 

Wesel Bayar

Wesel bayar adalah kewajiban hukum kepada kreditor, yang tidak dijamin atau dijamin dengan aktiva. Umumnya wesel diterbitkan untuk suatu periode antara satu bulan dan satu tahun, tetapi terdapat juga wesel jangka panjang yang lebih dari setahun. Tujuan audit wesel bayar adalah untuk menentukan apakah berikut ini benar:

  • Pengendalian internal atas wesel bayar memadai
  • Transaksi untuk pokok pinjaman dan bunga yang melibatkan wesel bayar diotorisasi dan dibukukan dengan semestinya sebagaimana didefinisikan menurut enam tujuan audit terkait transaksi
  • Kewajiban atas wesel bayar dan beban bunga terkait beserta hutang yang masih harus dibayar dinyatakan dengan semestinya sebagaimana didefinisikan menurut delapan dari Sembilan tujuan audit terkait saldo.

Pengendalian Internal

Terdapat empat pengendalian penting atas wesel bayar :

1. Otorisasi yang memadai atas penerbitan wesel baru

Tanggung jawab atas penerbitan wesel baru harus terletak pada dewan direksi atau manajemen puncak. Biasanya diperlukan dua tanda tangan pejabat tinggi perusahaan untuk setiap perjanjian pinjaman.

2. Pengendalian yang mencukupi atas pembayaran pokok pinjaman dan bunga.

Pembayaran bunga dan pokok pinjaman harus dikendalikan sebagai bagian dari siklus perolehan dan pembayaran. Pada saat wesel diterbitikan, bagian akuntansi harus menerima satu tembusan seperti pada penerimaan faktur dan laporan penerimaan.

3. Dokumen dan catatan-catatan yang memadai.

Hal ini meliputi penyelenggaraan buku tambahan dan pengawasan terhadap wesel-wesel kosong atau yang telah dibayar oleh petugas yang bertanggung jawab.

4. Verifikasi yang independen secara periodik.

Secara periodik, catatan-catatan wesel yang dibuat terperinci, harus direkonsiliasikan terhadap buku besar dan dibandingkan dengan catatan pemegang wesel, oleh karyawan yang tidak bertanggung jawab atas pencatatan kunci. Pada waktu yang sama, karyawan independen harus menghitung kembali beban bunga wesel untuk menguji keakuratan dan kecukupan pencatatan.

Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi

Pengujian atas transaksi-transaksi wesel bayar akan mencakup penerbitan wesel serta pelunasan kembali pokok pinjaman dan bunganya. Pengujian audit ini menjadi bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi untuk penerimaan kas dan pengeluaran kas. Pengujian tambahan atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi biasanya dilakukan sebagai bagian dari pengujian saldo karena masing-masing transaksi memiliki materialitas yang tinggi.

Pengujian pengendalian untuk wesel bayar dan bunga terkait harus menekankan pada pengujian empat pengendalian internal yang telah dibahas di atas. Sebagai tambahan, seorang auditor harus melakukan verifikasi pencatatan yang akurat terhadap bukti penerimaan dari pencairan wesel dan pembayaran pokok dan bunga.

Prosedur analitik

Prosedur analitis sangat penting dalam wesel bayar karena pengujian transaksi beban bunga dan utang bunga dapat dihilangkan jika hasilnya menguntungkan. Auditor perlu mengadakan suatu prediksi independen atas biaya bunga, menggunakan rata-rata wesel bayar yang beredar dan rata-rata tibgkat bunga agar auditor dapat mengevaluasi kewajaran beban bunga dan menguji bila ada bunga yang tidak diakui.

Pengujian Terinci atas Saldo

Metodologi untuk mendesain pengujian perincian atas saldo dalam siklus akuisis modal dan pembayaran kembali sama yang diaplikasikan pada akun lainnya. Dalam menentukan pengujian perincian saldo untuk wesel bayar, auditor mempertimbangkan resiko bisnis, salah saji yang dapat diterima, resiko bawaan, resiko pengendalian, hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi dan hasil prosedur analitis.

Auditor seringkali menetapkan salah saji yang dapat diterima pada tingkat rendah karena mereka hampir selalu dapat mengaudit saldo akun dan transaksi yang memengaruhi saldo wesel bayar secara keseluruhan. Khususnya, mereka juga menetapkan resiko bawaan pada tingkat rendah karena menilaiakun yang benar biasanya mudah ditentukan. Auditor biasanya paling memerhatikan dalam tujuan kelengkapan untuk saldo wesel bayar dan pengungkapan wesel bayar seperti jaminan dan batasan wesel bayar.

Adapun tiga tujuan audit terkait saldo yang terpenting dalam wesel bayar adalah sebagai berikut :

1. Wesel bayar yang ada telah dimasukkan (kelengkapan)

2. Wesel bayar di dalam skedul dibukukan secara akurat (keakuratan)

3.  Wesel bayar disajikan dan diungkapkan secara semestinya (penyajian dan peng-ungkapan).

Oleh karena siklus akuisisi modal dan pembayaran kembali itu biasanya terdiri dari hanya sedikit transaksi, maka resiko pengendalian dan hasil pengujian substantif atas transaksi menjadi tidak terlalu penting dalam mendesain pengujian perincian saldo akun seperti wesel bayar. Untuk kebanyakan transaksi dalam siklus, pertimbangan utama auditor adalah bahwa setiap transaksi telah diotorisasi dengan benar.

EKUITAS PEMILIK

Terdapat perbedaan utama antara audit ekuitas pemilik pada perusahaan terbuka dan perusahaan tertutup. Pada perusahaan yang tertutup biasanya hanya terdiri atas sedikit pemegang saham saja sehingga hanya terdapat sedikit transaksi selama tahun berjalan. Satu-satunya transaksi yang termasuk dalam bagian ekuitas pemilik adalah perubahan ekuitas pemilik atas laba tahunan atau kerugian dan pengumuman deviden. Perusahaan tertutup jarang membayar deviden dan auditor tidak banyak menghabiskan waktu untuk melakukan verifikasi ekuitas pemilik meskipun catatan perusahaan tetap harus diuji.

Sedangkan untuk perusahaan terbuka, verifikasi ekuitas pemilik lebih kompleks karena terdapat lebih banyak pemegang saham dan banyak perubahan individu pada individu pemegang saham. Transaksi-transaksi ekuitas pemilik yang mungkin terjadi adalah perubahan ekuitas pemilik disebabkan oleh laba atau rugi tahunan serta pembagian dividen. Tujuan dari pemeriksaan auditor terhadap ekuitas pemilik adalah untuk menentukan apakah:

1.  Struktur pengendalian internal terhadap modal saham dan dividen yang berkaitan mencukupi.

2.  Transaksi-transaksi ekuitas pemilik telah dicatat sesuai dengan keenam tujuan spesifik audit.

3.  Saldo-saldo ekitas pemilik telah disajikan dan diungkapkan sesuai dengan tujuan spesifik audit rincian saldo.

Adapun Pengendalian Internal yang penting dan diutamakan oleh auditor adalah sebagai berikut:

1.  Otorisasi yang memadai untuk transaksi (transaksi material dan harus disetujui oleh dewan direksi).

2.  Pencatatan yang baik dan pemisahan fungsi.

3.  Petugas dan agen pemindahan saham yang independen. Perusahaan yang mengeluarkan sahamnya di pasar modal, diharuskan menggunakan petugas catat bebas sebagai suatu alat pengendalian untuk mencegah pengeluaran sertifikat saham yang tidak sah.

Empat hal yang penting dalam audit terhadap modal saham dan tambahan modal disetor di atas nilai pari:

1. Seluruh transaksi modal saham yang ada telah dicatat (kelengkapan).

Tujuan ini dapat dicapai jika digunakan jasa pencatat atau agen pemindahan saham. Auditor dapat meminta konfirmasi mengenai transaksi modal saham dan mengenai nilai transaksi tersebut.

2.  Transaksi-transaksi saham yang dicatat telah diotorisasi dan nilainya tepat (keberadaan dan keakuratan).

Keberadaan biasanya diuji dengan memeriksa notulen rapat dewan direksi. Ketepatan nilai transaksi saham yang dilakukan secara tunai dapat diverifikasi dengan meminta konfirmasi tentang jumlahnya kepada agen pemindahan saham dan menelusuri jumlah transaksi saham yang ada ke dalam penerimaan uang.

3.  Modal saham dinilai dengan benar (akurasi).

Saldo akhir dalam akun modal diverifikasi, mulamula dengan menentukan jumlah saham yang beredar pada tanggal neraca. Konfirmasi dari agen pemindahan merupakan cara verifikasi termudah. Jika tidak ada agen pemindahan maka auditor mengandalkan pada pemeriksaan atas catatan saham dan menghitung seluruh saham yang beredar dalam buku sertifikasi saham, meneliti sertifikat yang dibatalkan dan menghitung sertifikat kosong.

4. Modal saham disajikan dan diungkapkan secara memadai (presentation and disclosure).

Sumber informasi yang digunakan mengenai pengungkapan yang memadai adalah akte pendirian perusahaan, notulen rapat dewan direksi, dan analisis auditor terhadap transaksi-transaksi modal saham.

Audit Modal Saham dan Kelebihan Modal

Auditor harus memerhatikan empat hal berikut dalam hal audit modal saham dan kelebihan modal atas nilai pari:

  1. Transaksi modal saham yang ada sudah dicatat (tujuan- terkait dengan kelengkapan transaksi).
  2. Transaksi modal saham yang dicatat benar-benar terjadi dan dicatat secara akurat (tujuan- terkait dengan keterjadian dan akurasi transaksi).
  3. Modal saham dicatat secara akurat (tujuan- terkait akurasi saldo).
  4. Modal saham disajikan dan diungkapkan dengan benar (keempat tujuan penyajian dan pengungkapan).

Audit Atas Dividen

Penekanan pada audit atas dividen adalah pada transaksinya dan bukan saldo akhir, kecuali jika ada hutang dividen. Keenam tujuan spesifik audit atas transaksi relevan untuk dividen. Tujuan terpenting dari kontrol terhadap dividen, termasuk yang berkaitan dengan hutang dividen:

  1. Dividen yang dicatat benar ada (eksistensi).
  2. Dividen yang ada seluruhnya telah dicatat (kelengkapan).
  3. Dividen telah dicatat dengan benar (accuracy).
  4. Dividen yang dibayar kepada pemegang saham adalah benar ada (eksistensi)
  5. Hutang dividen telah dicatat (kelengkapan).
  6. Hutang dividen telah dicatat dengan benar (keakuratan).

Keberadaan dapat dicek dengan meneliti notulen rapat dewan direksi mengenai jumlah dividen per lembar saham dan tanggal pembayaran dividen. Ketepatan penilaiian suatu pengumuman pembayaran dividen dapat diaudit dengan menghitung kembali jumlahnya berdasarkan dividen setiap saham dan jumlah saham beredar. Pengujian untuk melihat apakah pembayaran dilakukan kepada pemegang saham yang memiliki saham tersebut pada tanggal pencatatan dividen adalah dengan memilih suatu sample pembayaran dividen yang dicatat dan menelusuri nama penerima uang pada cancelled check pada catatan dividen, untuk meyakinkan bahwa penerima uang memang berhak.

Untuk klien yang menyimpan catatan devidennya dan membayar sendiri, auditor dapat melakukan verifikasi total jumlah deviden dengan menghitung kembali dan merujuk pada pengeluaran kas. Sebagai tambahan, auditor harus melakukan verifikasi apakah pembayaran dilakukan kepada pemegang saham yang memiliki saham pada tanggal pencatatan deviden. Auditor dapat menguji hal tersebut dengan memilih sampel dari catatan pembayaran deviden dan menelusurinya ke nama pihak yang dibayar pada cek yang dibatalkan ke pencatatan deviden. Pada waktu bersamaan, auditor dapat melakukan verifikasi jumlah dan keaslian cek deviden.

Akurasi dalam pengumuman deviden dapat diaudit dengan cara menghitung kembali jumlah basis deviden per lembar dikalikan jumlah beredar yang beredar. Jika klien menggunakan agen untuk membagikan deviden, maka totalnya dapat ditelusuri ke dalam jurnal pengeluaran kas kepada agen dan kemudian dilakukan konfirmasi. Sedangkan untuk pengujian utang deviden harus dilakukan sehubungan dengan deviden yang diumumkan. Deviden yang tidak dibayar harus dimasukkan ke dalam kewajiban.

Audit Saldo Laba

Untuk memulai audit atas saldo laba, auditor pertama kali perlu menganalisis saldo laba perusahaan sepanjang tahun. Skedul audit menunjukkan analisis tersebut, yang biasanya merupakan bagian dari berkas permanen, termasuk deskripsi setiap transaksi yang memengaruhi akun.

Untuk memenuhi audit atas pengkreditan saldo laba untuk laba bersih tahun berjalan (atau debet untuk kerugian), auditor dapat menelusuri jurnal pada saldo laba ke laba bersih dalam laporan laba rugi. Prosedur ini harus dilakukan setelah seluruh jurnal penyesuaian yang memengaruhi laba bersih telah diselesaikan.

Kemudian setelah auditor yakin bahwa pencatatan transaksi sudah diklasi-fikasikan dengan benar sebagai transaksi saldo laba, langkah berikutnya adalah memutuskan apakah pencatatan tersebut dilakukan dengan akurat. Bukti audit yang diperlukan dalam langkah ini adalah untuk menentukan akurasi bergantung pada sifat transaksi.

Auditor juga harus mengevaluasi apakah terdapat transaksi yang seharusnya dimasukkan tetapi ternyata tidak ada. Misalnya jika klien mengumumkan deviden saham, maka nilai pasar yang diterbitkan harus dikapitalisasi dengan cara mendebet saldo laba dan mengkredit modal saham. Sama halnya jika dalam laporan keuangan terdapat apropriasi saldo laba, maka auditor perlu mengevaluasi apakah apropriasi itu masih diperlukan seperti tercatat pada tanggal neraca ataukah tidak.

Standar akuntansi mensyaratkan adanya penyajian dan pengungkapan informasi sehubungan dengan saldo laba. Fokus utama auditor adalah untuk menentukan apakah tujuan penyajian dan pengungkapan saldo laba dipenuhi khususnya yang berkaitan dengan pengungkapan restriksi atas pembayaran deviden. Biasanya perjanjian dengan pihak bank, pemegang saham, dan kreditur lainnya membatasi jumlah deviden yang dapat dibayarkan klien. Restriksi ini harus diungkapkan dalam penjelasan tambahan di laporan keuangan.

Audit Atas Laba Ditahan

  1. Titik awal audit terhadap laba ditahan adalah analisis terhadap laba ditahan untuk seluruh tahun yang bersangkutan (meliputi keterangan tentang setiap transaksi yang mempengaruhi laba ditahan).
  2. Audit terhadap pengkreditan atas laba ditahan yang berasal dari laba tahun yang bersangkutan dilakukan dengan menelusuri jurnal dalam laba ditahan ke dalam laba bersih pada penghitungan laba rugi. Prosedur ini dilakukan pada saat-saar terakhir audit seluruh ayat jurnal penyesuaian yang mempengaruhi laba bersih disesuaikan.
  3. Setelah auditor yakin bahwa transaksi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai transaksi laba ditahan, langkah berikutnya adalah menentukan apakah nilai transaksi tersebut benar.
  4. Pertimbangan penting lainnya dalam audit laba ditahan adalah menilai apakah ada transaksi yang seharusnya dimasukan tetapi belum dicacat.
  5. Hal penting dalam menentukan apakah laba ditahan diungkapkan dengan benar dalam neraca adalah keberadaan pembatasan-pembatasan terhadap pembayaran dividen. Pembatasan-pembatasan ini harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

AUDIT SIKLUS PERSEDIAAN DAN PERGUDANGAN

PENDAHULUAN

Siklus persediaan dan pergudangan merupakan siklus yang unik karena hubungannya yang erat dengan siklus transaksi lainnya. Bagi perusahaan manufaktur, bahan baku memasuki siklus persediaan dan pergudangan dari siklus akuisisi danpembayaran, sementara tenaga kerja langsung memasukinya dari siklus penggajian dan personalia. Siklus persediaan dan pergudangan diakhiri dengan penjualan barang dalam siklus penjualan dan penagihan.

Audit terhadap persediaan, terutama pengujian saldo persediaan akhir tahun, sering kali merupakan bagian yang paling kompleks dan paling menghabiskan waktu audit. Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas audit persediaan termasuk :

  • Persediaan sering kali merupakan akun terbesar pada neraca
  • Persediaan sering kali berada pada lokasi yang berbeda, yang membuat pengendalian dan perhitungan fisik menjadi sulit
  • Sering kali sulit bagi auditor unutk mengamati dan menilai itempersediaan yang berbeda seperti perhiasan, bahan kimia, dan suku cadang elektronik
  • Penilaian persediaan juga sulit apabila estimasi keuasangan persediaan merupakan hal yang penting dan apabila biaya manufaktur harus dialokasikan ke persediaan.
  • Terdapat beberapa metode penilaian persediaan yang dapat diterima dan beberapa organisasi mungkin ingin menggunakan metode penilaian yang berbeda unutk berbagai bagain persediaan yang dapat diterima menurut prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum

FUNGSI BISNIS DALAM SIKLUS SERTA DOKUMEN DAN CATATAN TERKAIT

Persediaan memiliki banyak bentuk yang berbeda, tergantung pada sifat bisnisnya. Untuk bisnis ritel atau grosir, akun terbesar dalam laporan keuangan sering kali berupa persediaan barang dagang yang tersedia untuk dijual. Untuk mempelajari siklus persediaan dan pergudangan, kita akan menggunakan contoh perusahaan manufaktur, yang persediaannya mungkin meliputi bahan baku, suku cadang dan perlengkapan yang dibeli untuk digunakan dalam produksi, barang dalam proses manufaktur, dan abrang jadi yang tersedia untuk dijual. Siklus persediaan dan pergudangan dapat dianggap sebagai terdiri dari dua sistem terpisah tetapi terkait erat, di mana yang satu melibatkan arus fisik bang dan yang lainnnya dengan biaya terkait. Enam fungsi bisnis akan membentuk siklus persediaan dan pergudangan.

Memroses Pesanan Pembelian        

Siklus persediaan dan pergudangan dimulai dengan akuisisi bahan baku untuk produksi. Pengendalian yang memadai terhadap pembelian harus diselenggarakan apakah pembelian persediaan adalah berupa bahan baku suatu perusahaan manufaktur atau barang jadi bagi perusahaan ritel. Permintaan pembelian adalah formulir yang digunakan untuk meminta departemen pembelian untuk memesan persediaan. Permintaan tersebut dapat dilakukan oleh personil ruang penyimpanan bahan baku yang diperlukan, dengan perangkat lunak computer yang terotomatisasi ketika bahan baku mencapai tingkat yang telah ditentukan terlebih dahulu, dengan pesanan yang dilakukan atas abahan baku yang diminta unutk memenuhi pesanan pelanggan, atau melalui pesanan yang dilakukan atas dasar perhitungaan bahan baku secara periodik.

Menerima Bahan Baku

Penerimaan bahan baku yang dipesan, yang juga merupakan bagian dari siklus akuisisi dan pembayaran, melibatkan inspeksi atas bahan yang diterima menyangkut kuantitas dan kualitasnya. Departemen penerimaan akan membuat laporan penerimaan yang menjadi bagian dari dokumentasi sebelum pembayaran dilakukan. Setelah inspeksi, bahan itu dikirim ke ruang penyimpanan dan slinan dokumen penerimaan, atau pemebritahuan atau notifikasi elektronik mengenai penerimaan barang, biasanya diserahkan ke bagian pembelian, ruang penyimpanan, dan utang usaha. Pengendalian dan akuntabilitas merupakan hal penting unutk semua transfer tersebut.

Menyimpan Bahan Baku

Setelah diterima, bahan itu biasanya disimpan diruang penyimpanan. Ketika departemen lainnya memerlukan bahan untuk produksi, personil ruang penyimpanan menyerahkan permintaan bahan yang telah disetujui secara layak, mengerjakan pesanan, atau dokumen serupa atau pemberitahuan elektronik yang mengindikasikan jenis dan kuantitas bahan yang diperlukan. Dokumen permintaan ini digunakan untuk memperbaharui file induk persediaan perpetual dan mencatat transef dari akun bahan baku kea kun barang dalam proses. Pembaharuan tersebut dilakukan secara otomatis dalam organisasi yang memiliki sistem perangkat lunak akuntansi dan manajemen persediaan terintergrasi.

Memroses Barang

Pemrosesan persediaan sangat bervariasi dari perusahaan ke perusahaan. Perusahaan menentukan item dan kuantitas barang jadi yang akan dibuat berdasarkan pesanan khusus dari pelanggan, peramalan penjualan, tingkat persediaan barang jadi yang telah ditentukan sebelumnya, dan operasi produksi yang ekonomis. Departemen pengendalian produksi yang terpisah sering kali bertanggung jawab untuk menentukan provisi untuk memperhitungkan kuantitas yang diproduksi, pengendalian atas sisa bahan, pengendalian kualitas, dan perlindungan fisik bahan dalam proses. Setiap departemen produksi biasanya bertanggung jawab untuk mereview laporan produksi dan sisa bahan yang dibuat computer, yang menyediakan informasi yang bermanfaat bagi akuntansi untuk mencatat transfer bahan dan menentukan biaya produksi.

Sistem akuntansi biaya yang memadai merupakan bagian penting dari pemrosesan fungsi barang bagi semua perusahaan manufaktur. Sistem tersebut menunjukkan profitabilitas relative produk untuk perencanaan dan pengendalian manajemen serta menilai persediaan untuk menyusun laporan keuangan. Terdapat dua jenis sistem biaya : sistem biaya pekerjaan dan sistem biaya proses, tetapi terdapat banyak variasi dan kombinasi dari kedua sistem tersebut.dalam sistem biaya pekerjaan (job cost system), biaya diakumulasikan oleh setiap pekrjaan ketika biaya dikeluarkan dan biaya tenaga kerja terjadi. Dalam sistem biaya proses (process cost system), biaya diakumulasikan berdasarkan proses, dengan biaya per unit untuk setiap proses dibebankan ke produk melalui proses tersebut.

Catatan akuntansi biaya terdiri dari fileinduk, neraca lajur, dan laporan yang mengakumulasikan biaya bahan, tenaga kerja, dan overhead berdasarkan pekerjaan atau proses ketika biaya tersebut dikeluarkan. Ketika pekerjaan atau produk telah selesai, biaya yang terkait ditransfer dari barang dalam proses ke barang jadi pada laporan departemen produksi.

Menyimpan Barang Jadi

Ketika barang jadi telah selesai, barang itu ditempatkan diruang penyimoanan menunggu dikirim. Dalamperusahaan yang memiliki pengendalian internal yang baik, barang jadi disimpan dibawah pengendalian fisik yang terpisah, disuatu area dengan akses terbatas. Pengendalian barang sering kali dianggap sebagai bagian dari siklus penjualan dan penagihan.

Mengirimkan Barang Jadi

Pengiriman barang jadi merupakan bagian dari siklus penjualan dan penagihan. Pengiriman actual barang kepada pelanggan dalam pertukaran dengan kas atau aktiva lainnya, seperti piutang usaha, menciptakan pertukaran aktiva yang diperlukan untuk memenuhi criteria pengakuan pendapatan. Untuk sebagian besar transaksi penjualan, pengiriman actual merupakan pemicu untuk mengakui piutang usaha terkait dan penjualan terkait dalam sistem akuntansi. Jadi, pengiriman barang jadi harus diotorisasi oleh dokumen pengiriman yang disetujui secara layak.

Bagi banyak perusahaan, terdapat pergerakan barang secara fisik dalam perusahaan ketika mentransfer persediaan dari bahan baku ke barang dalam proses ke barang jadi. Serupa denga pengiriman barang jadi, transfer persediaan dalam siklus persediaan dan pergudangan harus diotorisasi oleh dokumentasi transfer yang layak untuk memastikan keakuratan transfer biaya antarakun persediaan pada neraca.

File Induk Persediaan Perpetual

Catatan perpetual yang terpisah biasanya disimpan untuk bahan baku dan barang jadi. Sebagian besar perusahaan tidak menggunakan sistem perpetual untuk barang dalam proses. File induk persediaan yang diakuisisi, dijual, dana da ditangan. Dalam sistem terkomputerisasi yang dirancang dengan baik, file itu juga berisi informasi mengenai biaya per unit. Untuk akuisisi bahan baku, file induk persediaan perpetual diperbaharui secara otomatis ketika akuisisi persediaan diproses sebagai bagian dari pencatatan akuisisi.

BAGAIMANA E-COMMERCE MEMPENGARUHI MANAJEMEN PERSEDIAAN

Internet memiliki kegunaan khusus dalam pengelolaan persediaan, dari sini dapat diketahui informasi lengkap berbasis real time yang dibutuhkan oleh rekan bisnis (pemasok dan pelanggan). Informasi yang biasanya terseedia didalamnya, seperti jumlah stok yang disimpan, lokasi produk, dan berbagai informasi lainnya yang diperlukan manajemen untuk meegawwasi aliran persediaan.

Selain kegunaannya yang penting, internet juga dapat meenimbulkan resiko bisnis. Penggunaannya dalam E-Commerce akan meningkatkan resiko bisnis jika pengendalian untuk mengopeerasikannya kurang memadai. Seperti pembetasan penggunaan password, firewalls, dan peengendalian teknologi manajemen lainnya. Hal tersebut akan memunculkan kecurangan/keesempatan untuk mengubah jumlah persediaan yang telah ada.

BAGIAN DARI AUDIT PERSEDIAAN

Tujuan dalaam auditsiklus perssediaan dan pergudangan adalah menyediakan kepastian bahwa laporan keuangan menyajikan informasi bahan baku, barang setengah jadi, persediaan barang jadi, dan harga pokok penjualan secara wajar.

Audit atas siklus perediaan dan pergudangan dapat dibagi menjadi 5 (lima) aktifitas yang berbeda, yaitu :

  1. Akuisisi dan pencatatan bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead.

Pada bagian ini, audit memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu pemrosesan atas pembelian pesanan, penerimaan bahan baku, dan penyimpanan bahan baku (table 2). Auditor mendapatkan pemahaman mengenai pengendalian internal atas ketiga fungsi tersebut dan kemudian melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, baik transaksi siklus akuisisi dan pembayaran serta siklus penggajian dan personalia.

Pengujian terhadap pengendalianakuisisi bahan baku dan biaya manufaktur tersebut harus berjalan efektif dan transaksi akuisisi dinyatakan dengan benar. Bila tenaga kerja langsung merupakan bagian penting dalam persediaan manufaktur, maka auditor harus melakukan verifikasi proses akuntansi yang benar atas biaya inidalam siklus penggajian dan persoalia.

2.Perpindahan internal atas asset dan biaya.

Pemindahan internal dalam persediaan meliputi fungsi ke 4 (empat), yaitu pemrosesan barang dan pentimpanan barang jadi (table 2). Klien membukukan aktivitasnya dalam pencatatan akuntansi biaya, yang independen dari siklus lain dan diuji sebagai bagian dari audit siklus persediaan dan pergudangan.

3. Pengiriman barang dan pencatatan pendapatan dan biaya.

Pencatatan pengiriman dan biaya terkait merupakn fungsi terakhir (table 2). Proses ini merupakan bagian dari siklus penjualan dan penagihan, maka auditor harus mendapatkan pemahaman dan pengujian pengendalian internal atas pencatatan pengiriman sebagai bagian dari audit siklus ini, termasuk prosedur dalam verifikasi akurasi kredit atas persediaan yang dicatat daalam berkas utama persediaan perpetual.

4. Pengamanan fisik atas persediaan.

Auditor harus mengamati klien dalam menghitung persediaan fisik untuk menentukan apakah persediaan yang tercatat memang ada pada tanggal neraca dan dihitung dengan benar oleh klien. Pemeriksaan fisik merupakan jenis bukti penting yang dapat digunakan utuk melakukan verifikasi terhadap keberadaan dan perhitungan persediaan.

5. Penempatan harga dan kompilasi persediaan.

Biaya yang digunakan untuk menilai persediaan harus diuji untuk menentuan apakah klien mengikuti metode prsediaan yang sesuai dengaan SAK dan konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya. Prosedur yang digunakan auditor untuk melakukan verifikasi biaya ini disebut pengujian harga. Sebaagai taambahaan, auditoe harus melakukan pengujian kompilasi persediaan. Yaitu suatu pengujian utuk melakukan verifikassi apakah perhitungan fisik dilakukan dengan benar, kuantitas dan harga persediaan dijabarkan dengan benar untuk menghitung saldo buku besar.

Pada tabeel 3 (tiga), auditor menguji akuisisi dan melakukan pencatatan bahan baku, tenaga keja langsung, daan  overhead sebagai bagian dari siklus akuisisi dan pembayaran serta siklus penggajian dan personalia. Mereka juga menguji pengiriman barang dan mencatat pendapatan dan biayaterkait dengan siklus penjuaalan dan penagihan. Auditor peerlu mempertimbangkanhasil pengujian tersebutdalam siklus lainnnyauntuk menentukan sifat dan lingkup pengujian subtantif yang diperlukandalam audit persediaan.

AUDIT ATAS AKUNTANSI BIAYA

Sistem dan pengendalian tas akuntansi biaya bervariasi di setiap perusahaan. Lebih bervariasi dibandingkan dengan wilayah audit lainnya, karea jenis persediaan dan tingkat kemutahiran yang diinginkan manajemen sangat bervariasi. Misalnya, perusahaan yag memproduksi mesin pertanian dapat memiliki pencatatan akuntansi dan pengendalian internl yang sangat berbeda denngan produsen baja yang membuat dan memasang lmari besi pesanan.tentunya perusahaan kecil dengan pemilik yang secara aktif terlibat dalam proses produksi akan membutuhkanpencatatan yang lebih sederhana dibandingkan perusahaan besar yang menghasilkan bermacam-macam produk.

Pengendalian Akuntansi Biaya

Pengendalian akuntansi biaya, adalah proses yang mempengaruhi persediaan fisik dan penelusuran biaya terkait sejak bahan bakudipesan ssampai barang selesai diproduksi dan dipindaahkan kepeyimpanan. Jenis pengendalian ini dipisahkan menjadi 2 (dua) kategori :

  1. Pengendalian fisik atas bahan baku, barang setengah jadi, dan persediaan barang jadi.
  2. Pengendalian atas biaya terkait

Untuk melindungi asset, banyak perusahaan secaraa fisik memisahkan dan membatasi akses ketempat penyimpanan bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi untuk mengendalikan pergerakan persediaan. Klien dapaat menggunakan dokumen bernomor urut untuk mengotorisasi pergerakan persediaan agar tidak terjaddi penyalahgunaan asset. Salinan atas dokumen tersebut harus dikirimkan langsung kebagian akuntansi oleh pihak yang menerbitkan, tanpa melalui personel yang bertanggunngjawabatas pengawasannya. Contoh dokumen yang efektif untk jenis ini adaalah permintaan bahan baku yang disetujui untuk dikeluarkan dari ruang penyimpanan.

Pengendalian akuntansi biaya yang efektif lainnya dapat dilakukan dengan menyusun berkas utama persediaan perpetual yang dilakukan oleh personel yang mewakili wewenang atau akses asset, dengan alas an sebagai berikut :

  • Mereka melakukan pencatatan atas persedian yang ada, yang digunakan untuk memulai produksi atau pembelian tambahan bahan baku.
  • Mereka mencatat pemakaian bahan baku dan penjualan barang jadi, yang dapaat ditelaah untuk mengetahui tingkat keusangan barang yang pergerakannya lambat.
  • Mereka mencatat pertanggungjawaban atas pengamatan terhadap perbedaaan antara perhitungan fisik dan jumlah yang tertera didaftar perpetual.

 

 

Pengujian atas Akuntansi Biaya

Metodologi yang perlu diikuti auditor dalam memutuskan jenis pengujian yang akan dilaksanakan. Auditor perlu memperhatikan empat aspek dalam akuntansi biaya, yaitu:

1. Pengendalian fisik atas persediaan

2. Dokumen dan pencatatan dalam pemindahan persediaan

3. Berkas utama persediaan perpetual

4. Pencatatan biaya per unit

Pengendalian fisik

Pengujian auditor atas pengendalian fisik bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi hanya terbatas pada tindakan pengamatan dan tanya jawab. Diamati apakah gudang dikunci dan ditangani oleh pegawai yang kompeten. Auditor dapat meminta pengawas persediaan untuk menjelaskan tugas mereka terkait dengan pengawas persediaan. Jika auditor menyimpulkan bahwa pengendalian fisik tidak memadai dan persediaan akan sulit dihitung secara akurat, maka auditor harus memperluas pengamatan ke pengujian persediaan fisik untuk memastikan bahwa penghitungannya memadai.

Dokumen dan Catatan Pemindahan Persediaan

Perhatian utama auditor dalam hal pemindahan persediaan ialah apakah pemindahan yang dicatat benar terjadi, pemindahan yang terjadi telah dicatat, jumlah diskripsi dan tanggal transaksi dicatat dengan tepat. Pertama auditor memahami internal control, kemudian pengujian melalui pemeriksaan terhadap catatan dan dokumen dilakukan.

Berkas Induk Persediaan Perpetual

Pengujian atas berkas induk persediaan perpetual untuk mengurangi pengujian fisik atau mengubah sat pelaksanaannya dilakukan dengan pemeriksaan dokumen, yaitu dokumen untuk verifikasi pembelian bahan yang mendukung pengurangan persediaan bahan dan peningkatan barang jadi, pengurangan persediaan barang jadi.

 Catatan Biaya Per Unit

Pencatatan akuntansi biaya yang memadai harus diintegrasikan dengan catatan produksi dan catatan akuntansi lain untuk mendapatkan biaya yang akurat untuk semua produk. Auditor harus memahami internal control, dan pengujian dilakukan sebagai bagian dari pengujian terhadap perolehan, penjualan dan penggajian. Pengalokasian overhead juga harus dievaluasi.

 

PROSEDUR ANALITIS

Prosedur analitis adalah hal yang penting dalam audit persediaan dan pergudangan, saperti halnya dalam siklus lain. Dalam melakukan prosedur analitis yang menguji hubungan antara saldo akun persediaan dan akun laporan keuangan lainnya. Auditor sering menggunakan informasi non-keuangan untuk menilai kewajaran saldo terkait persediaan. Misalnya, auditor membutuhkan informasi mengenai ukuran dan berat produk persediaan, metode penyimpanannya (rak, tangki, dll) dan kapasitas fasilitas penyimpanan untuk menentukan apakah persediaan yang tercatat konsisten dengan persediaan yang tersimpan. Setelah melakukan pengujian yang benar atas pencatatan akuntansi biaya dan prosedur analitis, auditor memiliki dasar untuk mendesain dan melakukan pengujian perincian saldo persediaan.

Metodologi Desain Pengujian Perincian Saldo

Persediaan jenisnya bervariasi disetiap perusahaan, oleh karena itu pemahaman atas industri dan bisnis klien lebih penting dalam persediaan dibandingkan dalam area lainnya. Beberapa hal pokok yang harus dipertimbangkan auditor antara lain adalah metode penilaian persediaan yang dipilih manajemen, potensi keusangan persediaan, dan risiko tertukarnya barang konsinyasi dengan persediaan milik sendiri.

Auditor pertama kali harus mengenali persediaan klien dengan melakukan pengecekan terhadap fasilitas penyimpanan klien, termasuk area penerimaan barang, penyimpanan, produksi, perencanaan, dan penyimpanan catatan. Pengecekan ini harus dipimpin oleh penyelia yang dapat menjawab pertanyaan mengenai produksi, terutama mengenai perubahan dalam pengendalian internal dan proses lain sejak tahun sebelumnya.

Oleh karena kompleksitas dalam persediaan, maka akan membahas dua aspek pengujian pengendalian untuk perincian saldo, pengamanan fisik dan penetapan harga dan kompilasi.

Pengamatan Fisik Atas Persediaan

PSA 07 (SA 331) sekarang, mensyaratkan auditor untuk memeriksa efektifitas metode klien dalam perhitungan persediaan dan mendapatkan keyakinan dari klien atas kuantitas dan kondisi fisik persediaan. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, auditor harus :

  • Hadir pada saat klien menghitung persediaan untuk menentukan saldo akhir tahun.
  • Mengamati prosedur perhitungan klien.
  • Melakukan tanya jawab kepada klien tentang prosedur perhitungan mereka.
  • Melakukan mengujian terpisah saat perhitungan fisik.

Poin penting dalam persyaratan PSA 07adalah adanya perbedaan antara orang yang melakukan pengamatan atas perhitungan fisik persediaan dan orang yang bertanggungjawab atas perhitungannya. Klien bertanggungjawab untuk menyusun prosedur perhitungan fisik akurat atas penyediaan dan membuat pencatatannya. Auditor bertanggungjawab mengevaluasi dan mengamati prosedur klien termasuk melakukan pengujian perhitungn persediaan dan mengambil kesimpulan apakah persediaan fisik sudah memadai.

Pengendalian Atas Perhitungan Fisik

Terlepas dari metode pencatatan persediaan, klien harus melakukan perhitungan fisik secara periodik atas persediaan, tetapi tidak perlu setiap tahun. Perhitungan fisik dapat dilakukan mendekati tanggal neraca, tanggal interim, atau berbasis siklus sepanjang tahun. Dua pendekatan terakhir dapat dilakukan jika terdapat pengendalian internal memadai atas berkas utama persediaan perpetual.

Auditor perlu memahami pengendalian atas perhitungan fisik persediaan yang dilakukan klien sebelum perhitungan fisik dilakukan.

Keputusan Audit

Keputusan audit atas pengamatan fisik persediaan sama dengan yang dilakukan pada area audit lainnya. Keputusan ini mencangkup dengan prosedur audit, penetapan waktu dilaksanakannya prosedur, penentuan jumlah sampel, dan pemilihan sampel untuk diuji. Tiga keputusan terakhir akan dibahas berikut ini, dengan membahas prosedur audit yang memadai untuk itu.

Penetapan waktu

 Auditor menutuskan apakah perhitungan fisik dapat dilakukan sebelum akhir tahun, terutama dengan dasar akurasi berkas utama persediaan perpetual. Saat klien melakukan perhitungan interim, yang disetujui auditor bila pengendalian internal efektif, auditor pada saat itu melakukan pengamatan atas prhitungan persediaan dan menguji transaksi yang tercatat dalam pencatatan persediaan dari tanggal perhitungan hingga akhir tahun.

Jumlah sampel

Jumlah jenis persediaan yang harus dihitung auditor sering kali sulit ditentukan karena auditor harus berkonsentrasi untuk  mengamati prosedur klien agar memudahkan jumlah sampel dalam pengamatan fisik dapat diambil dari jumlah total jam yang dihabiskan, bukan jumlah jenis persediaan yang dihitung.

Pemilihan sampel

Saat auditor melakukan pengamatan atas perhitungan persediaan, mereka harus berhati-hati dalam :

  • Mengamati perhitungan atas jenis persediaan yang signifikan dan sampel dari jenis persediaan tertentu.
  • Melakukan tanya jawab atas jenis yang mungkin usang atau rusak.
  • Mendiskusikan dengan manajemen alasan tidak dimasukkannya persediaan tertentu.

Pengujian Atas Pengamatan Fisik

Bagian terpenting dalam pengamatan persediaan adalah menentukan apakah perhitungan fisik yang dilakukan sesuai dengan intruksi klien. Agar dapat dilakukan secara efektif, maka auditor perlu hadir pada saat perhitungan dilakukan.

Saat personil yang menghitung tidak menjalankan intruksi, auditor harus menghubungi penyelia personil tersebut agar menyelesaikan persoalan ini atau memodofikasi prosedur pengamatan. Misalnya, jika prosedur mengharuskan satu tim menghitung persediaan dan tim kedua menghitung kembali untuk menguji akurasinya, maka auditor harus menginformasikan keoada manajemen jika kedua tim ini bekerja bersama-sama.

AUDIT PENETAPAN HARGA DAN KOMPILASI

Pengendalian Harga dan Kompilasi

Pengendalian biaya per unit yang terintegrasi dengan produksi memberikan kepastian bahwa klien menggunakan penetapan biaya yang wajar untuk menilai persediaan akhir. Pencatatan biaya standar berguna untuk mengevaluasi kewajaran biaya produksi jika manajemen selalu memperbarui prosedur terkait perubahan dalam produksi dan biaya.

Untuk mencegah persediaan yang sudah usang dimasukkan dalam perhitungan atau lebih saji, klien harus melakukan telaah formal dan pelaporan atas persediaan yang sudah usang, pergerakannya lambat, rusak atau lebih saji, juga lakukan pengendalian internal atas kompilasi persediaan untuk memastikan penghitungan fisik driringkas dengan benar dan penetapan harganya sama dengan pencatatan, dijumlahkan dengan benar, dan dimasukkan dalam berkas utama persediaan perpetual dan akun buku besar terkait dalam jumlah yang benar.

Prosedur Penetapan Harga dan Kompilasi

Prosedur penetapan harga dan kompilasi bertujuan untuk pisah batas yang dilakukan sebagai bagian dari penjualan dan akuisisi. Auditor dapat menggunakan informasi yang diperolah dari klien sebagai kerangka referensi, termasuk deskripsi masing-masing persediaan, jumlah, harga per unit, dan nilai perluasannya. Adapun tujuan audit dan pengujian terkait atas penetapan harga dan kompilasi persediaan,

Penilaian Persediaan

Auditor harus memperhatikan tiga hal, Pertama, metodenya harus sesuai dengan SAK. Kedua, penerapan metode harus konsisten dari tahun ke tahun. Ketiga, biaya persediaan versus harga pasar harus dioertimbangkan. Dalam verifikasi penetapan harga persediaan bergantung pada barang yang dibeli atau diproduksi.

Penetapan Harga atas Persediaan yang Dibeli

Dalam penilaian persediaan yang dibeli, auditor harus menetukan apakah klien menggunakan LIFO, FIFO, rata-rata tertimbang, atau metode penilaian lainnya. Auditor harus menentukan biaya-biaya yang dimasukkan dalam penilaian suatu jenis persediaan. Setelah itu, auditor harus berfokus pada persediaan dengan nilai besar dan produk yang harganya berfluktuasi. Auditor juga harus mendata jenis persediaan untuk diverifikasi atas penetapan harga dan meminta faktur vendor kepada kliaen, lalu memeriksa faktur yang memadai untuk memperhitungkan seluruh akun persediaan atas jenis yang diuji, terutama yang menggunakan metode penilaian FIFO. Terakhir, auditor harus menguji biaya per unit tercatat dalam pencatatan perpetual ke faktur vendor sebagai bagian dari pengujian transaksi siklus dan pembayaran.

Penetapan Harga Persediaan yang Diproduksi

Dalam menetapkan harga persediaan yang diproduksi, auditor harus mempertimbangkan biaya per unit atas bahan baku dan jumlah unit yang diperlukan dalam memproduksi setiap unit output. Auditor juga harus memeriksa faktur vendor atas berkas utama persediaan perpetual, lalu memeriksa spesifikasi rancangan, memeriksa produk yang selesai dibuat, atau menemukan metode sejenis untuk menentukan jumlah unit yang diperlukan untuk membuat satu unit produk.

Dalam hal tenaga kerja langsung, auditor harus melakukan verifikasi biaya per jam atas tenaga kerja dan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk membuat satu unit output. Auditor dapat menetukan jumlah jam kerja untuk memproduksi barang dari spesifikasi rancangan atau sumber serupa.

Dalam overhead manufaktur, auditor harus mengevaluasi metode yang digunakan untuk menguji konsistensi dan kewajaran dan menghitung kembali biaya untuk menentukan apakah biaya overhead sudah benar. Jika klien memiliki pencatatan biaya standar, maka metode yang tepat untuk menentukan penilaian adalah dengan menalaah dan menganalisis selisih.

Biaya Perolehan atau Harga Pasar

Dalam menetukan biaya Harga Perolehan Persediaan, auditor harus mempertimbangkan nilai realisasi bersih yang lebih kecil daripada biaya historis. Lalu, auditor dapat menguji biaya penggantian dengan memeriksa faktur vendor pada periode jeda atau faktur terakhir yang jika tidak terdapat pembeliaan persediaan setelah akhir tahun. Auditor pun harus mempertimbangkan nilai penjualan persediaan dan kemungkinan dampak fluktuasi harga untuk menemukan nilai realisasi, dimana kemungkinan keusangan saat mengevaluasi persediaan.

INTEGRASI PENGUJIAN

Pengujian atas Siklus Akuisisi dan Pembayaran

Auditor melalukan verifikasi pembelian persediaan dan juga mengumpulkan bukti atas akurasi pembelian bahan baku dan seluruh biaya overhead manufaktur, kecuali biaya tenaga kerja. Biaya pembelian mengalir ke harga pokok penjualan atau menjadi bagian terbesar dari persediaan akhir bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi. Untuk audit yang kliennya menggunakan persediaan perpetual, auditor melakukan pengujian ini sebagai bagian dari prosedur pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi yang dilakukan daloam siklus akuisisi dan pembayaran.

Pengujian atas Siklus Penggajian dan Personalia

Auditor melakukan verifikasi pada biaya tenaga kerja langsung yang kondisinya sama diterapkan seperti dalam pembelian. Kebanyakan pencatatan akuntansi biaya untuk biaya tenaga kerja langsung atau tidak langsung dapat diuji sebagai bagian dari audit siklus penggajian dan personalia.

Pengujian atas Silkus Penjualan dan Penagihan

Pengujian audit dalam penyimpanan barang jadi, seperti pengiriman dan pencatatan penjualan, akan terjadi bila silkus penjualan dan penagihan diuji. Saat klien menggunakan pencatatan biaya standar, auditor dapat menguji biaya standar atas harga pokok penjualan bersamaan dengan pengujian penjualan.

Pengujian Akuntansi Biaya

Pengujian atas pencatatan akuntansi biaya dilakukan untuk memverifikasi pengendalian yang memengaruhi persediaan, yang tidak diverifikasi auditor dalam pengujian ketiga silkus sebelumnya. Auditor menguji pengendalian fisik, pemindahan biaya bahan baku ke barang setengah jadi, pemindahan biaya atas penyelesaian barang ke barang jadi, berkas utama persediaan perpetual, dan pencatatan biaya per unit.

Persediaan Fisik, Penetapan Harga dan Kompilasi

Persediaan fisik, penetapan harga, dan kompilasi penting dalam audit persediaan karena salah saji salah satu aktivitas dapat menghasilkan salah saji pada persediaan dan harga pokok penjualan. Dalam audit, harga pokok penjualan merupakan nilai sisa dari persediaan awal ditambah pembelian bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead manufaktur dikurangi persediaan akhir.

Pada pengujian persediaan fisik, auditor sabgat bergantung pada berkas utama persediaan perpetual jika diuji sebagai bagian dari siklus yang telah kita bahas dan telah dianggap andal. Oleh karena itu, auditor dapat mengamati dan menguji penghitungan fisik pada waktu di luar akhit tahun dan menggunakan perpetual agar pencatatan jumlahnya memadai.

Saat auditor menguji pengendalian dan melakukan pengujian substantif atas transaksi dan saldo persediaan terkait, mereka juga mengintegrasikan pengujian yang berhubungan dengan tujuan audit terkait saldo, dengan melakukan pengujian yang memenuhi 4 tujuan penyajian dan pengungkapan. Standar akuntansi mensyaratkan pengungkapan atas metode penilaian persediaan dan informasi persediaan lainnya yang relevan, seperti informasi LIFO cadangan, pada penjelasan tambahan. Auditor harus memperoleh pemahaman atas pengendalian klien sehubungan dengan pengungkapan persediaan yang melakukan pengujian pengendalian tersebut dan pengujian substantif untuk memperoleh bukti memadai bagi keempat tujuan penyajian dan pengungkapan.


Menyelesaikan Pengujian dalam Siklus Akuisisi dan Pembayaran: Verifikasi Akun Tertentu

A. Jenis Akun Lainnya Dalam Siklus Akuisisi Dan Pembayaran
Jenis aset, beban dan utang berbeda untuk masing-masing perusahaan, terutama untuk industri yang bukan ritel, grosir dan manufaktur. Metodelogi yang berkaitan dengan audit akun-akun tersebut sama dengan audit akun-akun lainnya yang dibahas pada bab-bab sebelumnya. Bab terakhir menyajikan telaah pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi untuk siklus akuisisi dan pembayaran, seperti prosedur analitis yang biasa digunakan dan pengujian perincian saldo utang dagang. Dalam bab ini, pembahasan untuk beberapa akun utama dalam siklus ini akan dibahas, yang disebut audit atas:
• Aset tetap (properti dan peralatan)
• Beban duibayar dimuka
• Utang lain-lain
• Akun pendapatan dan beban

B. Audit atas asset tetap (Properti dan peralatan)
Aset tetap (property dan peralatan) adalah asset yang diharapkan memiliki umur lebih dari satu tahun, digunakan dalam bisnis, dan tidak ditujukan untuk dijual kembali. Penggunaan asset tetap dalam pelaksanaan bisnis klien dan ekspektasi umur ekonomis lebih dari satu tahun merupakan karakteristik utama yang membedakan asset tersebut dengan persediaan, beban dibayar dimuka, dan investasi.

Telaah atas peralatan – akun terkait
Pencatatan akuntansi utama dalam akun peralatan manufaktur dan akun asset tetap lainnya umumnya merupakan berkas utama asset tetap. Berkas utama meliputi catatan terperinci atas setiap bagian peralatan dan jenis property lainnya.
Auditor melakukan verifikasi atas peralatan manufaktur secara berbeda dengan akun asset lancar karena tiga alas an berikut:
1. Biasanya terdapat akuisisi peralatan dalam jumlah sedikit pada periode berjalan.
2. Nilai akuisisi biasanya material.
3. Peralatan biasanya disimpan dan dicatat dalam pencatatan akuntansi selama beberapa tahun.

Oleh karena perbadaan tersebut, maka audit peralatan manufaktur menekankan pada verifikasi atas akuisisi periode berjalan, dibandingkan pada saldo akun lanjutan dari periode sebelumnya. Sebagai tambahan, umur ekonmis dari asset yang lebih dari satu tahun ini menimbulkan akun beban depresiasi dan akumulasi depresiasi.
Meskipun pendekatan dalam verifikasi peralatan manufaktur berbeda dengan yang digunakan pada asset biasa, beberapa akun asset diverifikasi dengan cara yang sama. Hal ini termasuk juga pada paten, hak cipta, biaya catalog, dan seluruh akun asset tetap dan peralatan. Dalam audit peralatan manufaktur dan akun terkait, pengujian akan dimudahkan jika dipisah menjadi beberapa kategori:
• Melakukan prosedur analitis
• Melakukan verifikasi akuisisi tahun berjalan
• Melakukan verifikasi penghentian asset tahun berjalan
• Melakukan verifikasi saldo akhir pada akun asset
• Melakukan verifikasi beban depresiasi
• Melakukan verifikasi saldo akhir dalam akumulasi depresiasi

Melakukan prosedur analitis
• Bandingkan beban penyusutan dibagi biaya peralatan manufaktur kotor dengan tahun sebelumnya.
• Bandingkan akumulasi penyusutan dibagi biaya peralatan manufaktur kotor dengan tahun sebelumnya.
• Bandingkan beban perbaikan dan pemeliharaan, beban perlengkapan, beban peralatan kecil tahunan dengan tahun sebelumnya.
• Bandingkan biaya peralatan manufaktur kotor.

Melakukan verifikasi akuisisi tahun berjalan
Perusahaan harus mencatat penambahan pembelian asset tahun berjalan dengan benar karena asset tetap memiliki dampak jangka panjang pada laporan keuangan. Kesalahan dalam mengapitalisasi asset atau mencatat akuisisi dengan jumlah yang tidak benar akan berdampak pada neraca hingga perusahaan menghentikan menggunakan asset tersebut.
Titik awal verifikasi untuk akuisisi tahun berjalan merupakan skedul yang diperoleh dari klien atas seluruh catatan akuisisi dalam buku besar untuk asset tetap selama tahun tersebut. Klien menyediakan informasi tersebut dari berkas utama. Daftar skedul untuk setiap penambahan dilakukan terpisah dan mencakup tanggal akuisisi, vendor, deskripsi, dan catatan apakah barang tersebut baru atau bekas, umur asset untuk penentuan depresiasi, metode depresiasi, dan biayanya.
Tujuan audit terkait saldo:
• Perolehan tahun berjalan pada skedul perolehan cocok dengan jumlah pada berkas induk yang terkait, dan jumlah total cocok dengan buku besar.
• Perolehan tahun berjalan yang tercatat adalah ada
• Perolehan yang ada telah dicatat
• Perolehan tahun berjalan yang tercatat dihitung dengan akurat
• Perolehan tahun berjalan yang tercatat diklasifikasikan dengan tepat
• Verifikasi Pelepasan TPerolehan tahun berjalan dicatat dalam periode yang benar
• Klien memiliki hak kepemilikan dan perolehan tahun berjalan

Melakukan verifikasi penghentian aset tahun berjalan
Transaksi yang mencakup penghentian peralatan manufaktur biasanya mengalami salah saji bila pengendalian internal perusahaan melemah dalam menjalankan metode formal untuk menginformasikan menejemen untuk transaksi penjualan, tukar-tambah, pembatalan, atau pencurian mesin dan peralatan. Tujuan utama auditor dalam verifikasi penjualan, tukar-tambah, atau penghentian asset tetap adalah mendapatkan bukti memadai bahwa seluruh penghentian dicatat dalam jumlah yang benar.
Karena kegagalan untuk membukukan penghentian peralatan pabrik yang tidak lagi digunakan dapat secara signifikan mempengaruhi laporan keuangan, pencarian atas pelepsdsn ysng tidak dibukukan merupakan hal yang sangat penting. Prosedur berikut seringkali digunakan untuk memverifikasi penghentian:
• Menelaah apakah ada aktiva yang baru menggantikan aktiva yang ada.
• Menganalisa keuntungan dan kerugian akibat pelepasan aktiva dan pendapat rupa-rupa dari adanya penerimaan akibat pelepasan aktiva.
• Menelaah modifikasi pabrik dan perubahan lini produk, pajak-pajak property, atau penutupan asuransi atas adanya penghapusan peralatan.
• Tanya jawab dengan manajemen dan pelaksana produksi mengenai kemungkinan pelepasan aktiva.
Bilamana aktiva dijual atau dilepaskan tanpa adanya pertukaran dengan aktiva pengganti, penilaian keakuratan transaksi dapat diverifikasi dengan melakukan pemeriksaan terhadap faktur penjualan dan berkas induk property terkait,
Bilamana pertukaran aktiva untuk penggantian terjadi, auditor hendaknya yakin bahwa aktiva yang baru dikapitalisasi dengan layak dan aktiva yang digantikan dengan layak telah dihapuskan dari catatan, dengan mempertimbangkan nilai buku aktiva yang dipertukarkan dan biaya-biaya penambahan aktiva baru.

Verifikasi saldo akhir akun asset
Dua dari tujuan-tujuan auditor sewaktu mengaudit peralatan manufaktur meliputi penentuan bahwa:
1. Semua peralatan yang dimiliki telah dibukukan.
2. Semua peralatan pisik yang ada dibukukan pada tanggal neraca,
Saat mendesain pengujian audit untuk memenuhi tujuan tersebut, auditor pertama kali harus mempertimbangkan sifat pengendalian internal atas peralatan manufaktur. Pengendalian yang penting harus mencakup pemakaian berkas utama untuk masing-masing asset tetap, pengendalian fisik yang memadai atas asset yang mudah dipindahkan, penggunaan nomor identifikasi untuk setiap asset tetap, dan perhitungan asset tetap secara periodic dan rekonsiliasinya oleh personel akuntansi.

Verifikasi beban depresiasi
Beban depresiasi adalah satu dari sedikit akun beban yang tidak diverifikasi sebagai bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi. Tujuan audit-terkait saldo yang paling penting untuk beban depresiasi adalah akurasi. Dalam menentukan hal tersebut, auditor harus mempertimbangkan empat hal, yaitu:
1. Umur ekonomis untuk akuisisi masa sekarang.
2. Metode depresiasi
3. Estimasi nilai sisa
4. Kebijakan mendepresiasi asset selama tahun akuisisi dan penghentian.
Metode yang berguna untuk mengaudit depresiasi adalah pengujian prosedur analitis atas kewajaran yang dibuat dengan mengalikan asset tetap yang kurang didepresiasi dengan tingkat depresiasi untuk tahun tersebut. Bila pengujian kewajaran tidak dapat dilakukan sepenuhnya, maka pengujian perincian perlu dilakukan. Oleh karena standard akuntansi mensyaratkan adanya penjelasan tambahan sehubungan dengan depresiasi asset tetap, termasuk pengungkapan metode depresiasi dan umur ekonomis atas klasifikasi asset, maka auditor melakukan prosedur untuk mendapatkan bukti bahwa keempat tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan depresiasi telah dipenuhi.

Melakukan Verifikasi saldo akhir dalam Akumulasi depresiasi
Debet atas akumulasi depresiasi secara normal diuji sebagai bagian dari audit penghentian asset dan kreditnya deverifikasi sebagai bagian dari beban depresiasi.

C. Audit Beban Dibayar di Muka
Baban dibaya di muka, tagihan di muka, dan aset tak berwujud adalah aset yang umurnya bervariasi dari hitungan bulan sampai bertahun-tahun. Termasuk di dalamnya adalah:
• Sewa dibayar di muka
• Biaya organisasi
• Pajak dibayar di muka
• Paten
• Asuransi dibayar di muka
• Merek dagang
• Tagihan di muka
• Hak cipta
Dalam beberapa kasus, akun ini nilainya sangat material. Dalam audit tertentu, perusahaan tidak memiliki akun tersebut dalam jumlah besar atau tidak material. Prosedur analitis biasanya dianggap memadai untuk beban dibayar di muka dan aset tak berwujud. Dalam audit tertentu, beberapa aset ini jumlahnya signifikan. Di bagian ini, kita akan membahas beberapa jenis pengendalian internal dan pengujian audit yang biasanya dikaitkan dengan beban dibayar di muka. Dalam diskusi berikut ini, asuransi dibayar di muka digunakan sebagai contoh pembahasan dalam kelompok ini karena:
1. Asuransi dibayar di muka banyak ditemukan dalam audit, bahkan hampir setiap perusahaan memiliki beberapa jenis asuransi.
2. Permasalahan yang biasanya muncul dalam audit asuransi dibayar di muka bila klasifikasinya mirip.
3. Tanggung jawb auditor dalam menelaah cakupan asuransi ini merupakan pertimbangan yang tidak ditemukan atas akun lain dalam kategori ini.

Telaah Asuransi Dibayar di Muka
Figur 18-3 menggambarkan akun yang biasanya digunakan untuk asuransi dibayar di muka dan hubungan antara asuransi dibayar di muka dan siklus akuisisi dan pembayaran dengan mendebet akun asuransi dibayar di muka. Oleh karena sumber pendebetan akun aset adalah jurnal akuisisi, maka pembayaran premi asuransi sebagian telah diuji dalam pengujian pengendalian dan pengujian substantif untuk transaksi akuisisi dan pengeluaran kas.

Pengendalian Internal
Pengendalian internal untuk asuransi dibayar di muka dan biaya asuransi dapat dibagi menjadi tiga kategori: pengendalian akuisisi dan pencatatan asuransi, pengendalian register asuransi, dan pengendalian pencatatan beban asuransi. Pengendalian akuisisi dan pencatatan asuransi merupakan bagian dari siklus akuisisi dan pembayaran. Konsisten dengan prosedur yang didiskusikan dalam siklus tersebut, otorisasi yang tepat untuk kebijakan asuransi baru dan pembayaran premi asuransi merupakan pengendalian penting.
Register asuransi adalah pencatatan kebijakan asuransi dan masa berlaku masing-masing kebijakan. Auditor menggunakan register asuransi untuk mengidentifikasi kebijakan sehubungan dengan akun asuransi dibayar di muka. Jangka waktu dan jumlah pembayaran untuk mengidentifikasi kebijakan dimasukkan dalam register. Oleh karena jangka waktu dan jumlah menjadi dasar penentuan jumlah asuransi dibayar di muka, maka auditor secara independen melakukan verifikasi jangka waktu dan jumlah tersebut ke kebijakan asuransi atau kontrak yang mendasarinya.
Perusahaan kadang-kadang mempunyai jurnal standar bulanan untuk mengklasifikasikan asuransi dibayar di muka sebagai beban asuransi. Jika terdapat jurnal berjumlah material yang diharuskan menyesuaikan saldo asuransi dibayar di muka pada akhir tahun, maka artinya terjadi potensi salah saji dalam pencatatan akuisisi asuransi selama tahun tersebut atau dalam klasifikasi saldo akhir tahun dalam ausransi dibayar di muka.

Pengujian Audit
Melalui audit asuransi dibayar di muka dan beban asuransi, auditor harus selalu berpikir bahwa jumlah dalam beban asuransi adalah nilai sisa (residual). Residual ini berasal dari saldo awal pada asuransi dibayar di muka, pembayara premi selama tahun tersebut dan saldo akhirnya.
Satu-satunya pengujian dalam akun beban yang harus dilakukan adalah prosedur analitis dan pengujian untuk memastikan bahwa seluruh tagihan untuk beban asuransi mencul dari kredit atas asuransi dibayar di muka. oleh karena pembayaran premi diuji sebagai bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi dan prosedur analitis, maka penekanan pada pengujian perincian saldo adalah pada asuransi dibayar di muka.
Dalam audit asuransi dibayar di muka, auditor memiliki sebuah skedul yag diperoleh dari klien atau membuatnya sendiri yang berisi tentang kebijakan tertentu. Misalnya, skedul tersebut memasukkan informasi tentang kebijakan asuransi, nomor polis, cakupan suransi untuk setiap polis, jumlah premi, periode premi, beban asuransi untuk tahun tersebut dan asuransi dibayar di muka pada akhir tahun.
Saldo awal dan saldo akhir asuransi dibayar di muka biasanya tidak material dan hanya terdapat sedikit transaksi didebet dan dikredit atas saldo tersebut selama tahun berjalan, sebagian besar berjumlah kecil dan mudah dipahami. Oleh karena itu, auditor hanya perlu menggunakan sedikit waktunya dalam melakukan verifikasi saldo atau transaksi. Jika auditor memutuskan untuk tidak melakukan verifikasi perincian saldo tersebut, maka prosedur analitis menjadi penting untuk mengidentifikasi potensi salah saji material. Auditor biasanya melakukan prosedur analitis ini untuk asuransi dibayar di muka dan biaya asuransi:
• Membandingkan total asuransi dibayar di muka dan beban asuransi dengan tahun-tahun sebelumnya.
• Membandingkan rasio asuransi dibayar di muka ke beban asuransi dan membandingkannya dengan tahun-tahun sebelumnya.
• Membandingkan masing-masing cakupan polis asuransi pada skedul asuransi yang diperoleh dari klien dengan skedul tahun sebelumnya sebagai pengujia pengurangan kebijakan tertentu atau perusahaan cakupan asuransi.
• Membandingkan perhitungan saldo asuransi dibayar di muka untuk tahun berjalan berdasarkan masing-masing polis dengan tahun sebelumnya sebagai pengujian atas kesalahan perhitungan.
• Menelaan kewajaran cakupan asuransi pada skedul asuransi dibayar di muka bersama pegawai klien atau pegawai asuransi. Auditor tidak dapat menjadi ahl asuransi, tetapi pemahaman auditor atas akuntansi dan penilaian aset diperlukan untuk memastikan bahwa perusahaan tidak kurang diasuransikan.
Dalam banyak audit, tidak terdapat tambahan prosedur substantif yang diperlukan kecuali jika hasil penilaian risiko pengendalian mengindikasikan kemungkinan besar terjadi salah saji material. Prosedur audit lainnya, yang akan dibahas berikutnya, perlu dilakukan hanya jika ada alasan khusus. Pembahasan untuk pengujian tersebut menggunakan tujuan audit-terkait saldo untuk melakukan pengujian perincian saldo aset (nilai realisasi tidak diterapkan).

Polis Auransi Terdapat dalam Skedul Asuransi Dibayar di Muka dan Polis Asuransi yang Ada Telah Didaftar (Keberadaan dan Kelengkapan)
Pengujian atas keberadaan dan penghapusan polis asuransi dari skedul klien dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Menguji sampel faktur asuransi dan polis sebagai perbandingan dengan skedul.
2. Melakukan konfirmasi atas informasi asuransi dari agen asuransi perusahaan. Auditor biasanya lebih senang mengirimkan konfirmasi kepada agen asuransi klien karena pedekatan ini biasanya tidak memakan waktu lama dibandingkan dengan pengujian bukti transaksi dan konfirmasi ini dapat menghasilkan verifikasi 100 persen.

Klien Memiliki Hak atas Seluruh Polis Asuransi dalam Skedul Asuransi Dibayar di Muka (Hak)
Pihak yang akan menerima keuntungan bila klaim asuransi diajukan dinyatakan sebagai pihak yang memiliki hak. Biasanya, penerima klaim yang tertulis dalam polis adalah klien, tetapi apabila ada hipotek atau kewajiban lain, maka klaim asuransi bisa saja terutang kepada kreditur. Telaah atas polis asuransi yang klaimnya dimiliki pihak lain selain klien merupakan pengujian yang kuat atas tidak tercatatnya utang dan aset yang dijaminkan.

Jumlah Dibayat di Muka pada Skedul adalah Akurat dan Totalnya Ditambahkan dengan Benar dan Sesuai dengan Buku Besar (Akurasi dan Kecocokan Perincian)
Pengujian audit untuk melakukan verifikasi terhadap akurasi asuransi dibayar di muka juga meliputi verifikasi jumlah premi asuransi, lama periode asuransi, dan alokasi premi atas asuransi yang belum jatuh tempo. Jumlah premi atas polis tertentu dan masa berlakunya dapat diverifikasi bersamaan dengan memeriksa faktur premi atau konfirmasi dari agen asuransi. Setelah keduanya diverifikasi, perhitungan klien atas asuransi yang belum jatuh tempo dapat diuji melalui perhitungan ulang. Skedul asuransi dibayar di muka dapat dijumlahkan dan totalnya ditelusuri ke buku besar untuk melengkapi kecocokan perinciannya.

Beban Asuransi Terkait dengan Asuransi Dibayar di Muka Diklasifikasikan dengan Benar (Klasifikasi)
Klasifikasi pendebetan yang benar atas akun beban asuransi yang berbeda perlu ditelaah sebagai pengujian laporan laba/rugi. Dalam beberapa kasus, akun beban yang benar jelas terlihat karena jenis asuransinya, seperti polis untuk mengasuransikan sebuah peralatan. Dalam kasus lain, alokasi perlu dilakukan. Misalnya, asuransi kebakaran atas bangunan memerlukan alokasi ke beberapa akun yang berbeda, termasuk biaya-biaya tak langsung atas manufaktur (manufacturing overhead). Pembebanan pada akun yang benar dan konsistensi dengan tahun-tahun sebelumnya merupakan pertimbangan utama dalam evaluasi klasifikasi.

Transaksi Asuransi Dicatat pada Periode yang Benar (Pisah Batas)
Pisah batas untuk akuisisi asuransi biasanya bukan masalah penting karena jumlah polis tidak banyak dan jumlahnya tidak material. Jika auditor mengecek pisah batas untuk akuisisi asuransi, maka mereka melakukannya sebagai bagian dari pengujian pisah batas untuk utang dagang.

D. Audit Utang Akrual
Kategori ketiga dalam siklus akuisisi dari pembayaran adalah utang akrual, yaitu estimasi kewajiban yang belum dibayarkan atas jasa atau keuntungan yang telah diterima sebelum tanggal neraca. Banyak utang akrual merupakan utang masa depan untuk jasa yang belum dibayarkan, tetapi sebenarnya belum berutang pada tanggal neraca. Mislanya, keuntungan dari menyewakan aset yang terutang selama tahun berjalan. Oleh karenanya, pada tanggal neraca, porsi tertentu dari total biaya sewa yang belum dibayarkan harus menjadi akrual. Utang sejenis lainnya adalah :
1. Utang Gaji
2. Pajak atas Utang Gaji
3. Bonus Karyawan Akrual
4. Komisi Akrual
5. Honor Profesional Akrual
6. Sewa Akrual
7. Utang Bunga
Jenis akrual yang kedua adalah estimasi jumlah kewajiban yang jatuh temponya tidak pasti, seperti kewajiban pajak penghasilan daerah dimana kemungkinan jumlah yang tercantum dalam pengembalian pajak akan berubah setelah petugas pajak mengaudit pengembalian tersebut. Biaya garansi akrual dan biaya pensiun akrual juga merupakan akrual yang sama.
Verifikasi beban akrual bervariasi bergantung pada sifat akrual dan kondisi klien. Pada kebanyakan audit, akrual menghabiskan waktu cukup banyak. Dalam kondisi lain, akun-akun tertentu seperti pajak penghasilan akrual, biaya garansi, dan biaya pensiun kadang-kadang material dan memerlukan pertimbangan audit. Pembahasan berikut mengenai pajak properti akrual merupakan contoh audit yang akrual.

Audit atas Pajak Properti Akrual
Sumber pendebetan adalah jurnal pengeluaran kas, maka pembayaran pajak properti sudah diuji melalui pengujian transaksi siklus akuisisi dan pembayaran. Dengan biaya asuransi, saldo biaya pajak properti merupakan jumlah residual yang dihasilkan dari saldo awal dan saldo akhir dalam pajak properti akrual dan pembayaran pajak properti. Oleh karena itu, penekanan dalam pengujian harus dilakukan atas saldo akhir utang dan pemberian pajak properti. Saat auditor melakukan verifikasi pajak properti akrual, keseluruhan delapan tujuan audit terkait saldo adalah relevan kecuali nilai realisasi. Dua hal di bawah ini merupakan hal penting, yaitu :
1. Properti yang diperhitungkan pajak akrualnya berada dalam skedul akrual. Kesalahan salam memasukkan properti dimana pajak seharusnya dihitung akrual akan terjadi kurang saji pada utang pajak properti (kelengkapan). Salah saji material dapat terjadi, misalnya jika pajak properti tidak dibayarkan sebelum tanggal neraca dan tidak termasuk sebagai pajak properti akrual.
2. pajak properti akrual dicatat secara akurat. Auditor perlu memperhatikan konsistensi perlakuan akrual dari tahun ke tahun (akurasi).
Auditor menggunakan dua pengujian utama yang memasukkan seluruh akrual. Auditor melakukan verifikasi akrual bersamaan dengan audit pembayaran pajak properti tahun berjalan. Dalam audit, hanya terdapat sedikit pembayaran pajak properti, tetapi setiap pembayaran sering kali material, sehingga bisa diverifikasi satu sama lain. Auditor juga membandingkan akrual dengan tahun-tahun sebelumnya.
Auditor biasanya memulai pekerjaannya dengan membuat skedul pembayaran pajak properti dari klien dan membandingkan setiap pembayaran dengan skedul tahun sebelumnya untuk menentukan apakah seluruh pembayaran dimasukkan dalam skedul klien. Skedul aset tetap juga harus diperiksa bila terjadi penambahan dan penghentisn aset yang bisa memengaruhi pajak properti akrual. Seluruh properti dipengaruhi oleh aturan pajak properti lokal seharusnya termasuk dalam skedul, bahkan jika pembayaran pajak tidak dilakukan.
Setelah auditor menemukan bahwa seluruh pajak properti telah dimasukkan dalam skedul klien, mereka mengevaluasi kewajaran pajak properti pada setiap properti yang digunakan klien untuk mengestimasi akrualnya. Dalam banyak hal, jumlah total sudah disusun oleh otoritas pajak dan dikirimkan kepada klien, sehingga memungkinkan untuk diverifikasi jumlahnya. Hal ini diperoleh dengan membandingkan jumlah dalam skedul denggan tagihan pajak. Dalam kasus lain, total pembayaran tahun berikutnya harus disesuaikan dengan peningkatan tarif pajak properti.
Auditor dapat melakukan verifikasi pajak properti akrual dengan menghitung kembali porsi total pajak yang diaplikasikan pada tahun berjalan untuk setiap properti. Bahan pertimbangan utama adalah dengan menggunakan porsi yang sama untuk setiap pembayaran pajak atas akrual yang digunakan dalam tahun sebelumnya, kecuali jika ada kondisi perubahan khusus. Setelah pajak properti akrual dan beban pajak properti untuk setiap properti sudah dihitung kembali, total harus ditambahkan dan dibandingkan dengan buku besar. Dalam banyak kasus, pajak properti dibebankan ke lebih dari satu akun. Dalam kasus ini, auditor harus menguji benar tidaknya klasifikasi dengan mengevaluasi apakah sudah dibebankan dengan jumlah yang benar.

E. Audit Akun Pendapatan dan Beban
Untuk menentukan apakah akun pendapatan dan beban dalam laporan keuangan sudah disajikan dengan wajar sesuai GAAP, Auditor harus mengecek apakah masing-masing dari total pendapatan dan beban sudah dimasukkan dalam laporan laba/rugi dan laba bersih tanpa salah saji material.
Dua konsep berikut dalam audit akun pendapatan dan beban merupakan hal penting dalam mempertimbangkan tujuan laporan laba/rugi:
1. Kesesuaian antara periode pendapatan dan beban diperlukan untuk menentukan hasil yang benar.
2. Penerapan prinsip akuntansi yang konsisten dalam beberapa periode penting untuk perbandingan.
Kedua konsep tersebut harus diterapkan dalam pencatatan masing-masing transaksi dan penggabungan akun buku besar dalam penyajian laporan.

Pendekatan Audit atas Akun Pendapatan dan Beban
Audit akun pendapatan dan beban langsung terkait dengan neraca dan bukan bagian terpisah dari proses audit. Audit akun pendapatan dan beban berkaitan dengan audit pada bagian lain. Bagian dari audit yang langsung memengaruhi akun-akun ini adalah:
• Prosedur Analitis.
• Pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi.
• Pengujian perincian saldo.

Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi
Baik pengujian pengendalian maupun pengujian substantif atas transaksi berdampak simultan terhadap verifikasi akun neraca dan laporan laba/rugi. Sebaliknya, pengendalian dan salah saji yang tidak memadai dapat ditemukan melalui pengujian pengendelian dan pengujian substantif atas trasaksi dan mengindikasikan kemungkinan salah saji baik pada laopran laba/rugi maupun neraca.
Tujuan terpenting dalam melakukan verifikasi akun laporan laba/rugi dalam setiap siklus transaksi adalah untuk mendapatkan pemahaman mengenai pengendalian internal dan pengujian terkait pengendalian dan substantive atas transaksi.

Pengujian Perincian Saldo Akun-Analisis Beban
Auditor harus menganalisis jumlah yang termasuk dalam akun laporan laba/rugi meskipun pengujian telah dilakukan. Analisis akun beban melibatkan penyelidikan auditor terhadap dokumen pendukung untuk masing-masing transaksi dan perincian atas total akun beban Jenis dokumen tersebut sama dengan yang digunakan untuk memeriksa transaksi sebagai bagian dari pengujian transaksi akuisisi, yaitu terdiri atas faktur, laporan penerimaan, pesanan pembelian, dan kontrak.
Dalam anlisis beban dan akun laporan laba/rugi lainnya, auditor melakukan verifikasi transaksi dalam akun yang spesifik untuk menentukan apakah transaksi tersebut benar, diklasifikasikan dengan benar, dan dicatat secara akurat.

Pengujian Perincian Saldo-Alokasi
Beberapa akun beban dihsilkan dari alokasi atau akuntansi, bukan transaksi riil. Contohnya adalah beban depresiasi, deplesi, dan amortisasi hak cipta dan biaya catalog. Alokasi biaya overhead manufaktur antara persediaan dan harga pokok penjualan adalah contoh jenis lain dari alokasi yang memengaruhi beban. Jika klien salah dalam mengikuti GAAP atau salah menghitung alokasi, maka laporan keuangan bisa salah saji secara material.
Dua prosedur audit terpenting dalam audit alokasi adalah pengujian untuk keseluruhan kewajaran dengan prosedur analitis dan perhitungan kembali atas hasil perhitungan klien. Auditor biasanya melakukan penh=gujian tersebut sebagai bagian dari audit aset dan utang terkait. Hal ini meliputi verifikasi beban depresiasi sebagai bagian dari audit asset tetap. Pengujian amortisasi sebagai bagian dari verifikasi paten atau penghentian yang lama, dan verifikasi alokasi antara persediaan dan harga pokok penjualan sebagai bagian dari audit persediaan.